Wajah Kalah di Balik Senyum-Senyum Kemenangan

Advertisement

Dok Pribadi I Muhammad Kasim

Oleh: Muhammad Kasim

Momentum hari besar Islam baru saja berlalu, Idul Fitri yang disimbolkan sebagai hari kemenangan. Pada hari itu seluruh manusia baik itu muslim maupun nonmuslim ikut merasakan uforia hari lebaran. Wajah berseri-seri, senyum menggebu-gebu sampai pada titik kesedihan karena perpisahan dengan bulan suci ramadan menjadi unsur pelengkap dalam hari besar Islam itu.

Pagi yang indah tentunya menyelimuti hari itu dimana orang-orang bergegas lalu bergerak ke masjid bersama sanak keluarganya bergandengan tangan dengan gamis, baju dan pakaian baru lainnya. Detak jantung semakin menjadi ketika lantunan kalimat takbir terdengar diberbagai belahan bumi, hati siapa yang tidak akan sedih memikirkan yang berlalu dan yang pergi namun enggan kembali. Air mata bahagia sekaligus sedih melebur dan saling terwakili dalam satu tetesan air mata, bahagianya adalah hari ini adalah hari kemenangan setelah sebulan lamanya manusia menahan haus, lapar serta berbagai hal yang dapat membatalkan puasa sedangkan sedihnya adalah tidak hadirnya orang-orang terdekat pada lebaran kali ini.

Tentunya segala tindakan-tindakan baik diharapkan tidak berakhir pada hari kemenangan saja, tetapi bulan suci ramadan adalah titik awal dari penyucian diri. Tak semestinya hanya pakaian saja baru tetapi jiwa kita yang mestinya baru pada ruang-ruang kehidupan mendatang. Di dalamnya harus selalu bertabur cinta serta selalu berpandangan bahwa manusia semua sama di hadapan Tuhan yang membedakan adalah ketakwaan itulah konklusi terindah dari kesucian ramadan dan menggeloranya hari kemenangan.

Tetapi kita tak mestinya lupa di balik kemenangan itu mungkin saja ada yang tetap merasa kalah, di balik pintu masjid yang terbuka lebar ada yang merasa terbatasi, lapangan luas ada yang merasa pasrah berdiam diri. Tak ada salahnya kita merayakan kemenangan, mungkin tak salah juga ketika kita berpikir apa saja kemungkinan dampak yang ditimbulkan dari perayaan yang tergesa-gesa dan tak terukur itu.

Sebuah penanaman stigma mulai mengakar pada diri masyarakat bahwa yang patut di kedapankan pada hari lebaran itu adalah kebersihan fisik yang berujung pada stigma bahwa pakaian baru itu diharuskan pada proses perjumpaan dengan pencipta pada hari yang fitri itu. Bukan berarti kita menyalahkan pilihannya untuk berpakaian baru tetapi pola pikir yang mengharuskan kita berpakaian baru dihari yang fitri itu mungkin sedikit keliru.

Kita mungkin bisa merujuk pada firman Tuhan dalam Al-Quran sebagai rujukan transendental dalam Islam itu sendiri menjelaskan, “(Yaitu) pada hari harta dan anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (QS. asy-Syu’ara: 88-89).

Kalau kita merujuk pada ayat ini tentunya kebersihan tak seharusnya hanya identik pada penampilan fisik saja, tetapi yang paling ditekankan adalah bagaimana seorang hamba dalam kepasrahan dan ketundukannya menghadap dengan jiwa yang bersih yang di dalamnya tak ada dendam, permusuhan, dengki dan berbagai hal menyimpan lainnya.

Ketika anggapan bahwa di hari kemenangan manusia seharusnya berpakaian baru itu tetap ditanamkan maka ini akan menjadi permasalahan sosial baru dalam pusaran masyarakat, orang-orang yang memiliki status sosial rendah yang mungkin saja tidak memiliki pekerjaaan ketika menghampiri hari lebaran akan menghalalkan segala cara untuk memenuhi hasratnya bahkan mencuri akan jadi pilihan untuk berpakaian baru atau membelikan pakaian baru anak dan istrinya misalkan.

Hal seperti ini akan selalu menghantui dan akan menjadi batasan untuk setiap muslim yang memiliki kekuatan ekonomi lemah, tanpa mereka sadari bentuk penghambaan tidak pernah melihat tampilan fisik tetapi apa yang ada di balik fisik itu. Sangat menyedihkan bila orang-orang fakir hanya duduk diam dengan bibir bergetar dengan tetesan air mata di sudut kamarnya memikirkan nasibnya serta kondisinya yang tidak seperti orang kebanyakan.

Inilah yang mungkin menjadi inti dari tulisan singkat ini bahwa senyum kemenangan telah melahirkan fenomena kekalahan sebagian tubuh yang tak lagi memimirkan bahwa “fisik tidak penting yang terpenting adalah jiwa yang senantiasa bersih.” Pikiran ini tercipta karena mereka telah tertutupi gengsi dan pola pikir yang cenderung keliru dalam lingkungan sosialnya. Patut ditegaskan bahwa hari kemenangan bukan hanya milik segelintir orang tetapi sudah selayaknya kita semua berbahagia menyambut hari itu tanpa ada perbedaan kelas.

Mungkin menjadi penutup tulisan ini, tak ada larangan untuk berpakaian baru tetapi pola pikir harus tetap dijaga agar tidak terjadi kecemburuan ataupun kesenjangan sosial di sekitar kita. Perlu kita menaruh kecurigaan pada proses produksi yang mungkin saja menggunakan mitos agama untuk mewujudkan suatu kepentingan tertentu.

*Penulis merupakan mahasiswa Jurusan Peradilan Agama Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) semester VIII.

Advertisement

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*