Corona dan Keluhan Kuliah Online

Facebook
Twitter
WhatsApp
Ilustrasi

Washilah – Sejak terbitnya surat edaran Rektor UIN Alauddin Makassar terkait upaya mencegah penyebaran infeksi Covid-19 di lingkungan kampus dan menghimbau agar berjalannya kuliah dengan dilaksanakan cara online (Daring) menemui keluhan dari beberapa mahasiswa.

Dikutip dari BBC.COM pada Tanggal 14/03/2020 Juru bicara pemerintah untuk penanganan virus corona, Achmad Yurianto, mengatakan virus corona terpantau sudah menyebar ke seluruh daerah di Indonesia.

Dengan adanya virus tersebut menjadikan Kementrian Agama Republik indonesia mengeluarkan surat edaran Nomor 13 tahun 2020 dan ditindaklanjuti oleh Rektor UIN Alauddin melalui surat edaran Nomor B 809 Tahun 2020 dalam salah satu poinnya mengganti proses kuliah tatap muka menjadi kuliah online menggunakan fasilitas teknologi infomasi yang ada.

Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) Firdaus Muhammad, mengatakan surat edaran Rektor bukan meliburkan tapi sistem kuliah fokus via online. Sebagian besar dosen memakai aplikasi google clasroom atau pakai lentera yang dimodifikasi UIN. Sistem ini efektif dan manfaatnya mahasiswa lebih interaktif. Meski begitu diakui tidak semua dosen mahir memanfaatkannya sehingga pimpinan massif sosialisasi,” tulisnya saat dihubungi Via WhatsApp.

Ia juga berharap melalui ketua kelas pihaknya bisa mensosialisasi cara menguasai sistem kuliah online, “mahasiswa melalui ketua kelas menguasai sistem online agar memudahkan proses pembelajaran yang lebih inovatif,” tutupnya.

Pada hari pertama dijalankannya kuliah online ini Hampir seluruh proses belajar mengajar dilakukan dengan cara online menggunakan aplikasi Lentera, Classroom, dan Whatssapp Grup. Proses belajar mengajar ini berjalan massif di berbagai jurusan yang ada di UIN Alauddin Makassar.

Pada Senin, 18 Maret 2020 suasana Kampus II UIN Alauddin Makassar cukup ramai tetapi tidak seperti hari perkuliahan biasanya sebelum ada surat edaran dari Rektor menanggapi situasi penyebaran virus Covid-19.

Wahyu salah satu mahasiswa Jurusan Hukum Tata Negara (HTN) Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) mengeluhkan perkuliahan online karena kurang efektif, karena kadang dosen tidak memperhatikan waktu atau lewat dari SKS yang ditetapkan dijadwal. Selain itu ia menganggap proses belajar mengajar tidak ada tekanan misalnya dalam menjawab pertanyaan yang diajukan bahkan akan dijawab dengan cara membuka google.

Hari ini Senin 18 Maret 2020 Wahyu dan kawan-kawannya di Hukum Tata Negara kelas C 2019 menjalankan kuliah online perdana dua SKS dengan menggunakan WhatsApp grup. Proses belajar mengajar itu ia lakukan di kantin umum sembari menghisap rokok dan sesekali menjawab pertanyaan yang dilontarkan teman sekelasnya dalam diskusi Grup WhatsApp nya.

Berbeda dengan Wahyu yang kuliah menggunakan WhatsApp grup, Ulfa Rizkia Apriliyani mahasiswa semester IV Jurusan Jurnalistik Kelas B 2018 FDK pada hari pertama kuliah online ini berkuliah menggunakan aplikasi google Classroom.

Ia mengaku perkuliahan online memiliki kelebihan dan kekurangan tersendiri, pada saat berjalannya kuliah online di google Classroom salah seorang dari teman sekelasnya mengeluh karena mengalami gangguan jaringan lalu tak mengikuti perkuliahan dan berakibat tidak mendapatkan nilai.

Terkait kelebihan dari kuliah online ini ia menganggap beberapa dari teman sekelasnya yang sebelumnya sering malu berbicara dalam kelas tidak lagi malu berbicara melalui perkuliahan online.

Hampir sama dengan keluhan Ulfa Nurhidaya mahasiswa Ilmu Komunikasi 2018 terkendala dengan kuliah online karena jaringan di daerah belakang kampus tempat ia tinggal sangat sulit di akses.

Rahmawati Haruna selaku Dosen sekaligus Sekretaris Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) menilai sulit jika dibandingkan antara efektifitas kuliah online dan offline karena tidak semua peserta siap menerima kuliah online.

“Pastinya beda antara online dan offline pertama dari aspek komunikatifnya tidak semua mahasiswa bisa mengekpresikan ide dan gagasannya secara online. Tentunya tidak ada yang lebih bagus dari kuliah di kelas,” tuturnya.

Saat ditanya mengenai kendala proses belajar mengajar secara online ia menilai aplikasi yang digunakan belum semua peserta tahu menggunakannya.

“Kendalannya itu banyak mahasiswa yang susah pake aplikasi Lentera, dan juga tidak semua dosen pandai menggunakan teknologi dan mahasiswa ada yang kendala di classroom yang lupa diperbarui. Kampus tidak bisa banyak memberikan dukungan perangkat karena kita harus tetap di rumah, tinggal dosen bagaimana bisa memaksimalkan membawa kuliah online. Semisalnya kampus sendiri sekalipun WiFi misalnya mau digunakan sulit karena kita menghindari ruang publik,” tutupnya.

Lalu apa itu virus corona COVID-19? Menurut situs WHO, virus corona adalah keluarga besar virus yang dapat menyebabkan penyakit pada hewan atau manusia. Pada manusia corona diketahui menyebabkan infeksi pernafasan mulai dari flu biasa hingga penyakit yang lebih parah seperti Middle East Respiratory Syndrome (MERS), dan Severe Acute Respiratory Syndrme (SARS).

Virus corona paling terbaru yang ditemukan adalah virus corona COVID-19. Virus ini termasuk penyakit menular dan baru ditemukan di Wuhan, China pada Desember 2019 yang kemudian menjadi wabah.

Gejala COVID-19 yang paling umum adalah demam, kelelahan, dan batuk kering. Beberapa pasien mungkin mengalami sakit dan nyeri, hidung tersumbat, pilek, sakit tenggorokan atau diare. Gejala-gejala ini bersifat ringan dan terjadi secara bertahap.

Namun, beberapa orang yang terinfeksi tetapi tidak menunjukkan gejala apapun dan tak merasa tidak enak badan. Kebanyakan orang (sekitar 80%) pulih dari penyakit tanpa perlu perawatan khusus. Sekitar satu dari setiap enam orang yang mendapatkan COVID-19 sakit parah dan mengalami kesulitan bernapas.

Orang yang lebih tua, dan mereka yang memiliki masalah medis seperti tekanan darah tinggi, masalah jantung atau diabetes, lebih mungkin terkena penyakit serius. Orang dengan demam, batuk dan kesulitan bernapas harus mendapat perhatian medis.

Menurut WHO, virus corona COVID-19 menyebar orang ke orang melalui tetesan kecil dari hidung atau mulut yang menyebar ketika seseorang batuk atau menghembuskan nafas. Tetesan ini kemudian jatuh ke benda yang disentuh oleh orang lain.

Orang tersebut kemudian menyentuh mata, hidung, atau mulut. Berdasarkan studi yang ada saat ini belum ditemukan penyebaran COVID-19 melalui udara bebas.

Penulis : M Shoalihin
Editor : Rahma Indah

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami