Festival Agama HMPS SAA, Perkuat Toleransi Antar Umat Beragama

Facebook
Twitter
WhatsApp
Persembahan barongsai komunitas agama Buddha pada Festival Agama-Agama HMPS SAA di pelataran FUFP, Kamis (23/11/2023). | Foto: Washilah-Rosdiana (Magang).

Washilah – Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Studi Agama-Agama (SAA) Fakultas Ushuluddin Filsafat dan Politik (FUFP) UIN Alauddin Makassar gelar Festival Agama-Agama 2023 dengan tajuk “Harmoni dalam Keberagaman di Bawah Payung Kebersamaan” di pelataran FUFP, Kamis (23/11/2023).

Kegiatan ini akan dilaksanakan selama 3 hari, mulai 23 November hingga 25 November 2023. Adapun rangkaian acara pada hari pertama yakni pembukaan dan diskusi lintas iman, hari kedua penampilan dan persembahan mahasiswa Prodi SAA, dan hari ketiga talkshow lintas iman sekaligus penutupan.

Festival ini dibuka dengan persembahan barongsai dari komunitas agama Buddha dan marawis dari komunitas agama islam.

Ketua HMPS SAA, Yan Lita Mahaputty menyampaikan tema yang diangkat sangat tepat untuk situasi negara kesatuan Republik Indonesia yang kaya akan ragam suku, agama dan budayanya.

“Saya kira dengan hubungan yang terbina dengan baik dapat mencegah terjadinya konflik yang akan terjadi di masa mendatang, maka penting bagi kita untuk memupuk persaudaraan di negara kesatuan ini,” ungkapnya.

Ia juga menyebut tujuan festival ini untuk memperkuat hubungan dan toleransi antara sesama lintas iman agar tali silaturahmi tidak terputus.

Sementara itu, Ketua Prodi SAA, Syamsul Arif Galib dalam sambutannya mengapresiasi hasil kerja pengurus HMPS dan para panitia yang telah berjibaku membuat acara berjalan dengan sukses.

“Saya sangat bersyukur dan berterima kasih melihat semangat adik-adik HMPS yang begitu hebatnya menggalang sponsor dan dana dalam kegiatan ini, serta telah menghadirkan kawan-kawan dari lintas agama,” ujarnya.

Di sela-sela sambutannya, Dekan FUFP, Dr Muhaimin Latief berharap festival ini dapat menjadi tradisi baru dalam rangka penguatan dan peningkatan Prodi SAA.

“Kegiatan ini sangat spesial dan merupakan sejarah baru khususnya di prodi SAA, semoga kegiatan ini dapat menjadi tradisi dan membuat atmosfer baru dalam peningkatan prodi dan HMPS,” tuturnya.

Terakhir, ia berharap kegiatan ini bukan sekadar seremonial belaka, namun dapat menjadi role model bagi mahasiswa.

“Kegiatan ini harus menjadi role model yakni prinsip kebersamaan yang diramu dengan payung keberagaman yang kita miliki, karena kebersamaan itu diramu dan perbedaan adalah sebuah keniscayaan,” tutupnya.

Penulis: Rosdiana (Magang)
Editor: Nabila Rayhan

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami