Bapak : Untuk Anakku Yang Sedang Tidur

Facebook
Twitter
WhatsApp

Oleh : Muhammad Junaedi

Pada satu malam, ada bapak yang bicara kepada anaknya yang sedang tidur. “Tidur, anakku, akan kubacakan sepucuk surat ke dalam mimpimu. Sebab tahukah kau apa yang saya pikirkan di samping tempat tidurmu? Tahukah kau apa yang ingin saya katakan, setelah kau lelap, dan lampu padam di kamar ini, dan nyamuk mulai terdengar desingnya?

Sebenarnya kau tak usah tahu. Tapi kelak kau mungkin perlu mengetahui isi kepala orang tua. Persisnya, isi kepala orang tua yang berharap kepada anaknya. Karena itulah saya bacakan surat ini, ke dalam mimpimu.

Saya memang sedikit malu untuk mengakui: isi surat ini tidak sederhana. ”Tidak sederhana” bukan dalam arti muluk, melainkan rumit. Setiap kali matamu terpejam, menyiapkan seluruh tubuhmu untuk sekolah esok pagi, selalu datang pertanyaan kepada saya. ”Apa sebenarnya rencana Tuhan dengan dirimu? Apa sebabnya pada suatu hari sepuluh tahun yang lewat kau dititipkan Nya kepadaku.

Ada sebuah pengalaman yang selama ini tak pernah kuceritakan kepadamu: disuatu hari yang panas, saya berjalan di depan salah satu kampus ternama. Di satu sudut, terlihat salah satu orang tua, mengantar anaknya, yang baru saja diterima di kampus itu, orang tua tersebut berpesan kepada anaknya “Belajar yang baik ya nak, setelah wisuda nanti, kamu akan dapat pekerjaan yang layak”. Tapi tak jauh dari sana terlihat seorang yang kebingungan mencari kerja: seorang sarjana muda.

“Engkau sarjana muda” kata Iwan Fals “resah mencari kerja mengandalkan ijazahmu empat tahun lamanya bergelut dengan buku tuk jaminan masa depan”. Mungkin demikian, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek) mencatat sekitar 8,8% dari total 7 juta pengangguran di Indonesia adalah sarjana. Kondisi tersebut sangat mengkhawatirkan mengingat persaingan untuk mendapatkan pekerjaan akan semakin ketat dengan datangnya Revolusi Industri 4.0. Selain bersaingan dengan mesin berbasis teknologi canggih, sekitar 630.000 sarjana pengangguran tersebut juga harus beradu kompetensi dan keahlian tertentu dengan pekerja asing yang datang dari terbukanya pasar bebas.

Penyanyi Iwan Fals, yang saya kutip tadi (ia bercerita, betapa susahnya mencari kerja) mungkin itu yang ia lihat. Mungkin itu sebabnya ia menulis lirik lagu yang menyeramkan. Ia menggambarkan dilirik lagunya, seorang sarjana muda yang menghabiskan waktu empat tahun bergelut dengan buku, setelah sarjana, dia resah mencari kerja. “Engkau sarjana muda resah mencari kerja mengandalkan ijazahmu empat tahun lamanya bergelut dengan buku tuk jaminan masa depan langkah kakimu terhenti didepan halaman sebuah jawatan terjenuh lesu engkau melangkah dari pintu kantor yang diharapkan terngiang kata tiada lowongan untuk kerja yang didambakan”.

Tidak, anakku. Bukan aku mau mengganggu cerah mimpimu. Tapi, mungkin “Sarjana muda” yang resah mencari kerja itu adalah seorang anak dari bapak lain—mungkin aku. Sementara itu, anakku, kian hari dunia kian penuh. Jumlah orang pengangguran tak berkurang, meskipun orang pekerja bertambah. Jumlah kesempatan bertambah, meskipun kesempitan tak berkurang.

Di satu pagi di bulan januari saya lihat seorang pemuda, pemuda yang tak menyelesaikan pendidikan 12 tahun, Dia ternilai sebagai yang terbelakang di masyarakat oleh masyarakat yang lain. Sekolah pun justru berdampak anti kritik edukasi terhadap masyarakat, karena sekolah diakui salah-satunya spesialis lembaga pendidikan, pemeran tunggal yang mencerdaskan dan memanusiakan manusia. Dan sekolah pun melumpuhkan semangat kaum miskin untuk mengurus pendidikan mereka sendiri.

Seharusnya saya tak menyerahkan seutuhnya masa depan kamu ke sekolah, sekolah bukan penentu gagalnya kamu dan penentu masa depan kamu nak, bukan perumus masa depan kamu. Mungkin bapak dari anak yang lain-lah yang menyerahkan seutuhnya masa depan anaknya ke sekolah, ketika masuk sekolah, si bapak berharap, setelah selesai dari sekolah, anaknya akan sukses, dia akan mendapatkan pekerjaan yang layak.

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami