Anak Yang Sedang Khilaf

Sumber: Dekamuslim.com

Oleh: Muhammad Junaedi

Setelah iyakan perkataan gurunya, si anak mengamalkannya. Pulang ke rumah untuk merebahkan badan, sampai di rumah ada sosok di depan matanya, sosok yang ia rindukan; paman yang bernama Muhammad. Ibu memanggil pamannya “Muhammad, sini makan!”

Si anak ingat perkataan gurunya, “kalau ada yang menyebut nama Nabi Muhammad SAW, ucapkanlah sholawat dan salam kepadaNya”. Dengan polos dan lugu, si anak berucap “shallallaahu ‘alaihi wasallam,” untuk mengamalkan perkataan guru di sekolah. Pamannya pun tertawa terbahak-bahak lihat kelakuan si anak.

Si anak diam, tapi mungkin Pangeran Kecil dalam dongeng Antoine de SaintExupery akan berkata dalam hati: ”Orang dewasa memang aneh.” Orang dewasa mengajar dan mengatur untuk lakukan ini dan itu di sekolah. Tapi, setelah pulang dari rumah, ajaran orang dewasa di sekolah ditertawakan di rumah.

Mungkin, perkataan orang dewasa di sekolah tidak bisa bersinggung dengan kehidupan sehari-hari, mungkin dan bisa jadi itu alasan kenapa orang dewasa di rumah tertawa terbahak-bahak jika mengamalkannya. Orang dewasa di sekolah hanya ajarkan “untuk dunia” bukan mengajarkan “dari dunia.”

“Ketika aku masih sangat belia aku berhenti belajar dan lari dari pelajaranku. Langkah itu telah menyelamatkanku, dan aku mendapatkan semua apa yang kuperoleh kini berkat langkah yang berani itu. Aku melarikan diri dari kelas-kelas yang mengajar, tapi yang tidak mengilhamiku, dan aku memperoleh kepekaan terhadap hidup serta alam.”

Itu kata-kata Tagore yang tentu termasyhur di tahun 1924, dan secara lebih segar dan lebih mengagetkan itu pula maksud Ivan Illich dengan sistem kurikulum tersembunyi. Ivan Illich, pemikir yang lama hidup di Amerika Latin yang miskin itu bukan saja melihat betapa mahalnya ongkos pendidikan sekolah bagi sebuah negeri, tapi juga betapa omong kosongnya sistem sekolah itu untuk menghilangkan jurang kemiskinan itu.

Diam-diam sekolah menanamkan dalam diri siswanya, bahwa mereka tidak akan sukses, meraka tidak akan benar jika tidak menuruti apa yang diajar di sekolah. Seolah-olah sekolah penentu gagal tidaknya seorang anak, sekolah tidak tahu diri dengan peranannya.

Padahal setiap pelajaran ada kurangnya, ada lebihnya, dan punya ruang dan waktu. Banyaknya masalah sosial dan budaya yang muncul hari ini, bukan dari orang bodoh, tapi dari orang pintar yang tidak tahu kapan dan dimana digunakan pemikirannya, tidak tahu situasi yang cocok dengan gagasannya.

Mungkin kesalahan berawal dari sejak sekolah. Saat sekolah, guru hanya mewanti-wanti inilah yang paling benar, inilah yang paling dibutuhkan, dan inilah yang paling tinggi nilainya tanpa melihat ruang dan waktu pada suatu ilmu.

Ilmu politik memang perlu. Tapi, kalau anak TK diajar teori Antonio Gramsci tentang hegemoni, pasti anak TK tidak tahu, karena ilmunya terlalu tinggi, bahkan mereka bisa memahaminya dengan keliru, padahal teori hegemoni sangat penting. Ilmu harus melihat situasi dan waktu untuk digunakannya.

Seharusnya dan sepatutnya, setiap teori menggambarkan konteks kehidupan. Jika ada orang malas, janganlah memotivasi dengan kesabaran. pada suatu hari di ruang kelas, seorang dosen mengatakan kepada mahasiswanya “janganlah berpikir cepat selesai, tapi berpikir, yang penting wisuda.” Jadinya mahasiswa tambah malas untuk memperdalam ilmu dan menghalalkan segala cara untuk wisuda.

Orang memang tak usah berniat menumbangkan universitas dan menghapus lembaga persekolahan, tapi agaknya harus di akui: ”kurikulum tersembunyi” yang mematikan jiwa itu sulit dilepaskan dari sistem sekolah apapun. Bung Karno lima puluh tahun yang lalu berbicara tentang bagaimana menjadi guru dalam masa pembangunan, dan ia mengecam cara ”mencekoki” murid, tapi bagaimana cara itu bisa benar-benar hapus? Haruskah kita hanya menyalahkan guru, dan tidak menyalahkan sistem tempat guru itu bertaut?

Entahlah. Barangkali seperti yang ditulis oleh Ronald Gross dalam After Deschooling, What?, yang perlu ditumbuhkan ialah belajar bebas. Disitu otonomi orang atau anak yang belajar dilindungi, juga prakarsa pribadinya untuk menentukan apa yang akan ia pelajari, di samping haknya untuk belajar apa yang ia sukai dan bukan apa yang bermanfaat bagi orang lain.

*Penulis merupakan mahasiswa jurusan Ilmu Politik fakultas Ushuluddin, Filsafat dan Politik

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*