Demokrasi, Kegemukan Informasi dan Ketidaksiapan Konsumtif Khalayak

Advertisement

Dok Pribadi | Muhammad Kasim

Oleh : Muhammad Kasim

Seperti yang kita pahami bersama bahwa informasi adalah kumpulan pesan, baik berupa simbol ataupun teks. Sebuah informasi di sampaikan untuk memberitahukan individu atau kelompok tentang suatu permasalahan yang terjadi tanpa menambah ataupun mengurangi nilai dari pesan yang disampaikan. Keinginan besar manusia untuk mengetahui sesuatu menjadi faktor utama cepatnya penyebaran informasi di ruang-ruang kehidupan manusia.

Melihat informasi pada dasarnya memiliki semangat yang sangat baik, namun akhir-akhir ini, seiring momentum politik atau yang akrab disebut pesta demokrasi itu kadang kala membuat media tidak objektif dalam menyampaikan informasi. Karena kepentingan atau keinginan suatu kelompok sebagian media harus menghilangkan nilai-nilai kesucian informasi yang disampaikan. Akhirnya, menghadirkan benturan-benturan perspektif antara satu kelompok dengan kelompok lain.

Hegel mendaku “Setiap zaman memiliki jiwanya masing-masing”. Menjadi ketakutan kita bersama bilamana jiwa zaman hari ini harus dikemas dengan informasi-informasi yang tidak benar adanya atau ditambah maupun dikurangi. Melihat momentum politik dimana seseorang memiliki pilihan berbeda-beda tentunya debat kusir dimana-dimana akan tercipta, apabila data diambil dari informasi yang salah maka ini akan berakibat pada perdebatan dua fanatisme yang tak ingin melepas egonya. Ketakutan terbesar hari ini jangan sampai menjadi titik awal pertumpahan darah manusia yang terlalu senang pada tafsir tunggalnya.

Tetapi lagi-lagi ini bukan persoalan hegemoni informasi,tetapi bagaimana konsumtif masyarakat terhadap informasi yang beredar. Sangat rawan rasanya menerima sebuah informasi tanpa menyaringnya terlebih dahulu. peredaran informasi hoax seakan menjadi awal dari runtuhnya konsistensi keobjektifan sebuah informasi. Disisi lain, daya analisa dari sebagian masyarakat sangat rendah dan hanya berdasar pada satu pusat informasi tanpa ada perbandingam dengan informasi lain.

Sangat pelik rasanya melihat informasi hoax yang beredar secara bebas, tetapi seiring kemampuan literasi dan daya analisa yang tinggi dari masyarakat maka informasi hoax itu tidak ada artinya. Tentunya hoax akan kehilangan orientasinya untuk memecah belah masyarakat, ini akan menjadi jiwa semangat yang indah di suatu geggaman zaman, kalau kata Hegel. Hal ini sangat membutuhkan gerakan kolektif semisal mendobrak minat literasi dan selalu menerima informasi sebagai suatu warga negara bukan sebagai individu yang fanatik terhadap satu pilihan.

Gerakan kolektif itu akan hadir ketika ada sebuah gerakan-gerakan kecil yang bernama penyadaran. Tentunya mahasiswa, pemuda dan berbagai elemen dalam masyarakat harus menjadi tubuh-tubuh yang senantiasa siap dan teguh dalam penyadaran itu, setidaknya dimulai dari kesadaran diri sendiri. Sangat diperlukan peran pemerintah sebagai aspek monumental untuk mengecam penyebaran informasi hoax atau menahan diri sebagai aktor dari peredaran informasi hoax itu, tak seharusnya kita terjebak pada tafsir tunggal masing-masing kawan.

Kesiapan khalayak dalam menerima informasi, sebagai buah hasil dari kesadaran yang dibangun dari akar rumput gerakan kolektif anak muda, akan memuluskan langkah demokrasi yang lebih sehat dan menekan pada nilai-nilai kemanusiaan yang di dalamnya tidak ada egosentris yang melekat.

*Penulis merupakan mahasiswa jurusan Hukum Acara Peradilan dan Kekeluargaan (HAPK) Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) semester VIII.

Advertisement

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*