Kepekaan Mahasiswa Telah Hilang

Facebook
Twitter
WhatsApp
Dok Pribadi | Anugrah Majid

Oleh : Anugrah Majid

Gerakan untuk membentengi kebenaran sudah lemah, kultur membangun kesadaran sudah jarang kita jumpai bahkan kepekaan mahasiswa seolah-olah hilang dalam dirinya, beberapa konflik yang terjadi dibeberapa kampus terus dikonsumsi dan selalu dihadapkan oleh mahasiswa, fungsi mahasiswa sebagai pelopor gerakan sudah berubah menjadi pelopor politik praktis. Gerakan yang berorientasi kemanusian hari ini sudah minim kita jumpai, dan beberapa mahasiswa hanya menutup diri melihat konflik yang terjadi dihadapan mereka.

Gerakan mahasiswa dibangun untuk membela kaum lemah, untuk terus meneguhkan keadilan bahkan untuk melawan semua bentuk penindasan. Dahulu komitmen itu dipelihara dengan aksi, diskusi dan refleksi, sekarang keyakinan itu tak mudah ditaut karena tempat bertautnya makin melemah. Kampus yang semestinya jadi lahan penanaman kesadaran kritis malah jadi balai kerja. Mahasiswa tidak dilatih berfikir merdeka melainkan menghamba. Hamba bagi kekuasaan yang kini membutuhkan mereka untuk membujuk rakyat yang dulu mereka bela.

Banyak aktivis memilih untuk berada dalam genggaman kekuasaan dengan dalih ingin memperbaiki dari dalam. Banyak aktivis yang secara sadar bersekutu dengan penguasa dengan alibi ingin berjuang optimal. Hidup mereka bukan berkalung lagi dengan resiko tapi kepastian atas penghasilan. Sama halnya dengan organ gerakan yang tampaknya kian menyusut anggotanya. Mereka tak lagi percaya pada ide perjuangan membara yang dulu jadi roh para aktivis. Rakyat yang lemah perlu diberi suntikan harapan melalui bantuan anggaran atau bekal keterampilan, sehingga kalau keadaan memburuk mereka dengan mudah bisa mengantisipasinya. Kita bukan butuh rakyat yang kritis tapi rakyat loyal yang membantu program apa saja yang diterapkan.

Apa memang kekuasaan sudah tak lagi bisa dilawan dengan kekuatan gerakan? Atau memang kekuasaan sudah semakin sempurna dalam menaklukkan kesadaran kritis rakyat sehingga mereka tidak bisa melawan sama sekali? Bahkan untuk memprotes mereka tak berani, takut dan lebih banyak merasa tak ada gunanya. Tapi jangan menyerah hanya pada suasana dan keadaan. Kian buruk yang kita alami sebenarnya kita jadi paham memang perjuangan itu  bukan lagi beban tapi tantangan. Ditantang kita untuk melawan rasa pesimis, rasa tak berdaya dan putus asa. Sebab yang kita hadapi orang yang sama hanya punya kekuatan yang berlipat ganda.

Beberapa organisasi kemahasiswaan telah menjadi mesin kekuatan raksasa yang mampu melakukan apa yang mustahil dulu terjadi. Tak hanya mengantar siapa saja untuk duduk berkuasa tapi juga punya kekuatan untuk menyerap semua sumber daya gerakan. Banyak aktivis memilih menjadi hijrah dan apatis melihat konflik dihadapan mereka. Kini tugas gerakan adalah menggerakkan, menyadarkan dan mendampingi massa, terutama massa yang telah mengalami penindasan, peminggiran dan penganiayaan. Idealnya organisasi kemahasiswaan menjadi fasilitator untuk melawan segala bentuk ketertindasan.

*Penulis Merupakan Mahasiswa Jurusan Perbandingan Mazhab dan Hukum Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) Semester IX.

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami