Mengabdi Dari Pelosok Untuk Negeri

Facebook
Twitter
WhatsApp
Persiapan games yang dikoordinir oleh relawan Abdi Pelosok Sadri Saputra. Sabtu (20/07/2019)

Washilah- Anggaran untuk pendidikan dalam Rancangan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (RAPBN) 2019 telah dipatok senilai Rp492,5 triliun, atau naik 12,3% dibandingkan dengan pagu tahun 2018 silam senilai Rp444,1 triliun. Namun, tetap saja puluhan pelajar Madrasah Ibtidaiyah (MI) DDI Hidayatuah Tanete Bulu Kecamatan Tompobulu, Maros, Sulawesi Selatan, harus menikmati fasilitas sekolah jauh dari kata layak.

Kondisi yang terjadi di Desa Bonto Manurung kecamatan Tompo Bulu membuat para rewalan pendidikan yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Ilmu Falak UIN Alauddin Makassar gelar Abdi Pelosok ke wilayah perbatasan Kabupaten Maros dan Kabupaten Gowa, Sulsel.

Lokasi yang nyaris terisolasi tak tersentuh oleh pembangunan, sulit dijangkau oleh peserta Abdi Pelosok, untuk sampai ke lokasi peserta mesti melewati sungai yang tak memiliki jembatan, satu persatu motor menyeberangi sungai bahkan mobil pikap harus menurunkan penumpangnya.

“Demi memudahkan penyeberangan. Dengan proses yang menegangkan, semua kendaraan berhasil menyeberangi sungai tanpa jembatan itu,”ungkap Taufik Ketua Bidang Riset dan Literasi HMJ Ilmu Falak.

Program Abdi Pelosok kata Taufik mengajarkan siswa tentang pengetahuan dasar Matematika, Agama Islam, Membaca, terakhir para siswa biberi alat tulis dan buku bacaan.

”Kami beri hadiah berupa buku tulis, Iqra, pulpen pensil warna setelah membuat Games,”ungkap Taufik

Baca APBN 2019

 

Menurut Kepala Dusun Tanete Bulu Arsyad, di tempat ini, tanah sudah seperti lantai, papan tidak beraturan sudah seperti dinding pembatas ruangan, atap yang mulai renggang saat di terpa angin kencang. Bagi mereka, itulah yang dianggap sekolah.

“Tepat didepan rumah saya, yang anda lihat sekarang, itulah sekolah 32 orang anak-anak disini,” ungkapnya yang sering disapa Pak Dus pada Sabtu (20/07/2019)

Selain infrastuktur sekolah yang tak memadai, fasilitas pendukung juga tak bisa diandalkan oleh 32 siswa yang menggantungkan impian masa depan, dari luar kelas, meja dan kursi nampak reok, lemari dipenuhi debu dan buku yang terpisah dari sampulnya, dinding dalam kelas dipenuhi gambar dari murid sekolah, bahkan ada dua dari tiga ruangan yang tersambung demi memudahkan proses belajar.

Kebanyakan pelajar di sekolah ini harus menempuh jalan bebatuan, tanjakan, berlumpur dan berdebu selama 1 sampai 2 jam dari rumah mereka menuju sekolahnya. Aco salah satunya, siswa madrasah Ibtidaiyah Tanete Bulu, dengan tapak kaki yang mulai pecah dan tidak mengenakan alas kaki, kantong plastik dijadikan tempat menaruh buku dan pulpennya saat bersekolah, baginya ini adalah hal yang wajar demi mewujudkan cita-cita nya untuk menjadi seorang Polisi.

“Nenek tidak mampu membelikanku tas, sepatu ataupun sendal bahkan untuk makanpun masih susah, saya hanya bisa berharap mampu mewujudkan cita-cita ku menjadi polisi,” tutur Aco anak yang hanya diasuh oleh neneknya.

Aco bersama 31 kawan lainnya menjadi bukti dari ketimpangan pendidikan, di pelosok ia berjuang untuk menuntut ilmu demi impian masa depan yang cerah, kehadiran pemerintah untuk memberi akses pendidikan dengan baik, sesuai dengan amanat pasal 31 Undang-undang Dasar 1945 tentu menjadi kabar baik untuk anak-anak yang berada di  Kecamatan Tompobulu, Maros

Penulis : Syahrul B (Magang)

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami