Washilah – Dalam kehidupan masyarakat di tanah Bugis Makassar telah mengakar suatu Budaya Siri’ yang berarti malu. Malu dalam konteks sesuatu yang menyebabkan orang terlukai harga dirinya sebagai manusia. Pengertian malu juga ini sebenarnya berbeda-beda dalam setiap individu dalam memaknainya.
Menurut pribadi saya dalam mengklasifikasi Budaya Siri’, digolongkan dalam 2 macam:
Pertama Siri’ yang sifatnya positif, dianjurkan untuk dilaksanakan. Misalnya ketika dalam suatu kampung, kehidupan ekonominya tidak berkembang, hidup dalam suasana kemiskinan maka sifat malunya menyebabkan giat berusaha mencari pekerjaan dimana saja, pergi merantau. Tak heran jika orang Bugis Makassar itu dapat dijumpai di daerah-daerah di nusantara. Budaya malu konteks ini sejalan dengan ajaran Islam, bahwa manusia harus mempunyai malu jika berbuat suatu kesalahan.
Kedua,budaya malu dalam konteks negatif. Ketika terjadi suatu permasalahan sampai bentrok fisik, biasanya tanpa mengetahui kedudukan persoalan yang sesungguhnya akan merasa mempunyai rasa malu ketika yang terlibat adalah komunitasnya atau kerabatnya. Akan ikut turut campur karena merasa ikut malu ketika merasa kalah. Contoh lain yang adalah penerapan mas kawin atau biasa disebut dengan Uang Panai yang tinggi pada prosesi peminangan anak gadis. Terlihat malu jika anak tetangganya telah menikah dengan mas kawin yang tinggi dibanding dengan anak gadisnya. Maka dipastikan mas kawinnya harus lebih tinggi minimal sama.
Pada dasarnya nilai Siri’ adalah sesuatu yang menjadi dasar dalam bertindak bagi manusia Bugis Makassar. Telah menjadi budaya yang mesti dipertahankan. Tapi harus diingat bahwa yang harus dipertahankan tentunya yang tidak melanggar aturan agama dan aturan negara. Filosofinya orang Bugis dalam merantau dikenal dengan 3 cappa (3 ujung) yakni:
Pertama, cappa lidah artinya dalam perantauan dan berinteraksi dengan masyarakat lain menggunakan cara diplomasi atau pendekatan dengan kata-kata.
Kedua, cappa kelamin artinya manusia Bugis tidak tabu menikah dengan suku bangsa lain, maka untuk menjamin kelancaran dan kedamaian dirantau maka pendekatan kelamin juga dipakai, berbaur dengan komunitas suku lain.
Ketiga cappa badik, ujung senjata. Hal yang ketiga ini baru dilaksanakan ketika kedua pendekatan di atas tidak berhasil.
Nilai pribadi secara umum orang Bugis makassar akan banyak hal yang kita temukan. Salah satunya adalah budaya tawuran antar mahasiswa dan pelajar yang sering terjadi di Makassar. Ada nilai perlawanan yang selalu muncul dalam individu ini. Tak akan menerima jika menganggap ada sesuatu yang tidak masuk diakal. Dalam bahasa sehari-harinya ewako atau rewako yang artinya harus melawan karena ketika tidak melawan maka disitulah jatuh martabatnya sebagai manusia, akan dianggap dipermalukan. Untuk tidak dapat dipermalukan maka mau tak mau harus melawan, terlepas dari konteks akar masalahnya.
Sebagai manusia yang terlahirkan dalam suku Makassar, saya juga merasa heran, kenapa kami bertemperamen keras bukan kasar. Akan ngotot jika menganggap kebenaran ada dipihak kita. Mungkin pengaruh Budaya Siri’ itu yang telah diwariskan oleh nenek moyang kami. Suku bangsa lain mungkin ada juga seperti ini sifatnya.
Nilai siri’ sebenarnya yang perlu dimaknai dengan benar oleh kalangan generasi muda yaitu harus bisa melihat persoalan dengan kepala dingin. Jangan sampai nilai Siri’ akan berdampak pada kerugian dan penyesalan di belakang hari. Beda hal ketika hak-hak kita sebagai manusia telah dinodai maka pendekatan 3 cappa itulah yang bisa ditempuh.
Penulis: Pelita Nur (Magang)