Jangan Dipaksa Kami Tak Sanggup

Advertisement

Dok Pribadi I Ardiansyah

Oleh: Ardiansyah

Pembelajaran pengetahuan, keterampilan dan kebiasaan sekelompok orang yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui proses pengajaran, pelatihan dan penelitian. Mungkin hal tersebut bisa menjadi definisi yang cukup universal jika disematkan pada pendidikan. Pendidikan dewasa ini menjadi sesuatu yang sangat vital manfaatnya di dunia, mengingat pengetahuan yang kita peroleh dari pendidikan mampu membuat kita tumbuh dan berkembang menjadi manusia yang lebih baik, formal atau non formal pendidikan yang diperoleh itu.

Banyak orang berlomba-lomba untuk mendapatkan pendidikan yang layak, entah itu sebagai bagian usaha untuk memperbaiki tatanan hidup atau hanya sekedar memperdalam khasanah keilmuan saja, pendidikan menjadi sesuatu yang benar-benar harus dimiliki oleh setiap manusia. Indonesia sebagai salah satu negara kepulauan terbesar yang ada di dunia memiliki berbagai macam kultur, ras, bahasa dan budaya menjadikan corak pendidikan yang ada di negeri ini begitu beragam dari sabang sampai merauke.

Pendidikan di Indonesia sendiri bermula sebelum masa penjajahan. Yaitu saat berdagangan berkembang pesat dan mewabah ke Indonesia. Abad ke 16 bangsa Portugis datang ke Indonesia, yang kemudian diikuti oleh bangsa Spanyol. Kedua bangsa ini, mulai mewabah di tanah air sebagai seorang pedagang. Selaian berdagang mereka juga menyebarkan agama Katolik di daerah-daerah perdagangan mereka. Ini dikarenakan adanya beberapa missionaris yang ikut bersama rombongan pedagang dari kedua negara tersebut yang memudahkan mereka dalam penyebaran ajaran Katolik ke penduduk Indonesia.

Franciscus Xaverius merupakan salah satu dari beberapa missionaris tersebut, dan sekaligus dikisahkan sebagai peletak batu pertama Katolik di Indonesia. Franciscus Xaverius mengutarakan buah pikirnya, bahwa jika ingin menyebarkan ajaran Katolik dengan lebih mendalam haruslah ada sebuah tempat yang dapat dijadikan tempat berkumpul dan menyebarkan ajaran tersebut. Singkat cerita berakhirnya kekuasaan Portugis di Indonesia mengakhiri pula bergeraknya konsep tersebut. Kemudian berlanjut pada masa Belanda, Jepang, masa kemerdekaan, orde baru, masa reformasi dan sampai pada saat sekarang ini.

Sistem pendidikan yang ada sekarang, merupakan hasil adopsi dan pengembangan dari pendidikan negara-negara maju serta disesuaikan dengan kultur masyarakat Indonesia tentunya. Akan tetapi, tentunya muncul pertanyaan besar di benak kita ketika kita memahami apa sebenarnya tujuan dari pendidikan itu sendiri. Pertanyaan-pertanyaan seputar pendidikan juga beragam berdasarkan daya empirisme dari masing-masing individu.

Apakah sistem pendidikan yang ada sekarang telah sesuai dengan apa yang diharapkan? apakah penetapan sistem dan kurikulum yang ada sudah benar-benar sesuai ? Atau justru pendidikan yang ada malah menjadi hal yang memberatkan untuk di jalani? Sehingga akan menghambat lahir generasi emas yang akan memimpin bangsa ini menuju puncak kejayaan bukannya terhempas menuju jurang kesengsaraan.

Saat ini kita mengetahui secara struktural mengenai tahap pendidikan berjenjang, dari Taman Kanak-Kanak, Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas hingga sampai pada Perguruan Tinggi. Semuanya diatur sedemikian rupa dan melahirkan tahap-tahap yang dilalui menjadi tersusun secara sistematis. Bukan mejadi masalah memang mengenai hal tersebut, dalam penetapannya struktur yang ada memang sudah baik secara simbolis. Yang jadi permasalahan kemudian, adalah penerapan sistem kurikulum yang menjadi motor penggerak dari sistem pendidikan berjenjang tadi.

Dalam hal pembelajarannya sistem kurikulum di sini sangat berperan penting untuk mencapai hasil akhir dari pendidikan itu sendiri, tidak hanya sekedar melewati jenjang tahapannya namun juga menemukan hasil dari apa yang di lewatinya di jenjang-jenjang tersebut.

Penetapan program kurikulum dan proses untuk menjalankanya nampak tidak begitu baik, dikarenakan penetapan dan perancangan kurikulum ini terkesan dibuat secara sepihak, dan keputusannya diputuskan secara sepihak pula tanpa adanya campur tangan oleh pihak yang menerapkan hal tersebut dalam hal ini siswa/mahasiswa.

Proses pembelajaran satu arah menjadi makanan sehari-hari pelajar saat ini. Pihak pengajar menjelaskan materi, pihak yang diajar menerimanya, memahami dan setelah itu diberi tugas menjadi ciri utama pendidikan saat ini. Tidak adanya proses diskusi dua arah yang lebih lanjut antara pengajar dan yang diajar, menjadikan pembelajaran terkesan kaku dan sulit menangkap makna yang ada dalam pelajaran tersebut. Penanaman pola belajar seperti ini akan menjadikan proses belajar mengajar menjadi membosankan dan malah hanya akan menjadi beban bagi pelajar bukan menjadi sesuatu yang mengasyikkan. Sehingga, hal ini mengakibatkan daya kritis seorang pelajar terhadap suatu fenomena menjadi berkurang dan mungkin akan hilang.

Memang sangat penting bagi pihak pengajar untuk menciptakan forum-forum diskusi saat penyampaian materi telah usai. Dengan berdiskusi mengenai apa yang telah dipaparkan oleh si pengajar tadi, menjadikan nalar kritis pelajar akan bertambah, daya intelektualnya untuk menangkap dan menyerap apa yang disampaikan pun akan menjadi terangsang, sehingga kepekaan-kepekaan mereka akan situasi yang ada disekitarnya menjadi bertambah. Dan secara tidak langsung, pihak pengajar telah memberikan bekal yang berguna untuk anak didiknya di kemudian hari.

Setelah meracik formula penyampaian materi yang baik, tentunya hal yang sangat penting untuk menunjang semua itu adalah penetapan kurikulum yang lebih berpihak dan sesuai dengan kemampuan pelajar juga menjadi hal yang pokok. Era semakin berkembang pengetahuan semakin meluas dan persaingan kerjapun tidak terhindarkan, hal ini memaksa pihak pemerintah untuk lebih meningkatkan mutu pendidikan yang ada agar nantinya pemuda dan pemudi bangsa ini juga ikut andil dalam persaingan global yang ada.

Benar, tentu sangat benar, dengan alasan seperti itu pemerintah menyajikan kurikulum-kurikum yang sesuai dengan apa yang dibutuhkan zaman. Namun pertanyaan yang kemudian muncul, apakah dengan formulasi seperti itu mampu membuat pelajar di negeri ini berkembang? Atau malah menjadi terpuruk akibat ketidaksiapan mereka untuk menjalani kurikulum yang diberikan? Sebagian kecil mungkin merasa bersyukur akan situasi seperti itu, namun bagaimana dengan sebagian lainnya? Banyak dari mereka belum siap menghadapi perubahan-perubahan yang ada, dengan jenjang dan kurikulum yang tidak berjalan di satu arah menajadi faktor utama yang mendukung terkendalanya pendidikan saat ini. Sebut saja ketika memasuki jenjang SMP siswa dituntut untuk menyelesaikan studinya dengan mempelajari beberapa bidang ilmu yang diantaranya ilmu alam dan ilmu sosial. Jika dicabangkan lagi, tentunya kedua disiplin ilmu ini menjadi lebih luas lagi objek kajiannya. Setelah masuk kedalam jenjang SMA para pelajar kembali disajikan dengan pelajaran-pelajaran serupa namun tingkatan pembahasannya lebih tinggi lagi.

Apakah hal tersebut efektif, mungkin tidak 100%. Karena pada tingkat SMA ini seharusnya dengan bekal ilmu yang didapatkan di SMP pelajar sudah harus difokuskan pada satu disiplin ilmu tertentu, sesuai dengan bakat dan minatnya sehingga proses belajar menjadi lebih menarik. Tapi nyatanya, yang terjadi tidak demikian. Dalam jenjang SMA justru mengajarkan kepada pelajarnya proses lanjut dari apa yang didapatkannya di SMP kalau dalam dunia game mungkin hal semacam ini disebut peningkatan level permainan. Barulah ketika diperguruan tinggi, para pelajar ini difokuskan untuk berjalan disatu bidang ilmu tertentu.

Berjalannya sistem demikian, menjadikan efektifitas belajar menjadi berkurang dan alhasil mereka terperangkap dengan sesuatu yang malah membuat mereka tidak sanggup mengikuti sistem yang ada. Meracik menu baru untuk pembaharuan kulikulum yang lebih ideal, dengan menyajikan materi pengajaran yang lebih sesuai dengan bakat dan minat mereka di bidang-bidang tertentu serta merekonstruksi konsep jenjang pendidikan tentunya akan membantu berkembangnya pendidikan kearah yang lebih maju.

Pendidikan yang dirancang dengan hanya melihat segi penyesuaian tuntutan zaman, bukan dari segi kapasitas dan kemampuan orang yang akan diajar, hanya menjadi bumerang yang malah akan terbang dan melukai diri sendiri.

Dengan menetapkan sistem dan kurikulum yang lebih sesuai dengan kemauan pelajar serta menyediakan berbagai sarana untuk menunjang proses tersebut, nantinya akan mampu membantu upaya dalam mengembangkan bakat dan minat dari pelajar ini. Sehingga pelajar tidak pula dipusingkan dan merasa tertekan lagi dengan banyaknya bidang ilmu yang harus dipelajari.

Berfokusnya sistem belajar pada satu bidang studi saja membuat pokok pembahasan dalam kelas akan lebih mendalam dan pelajar pun akan lebih mudah untuk menyerap pelajaran yang disajikan. Sehingga upaya untuk mencetak generasi emas bangsa yang nantinya menjadi pelanjut tongkat estafet untuk membangun bangsa ini akan lebih muda diwujudkan dan pendidikan menjadi jembatan besar untuk mewujudkan itu.

*Penulis merupakan mahasiswa Jurusan Ilmu Perpustakaan Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) semester IV.

Advertisement

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*