Widji Tukul Kritik Orba Lewat Puisi

Facebook
Twitter
WhatsApp
Penggalan puisi Widji Thukul

Washilah – Widji Widodo (Widji Thukul) menggenggam pena, merangkai kata lalu mengkritik Orde Baru (Orba) lewat bait puisi, ia lahir dan tumbuh dalam lingkungan kaum terpinggirkan bersama para tukang becak dan buruh.

Merujuk Kompasiana Thukul dikenal sebagai sastrawan sekaligus aktivis hak asasi manusia yang melawan dengan keras penindasan rezim Orba. Puisinya mengupas kehidupan rakyat kecil yang hidup di bawah kepemimpinan otoriter pada masa itu, rasa-rasa pahit kemiskinan dan penderitaan digambarkan melalui rencengan kata yang Thukul tulis.

“Puisi adalah media yang mampu menyampaikan permasalahan rakyat kecil dan juga bagi kaum tertindas di masa Orde Baru,” dikutip dari Kompasiana.Com.

Wahyu Susilo sodara kandung Thukul mengatakan, sejak menginjak bangku sekolah dasar ia mulai suka menulis puisi dan pada saat duduk di Sekolah Menengah Pertama (SMP), Thukul mulai tertarik untuk menekuni dunia teater. Ia pun meneruskan sekolahnya ke Sekolah Menengah Karawitan Jurusan Tari, namun kemudian memutuskan untuk berhenti karena keluarganya dilanda kesulitan dalam keuangan.

Sebagai anak sulung dari tiga bersaudara, Thukul merasa memiliki tanggung jawab terhadap keluarga terutama kedua adiknya. Setelah berhenti sekolah ia berjualan koran dan menjadi buruh serabutan. Berhenti dari sekolah bukan berarti ia berhenti belajar. Pengetahuan terus masuk ke dalam otaknya melalui pengamatannya terhadap lingkungan sekitar dan kegemarannya membaca.

Dalam buku kumpulan puisi yang berjudul Aku Ingin Jadi Peluru, Tukul mengungkapkan Penyair mesti berjiwa bebas dan aktif. Bebas dalam mencari kebenaran dan aktif mempertanyakan kembali kebenaran yang pernah diyakininya.

Dengan memperluas wawasan dan cakrawala pemikiran akan sangat menunjang kebebasan berkarya. Kata tukul dalam buku itu, belajar tidak harus di bangku sekolah atau di kampus, tetapi bisa di mana-mana dan kapan saja, misalnya di perpustakaan atau membaca gelagat lingkungan, tujuannya bisa mempertajam kepekaan terhadap gerak hidup dan hidup di luar penyair.

Mengutip ensiklopedia Kemdikbud, puisinya diterbitkan dalam media cetak, saat itu ia bekerja sebagai wartawan pada tahun 1988, kebanyakan karyanya berbentuk fotokopi yang tersebar di antara kawan-kawan dan orang yang mengaguminya. Selain menulis sajak, Thukul juga menulis cerpen, esai, dan resensi puisi hingga tahun 1991 ia bersama W. S. Rendra menerima Wertheim Encourage Award (WEA) yang diberikan oleh Wertheim Stichting di Negeri Belanda.

Biografi Widji Thukul

Jika tak ada mesin ketik aku akan menulis dengan tangan
jika tak ada tinta hitam aku akan menulis dengan arang
jika tak ada kertas aku akan menulis pada dinding, jika aku menulis dilarang. Aku akan menulis dengan tetes darah” kutipan puisi Widji Thukul yang ditulis pada 19 Januari 1988.

Karyanya mengantarkan Thukul menjadi buron. Ia masuk ke dalam daftar buronan rezim Orba sebelum dinyatakan hilang tahun 1998.

Baca juga Melacak Keberadaan Widji Thukul

Thukul tak tentu rimbanya. Ia lenyap, tak berbekas. Sahabat kerabat tak tahu di mana dia sejak Mei 1998. Entah di mana Thukul. Ia hilang sekitar sebulan sebelum rezim tumbang.

“Saya kira yang sampai sekarang tidak dikembalikan sama tentara, polisi yang merampas,” kata Wahyu dilansir dari Artikel Tirto.id Mengingat Thukul, Melawan Lupa

Penulis : Muhammad Fahrul Iras
Editor   : Suhairah Rasyid

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami