Seminar Nasional Alkali Contest HMJ Kimia Bahas Perkembangan Teknologi dalam Industri Kimia

Facebook
Twitter
WhatsApp
Pemaparan salah satu pemateri membahas masa depan industri makanan yang diselenggarakan HMJ Kimia di Auditorium Kampus II UIN Alauddin, Senin, (22/9/2025). | Foto: Syahraty Ridhayah S (Magang).

Wasilah — Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Kimia UIN Alauddin Makassar menyelenggarakan Seminar Nasional Alkali Contest 2025 dengan tema “Empowering Scientific Innovation through Chemistry and Technology For A Smarter WoFor,” di Auditorium Kampus II UIN Alauddin, Senin, (22/9/2025).

Kegiatan ini menghadirkan tiga pemateri yakni, Research Material Engineering, Universitas Indonesia, Agrin Febrian Pradana, Founder Dialog Mindset Indonesia, Sahwa Ainul Magfirah serta Quality Control PT Megah Putra Sejahtera, Irwan.

Pemateri pertama, Research Material Engineering Universitas Indonesia, Agrin Febrian Pradana menyoroti pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dalam riset kimia. Menurutnya, AI mampu memprediksi hingga 32 ribu senyawa melalui bantuan molecular dynamics, sehingga penelitian menjadi lebih efisien.

“Dengan integrasi AI, ke depan kita bisa mengeksplorasi penemuan-penemuan baru lebih luas lagi,” ucapnya.

Selanjutnya, pemateri dari Quality Control PT Megah Putra Sejahtera, Irwan memaparkan inovasi kimia dan teknologi dalam industri makanan. Ia menjelaskan fungsi bahan tambahan pangan seperti pewarna, perasa, hingga antioksidan yang diawasi ketat oleh lembaga berwenang.

“Berbagai teknologiseperti metode pengawetan dengan tekanan tinggi, plasma listrik, serta pemanfaatan enzim untuk menghasilkan tekstur mie yang sesuai standar,” katanya.

Irwan menambahkan, perkeembangan industri makanan belakangan mulai beralih menerapkan konsep green chemistry. Seperti limbah cair yang diolah dengan bakteri dari kotoran sapi yang diberi molase. Atau cangkang kemiri, kelapa sawit, dan kayu yang dimanfaatkan sebagai energi alternatif pengganti batubara.

“Industri pangan ke depan menghadapi tantangan, mulai dari tren pangan fungsional hingga tuntutan sertifikasi halal dan SNI,” jelasnya.

Pemateri ketiga, Founder Dialog Mindset Indonesia, Sahwa Ainul Maghfirah membahas peran psikologi dalam mendukung inovasi sains. Ia mencontohkan perkembangan skincare sebagai wujud keterpaduan kimia, teknologi, dan psikologi.

“Kimia adalah jantung inovasi, teknologi ibarat akselerator, sedangkan psikologi menjadi pengarah dan pemakna,” tuturnya.

Ia juga menekankan pentingnya aktualisasi diri agar setiap individu dapat menjadi versi terbaik dari dirinya.

Penulis: Syahraty Ridhayah S (Magang)
Editor: Hardiyanti

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami