Book, Love and Party

Facebook
Twitter
WhatsApp
Dok Pribadi I Ardiansyah

Oleh: Ardiansyah

Buku, cinta dan pesta. Rangkaian rutinitas yang saling terkait dalam satu susunan yang saling menguatkan menjadi wadah eksperimen dan pengembangan diri bagi orang-orang yang memiliki pemikiran di atas rata-rata. Ya… tentu tidak semua orang menjadikan tiga elemen di atas sebagai sarana pelengkap hidupnya, ada yang memilih salah satunya, ada yang memilih dua di antaranya, dan untuk orang-orang di atas normal tentu menjadikan ketiganya sebagai elemen dalam melengkapi rutinitas hidupnya. Tentu tidak salah juga jika ada orang yang punya cara berbeda dalam membuat racikan lain untuk rutinitas hidupnya, itu dikembalikan lagi pada setiap individu, kalau menurut teman kelas saya itu semua kembali ke individu masing-masin. Hahaha… Ketiga elemen di atas akan saya benturkan dengan rutinitas anak kuliahan (penulis tidak ingin memakai kata mahasiswa ya… karna dalam hemat pemikiran penulis ada perbedaan yang nyata antara mahasiswa dan anak kuliahan) yang menurut penulis memang dekat dengan kehidupan anak kuliahan. Tapi apa yang akan penulis narasikan ini, hanya bagian dari pembacaan pribadi akan apa yang penulis rasakan di lingkungan perkuliahan.

Sebagai salah satu sarana belajar tertua di dunia, buku sudah menjadi hal pokok bagi setiap orang yang menaruh minatnya pada disiplin keilmuan tertentu, entah itu fiksi atau nonfiksi semua tergantug dari kegemaran masing-masing individu. Dalam ranah universitas misalnya, buku menjadi aksesoris tambahan untuk menghiasi otak dan nalar berpikir setiap anak kuliahan yang ada di dalamnya. Hampir menjadi gaya hidup, tidak pas rasanya jika seorang anak kuliahan tak memiliki satupun buku atau tak pernah membaca buku. Benar, bukankah sedikit memalukan, jika anak kuliahan yang katanya punya strata pendidikan lebih tinggi dibandingkan sekolah menengah, ditanya mengenai satu hal namun tidak mampu memberikan jawaban yang memuaskan atau setidaknya jika ditanya, anak kuliahan bisalah memberi pemahaman atas pertanyaan yang diajukan, maka dari itu menjadikan buku sebagai salah satu elemen dalam melengkapi rutinitas hidup tentu sangat bagus untuk menambah daya keilmuan dan memperluas khasana imajinasi dari anak kuliahan itu sendiri. Untuk semua anak kuliahan sebaiknya mulai memasukkan buku sebagai pelengkap rutinitas hidup, membaca bukan untuk dipamerkan, membaca bukan untuk disombongkan, membaca adalah langkah awal untuk membentuk imajinasi dan pola pikir mandiri sehingga mampu membantu manusia untuk memanusiakan manusia yang lain.

Cinta, banyak definisi yang sudah tertuang menjadi kata dalam mengartikan kalimat satu ini, yang sebenarnya antara pendapat satu kependapat lain tidaklah memunculkan perbedaan mendalam, semua berangkat dari kata setia, perjuangan, semangat, bahkan sampai pada kesimpulan bahwa tidak ada definisi yang benar-benar bisa mewakili kata tersebut. Semua hanya menerka membuat jejak rekam atas apa yang dirasakannya. Ya… kalau yang dirasakan sedih tentu cinta akan ditafsirkan sebagai sesuatu yang melukai, namun jika yang dirasakan menyenangkan tentu cinta akan diartikan sebagai sesuatu yang membahagiakan. Kata yang mampu menjebak menjadi penjara imajinasi untuk setiap insan yang sudah terkena oleh virusnya, menurut seorang yang penulis panggil Melankolis dia menyebut virus tersebut sebagai Virus Merah Jambu, entah apa yang berwarna merah jambu entah apa pula yang dia maksud sebagai virus itu, mungkin pembaca bisa menafsirkan sendiri istilah tersebut. Penulis di sini tidak mau ikut-ikutan membuat penafsiran cinta itu seperti apa, penulis hanya ingin memberi sedikt narasi kenapa cinta bisa dimasukkan dalam pelengkap rutinitas hidup namun jangan salah yah ini hanya dari apa yang penulis rasakan.

Dikisahkan (supaya terdengar dramatis hahaha) ada seorang teman kelas penulis yang ketika awal perkuliahan dia seperti orang yang biasa-biasa saja, mengikuti perkuliahan seadanya, mengerjakan tugas seadanya dan mengikuti kegiatan organisasi juga seadanya, seolah-olah dilakukan hanya dengan dasar iseng-iseng belaka, dia tampak tak bergairah menjalani kehidupannya, datang mengikuti perkuliahan setelah perkuliahan selesai, dia pun hilang entah ke mana namun semua berubah begitu dia dekat dan menjalin hubungan asmara dengan sesama teman kelas penulis, yang awalnya hidup seadanya menjadi hidup dipenuhi dengan gairah, wajah yang dulunya lusuh menjadi tampak berseri-seri setiap kali datang ke kampus, penulis sangat penasaran dengan perubahan drastis yang ditunjukkan tersebut, penulis menerka membuat nalar berpikir dengan keras dan penulis pun mulai merasa apakah ini karna dia sudah terkena virus merah jambu? Setelah penulis tanyakan langsung ternyata benar cinta dapat membuat orang yang biasa, menjadi merasa luar biasa. Tidak usah penulis jelaskan secara rinci, dengan membaca cerita tersebut pembaca tentu sudah mengetahui maksud penulis, oleh karena kisah tersebut penulis memaparkan alasan mengapa cinta bisa pembaca jadikan elemen pelengkap dalam menjalani rutinitas hidup.

Pesta, kenapa menjadikannya elemen pelengkap rutinitas hidup? Kadang seseorang yang sudah terjebak dalam sebuah aktivitas tentu akan datang di mana rasa jenuh menghampiri, seperti anak kuliahan misalnya yang disibukkan dengan jadwal kuliah yang begitu padat, tugas demi tugas yang menumpuk, dan hal-hal lain yang menjemuhkan, menjadikan pikiran terjebak dan tertekan. Pesta, tidak perlulah dilakukan di tempat-tempat mewah, dengan minuman-minuman berkelas, atau melakukan hal-hal di luar nalar, bekumpul bersama teman-teman terdekat dengan sebungkus rokok dan secangkir kopi pun bisa menjadi sebuah pesta tersendiri, bukankah pesta yang baik adalah yang ketika selesai beban pikiran dan kejemuhan yang dirasakan juga ikut selesai, maka dari itu menjadikan pesta sebagai elemen pelengkap rutinitas hidup tentu sangat baik sebagai obat yang digunakan dalam upaya membuang penat dari pikiran yang terjebak dan tertekan. Maka dari itu penulis memasukkan pesta sebagai elemen pelengkap rutinitas hidup.

Memiliki sebuah rutinitas tentu merupakan pilihan yang baik untuk setiap orang agar menyibukkan diri dan mengisi keseharian dengan rutinitas yang dijalani adalah salah satu hal yang nantinya memberi pengalaman dan pelajaran baru untuk setiap pribadi individu. tentunya rutinitas yang monoton pasti akan mendatangkan kejenuhan dalam hidup, olehnya itu meracik sebuah elemen pelengkap hidup dalam menjalani setiap rutinitas yang ada tidak bisa dikesampingkan, dengan elemen pelengkap tersebut membuat rutinitas yang tadinya monoton malah akan memberi warna baru bagi setiap rutinitas yang dijalani. Seperti teman kelas yang penulis ceritakan di atas tadi, hidup yang awalnya monoton tiba-tiba dinikmati dengan begitu bergairah karena adanya cinta yang menjadi elemen pelengkap hidupnya. Buku, cinta dan pesta mungkin bisa pembaca jadi beberapa ramuan elemen pelengkap hidup yang bisa memberikan sedikit warna baru dalam hidup pembaca dalam menjalani segala rutinitas keseharian yang dijalani.

*Penulis merupakan mahasiswa Jurusan Ilmu Perpustakaan Fakuktas Adab dan Humaniora (FAH) semester V.

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami