Pada Gie

Advertisement

Sumber : Triva.id

Oleh : Muhammad Junaedi

Gie, kamu tidak sendiri. Percakapan antara kita, sebuah dialog dengan masa silam, adalah percakapan yang tak terhingga.

Gajah pergi meninggalkan gading. Tapi ia tak memilih bagaimana gading itu diukir. Generasi datang dan pergi, membentuknya, menatahnya, dan menimbang-nimbangnya. Mungkin mencampakkannya.

Seorang besar memperoleh arti karena beribu-ribu orang yang tak dikenal datang sebelumnya, bersamanya, dan sesudahnya. Bukankah sebab itu sejarah berlanjut? Bukankah sejarah adalah kerja orang ramai yang namanya terlupakan? Kau ingat ketika kamu berdebat dengan guru di kelas. Suasana tegang ketika kamu tidak percaya dengan perkataan gurumu, dan kamu mencoba membenarkan perkataannya, namun dia tetap dalam pendiriannya, tidak menerima pandanganmu, apalagi menimbangnya.

Memang Gie, pendidikan kita dulu dan hari ini menjadi sebuah kegiatan, dimana para murid adalah celengan dan guru adalah penabungnya, yang terjadi bukanlah proses komunikasi, tetapi guru menyampaikan pernyataan-pernyataan dan “mengisi tabungan” yang diterima, dihafal, dan diulangi dengan patuh oleh murid.

Gie, proses belajar bagaikan proses mentransfer uang dari ATM, dosen yang mentransfer ilmu, mahasiswa yang terima ilmu. Ketika mahasiswa terima ilmu, dia berterima kasih kepada dosen yang mentransfer ilmunya. Jika wisuda nanti, mahasiswa memecahkan celengan yang telah lama diisi sang dosen. Dan koin-koinnya ialah transkip nilai.

Pendidikan hanya dipahami sebatas sarana pewarisan ilmu. Pendidikan tidak peduli pada proses pendewasaan pemikiran dan tidak mampu mengkritisi realitas sosial yang ada di lingkungan sekitar. Pengetahuan merupakan anugrah yang dihibakan oleh mereka yang menganggap diri berpengetahuan kepada mereka yang dianggap tidak memiliki pengetahuan apa-apa.

Coba bayangkan Gie, hari ini, dosen mengajar, mahasiswa belajar, dosen tahu segalanya, mahasiswa tidak tahu apa-apa, dosen berpikir, mahasiswa dipikirkan, dosen bicara, mahasiswa mengantuk, dosen mengatur, mahasiswa diatur, dan dosen jadi subyek proses belajar, mahasiswa jadi objeknya. Sungguh menindas dosen hari ini Gie.

Gie, saya pernah mengalami, dimana dosen menindas saya, sang dosen cuma mengucapkan salam di awal dan di akhir. Masuk kelas, ketika di kelas sang dosen buat forum diskusi, setelah selesai forum diskusi, mahasiswanya bertanya “kenapa bisa gitu masalahnya pak?” Dan si dosen menjawab “emang gitu yang terjadi”dan pertemuan hari itu pun selesai dengan tanda tanya.

Ada juga dosen yang begini Gie, pada kuliah perdana, sang dosen memperkenalkan diri, setelah pertemuan kedua, dia mulai berbisnis dengan mahasiswanya, menawarkan bukunya kepada mahasiswa, jika mahasiswa tidak beli buku dari sang dosen, maka terancamlah nilai mahasiswa tersebut.

Seandainya kamu masih hidup, bisa jadi kamu mengikutinya dari belakang dengan membawa sebuah balok dan bersiap-siap memukulnya.

Gie, saya jadi teringat dengan perkataanmu “Guru yang tak tahan kritik boleh masuk keranjang sampah. Guru bukan dewa dan selalu benar, dan murid bukan kerbau”

*Penulis merupakan mahasiswa jurusan Ilmu Politik fakultas Ushuluddin, Filsafat, dan Politik

Advertisement

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*