Bertahan di Tengah Pandemi

Facebook
Twitter
WhatsApp
Dok. Pribadi : Hasni Daeng Kebo (Bunda Adab).

Washilah – Sejak Pandemi Covid-19 merebak, ekonomi menjadi masalah pelik hampir setiap orang. Tidak terkecuali bagi para Pedagang di Kampus II UIN Alauddin. Saat kampus memberlakukan pembatasan aktivitas dan menerapkan kuliah jarak jauh, di saat bersamaan pedagang kehilangan sumber mata pencaharian.

Bunda Adab, begitu orang mengenalnya. Salah satu pedagang yang terpaksa menelan pil pahit atas kondisi ini. Ia merupakan Pedagang Kantin di salah satu Kafetaria yang ada di Kampus Peradaban.

“Kaftar depan Perpus”, begitu para mahasiswa menyebut Kafetaria yang berada tepat di depan Perpustakaan Umum. Kafetaria itu terdiri dari tiga lantai. Lantai pertama, kedua, hingga tiga berjejer beberapa kantin dengan ukuran masing-masing 5×2 meter. Kantin Bunda Adab terletak di lantai satu. Di kantin yang berukuran 5X2 meter inilah Bunda menggantungkan hidupnya.

Pada 22 maret 2021, di tempat kerjanya, Bunda Adab menceritakan kisahnya di masa pacelik ini.

Nama lengkapnya Hasni Daeng Kebo, panggilan ‘Bunda Adab’ didapat dari pelangggannya yang mayoritas Mahasiswa Fakultas Adab dan Humaniora (FAH). Kedekatannya dengan Mahasiswa FAH itu menjadi musabab dari papan pengenal kantinnya yang bertuliskan ‘Bunda Adab’. Baginya, antara pelanggan dan dirinya bukan sekadar hubungan penjual dan pembeli, bukan sekadar transaksi uang dan barang. Melebihi dari itu, Ibu dua anak ini menganggap pelanggannya (Mahasiswa) sebagai anak di kampus. “Iya nak, kaya keluargami,” ucapnya.

Hidup harus terus berlanjut, sementara kantin sebagai satu-satunya tempat menggantungkan hidup harus ditutup. Mulanya kampus ditutup selama 14 hari, lalu kembali diperpanjang 14 hari, setelah itu tidak ada lagi kepastian kapan akan dibuka. Di masa krisis itu, di tengah ketidakpastian, sebagai orang tua tunggal, adalah bunuh diri jika tetap diam dan masih berharap kampus agar segera dibuka. Demi menyambung hidup, Bunda Adab berjualan makanan di Jalan H.M. Yasin Limpo. Jalan Poros Kampus II UIN Alauddin Makassar.

“Masih ada itu Warung Bunda Adab, ada di dekat kampus. Apa mau namakan Adekmu kalau saya tidak menjual,” ungkapnya lirih.

Wanita kelahiran 1976 ini menggan[1]tungkan hidupnya dengan berjualan di Kampus Peradaban sejak tahun 2010. Sudah 10 tahun sebelum Pandemi memaksanya berhenti pada maret 2020 silam.

Saat ini, anak pertamanya yang masih berkuliah dengan sistem Dalam Jaringan (Daring) menyempatkan menjaga etalase tempat dagangannya dijajakan, sementara itu ia bekerja sebagai karyawan di salah satu Rumah Makan Sop Saodara yang berada di sekitaran Samata, Gowa.

Kehidupan benar-benar berubah saat pandemi melanda dan kampus harus ditutup, berjualan di kantin kampus dan di luar kampus sungguh berbeda. Pendapatan menurun drastis, sementara anak pertamanya yang saat ini duduk di bangku kuliah harus diperhadapkan dengan uang kuliah yang tidak murah.

“Aduhhh, Janganmi bilang, dulu itu kalau dibilang uang kuliahnya Adekmu dua juta kayak membalikkan telapak tanganji, tapi sekarang, huhh. Jangankan Hasni Daeng Kebo Pemilik Warung “Bunda Adab” dua juta, yang dua ratus ribu saja susah sekali”.

Suasana warung cukup ramai. Suara percakapan dari satu meja ke meja yang lain ribut memenuhi ruangan, dengan disoroti lampu yang menggantung di langit-langit warung, ditemani raut wajah yang resah, Bunda menceritakan dua karyawannya semasa ia menjual di Kantin Kampus.

Daeng Nurung dan Daeng Ranne, dua karyawan yang menemaninya berjualan di kantin hingga masa ia harus terpaksa berhenti berjualan. Daeng Nurung dan Daeng Ranne bahkan enggan mencari pekerjaan pasca Bunda Adab tidak berjualan lagi di kantin. Alasannya sederhana, karena nyaman. “Terlanjur nasukama,” ujar Bunda Adab. Walau begitu, Bunda Adab yang sadar akan ketidakpastian kapan aktivitas kampus kembali normal menyampaikan kepada dua karyawannya agar tidak usah menunggu. “Tidak bisaka janjikanki kapan buka Kantin Kampus, jadi cari meki dulu kerja lain,” kata Bunda Adab mengulang ucapannya kepada kedua Karyawannya.

Sebenarnya, walaupun kampus kembali buka, menurut pengakuannya, Bunda Adab belum tentu akan kembali berjualan di kampus. Hal ini dilatarbelakangi kebijakan Pusat Pengembangan Bisnis (P2B) sebagai pihak berwenang yang membawahi setiap aktivitas bisnis di UIN Alauddin Makasssar telah menaikkan sewa kantin dari sebelumnya Rp.4.000.000/Rp.6.000.000 menjadi Rp.15.000.000. Hal itu dinilainya tidak masuk akal. “Dibilang kejam corona, lebih kejam lagi P2B. Angkat tanganka kalau 15 Juta sewa kantin, tidak bisaka”.

Menurut pengakuan Bunda, pelanggan yang sudah dianggap sebagai keluarga dan anaknya sendiri. Mahasiswa Fakultas Adab dan Humaniora (FAH). Melalui Askar Nur, Mantan Ketua Dema Universitas Periode 2017, Wawan Harun, Mantan Ketua Dewan Eksektif Mahasiswa (Dema) FAH 2020, dan Uchi Ketua Dema FAH Periode 2021 mengaku siap menalangi sewa kantin jika suatu ketika Bunda Adab akan kembali berjualan di kampus.

Di samping hal-hal yang memberatkan untuk menyewa tempat di kantin kampus, Bunda tetap bersyukur walaupun pendapatannya tidak sebanyak dulu dan pembelinya tidak seramai dulu. Bunda berharap, pandemi segera berakhir dan semuanya segera normal kembali.

Tulisan ini telah rilis di tabloid Washilah edisi 114

 

Penulis : Arya Nur Prianugraha, Lismardiana Reski, Ai Shintya Maulidia (Magang)

Editor : Ulfa Rizkia Apriliyani

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami