Bentrok Dalam Ideologi Mahasiswa

Ilustrasi : Harianhaluan.com

Oleh : Ramalia

Setiap orang punya hak berbicara, mengekspresikan pendapatnya yang menurut mereka ini adalah jalan yang benar. Setiap orang punya ideologinya tersendiri, menuntunnya dalam menilai dan mengambil keputusan terhadap sesuatu.

Sama seperti yang terjadi di rezim orde lama, tidak ada kesengajaan untuk merusak ekonomi atau merugikan negara. Karena semuanya atas keyakinan menempuh jalan ideologis yang benar. Dengan ideologi yang dominan adalah sosialisme yang populis dengan pimpinan pemerintah yang kuat.

Bentrok dalam dunia kampus dapat dikatakan sesuatu yang lumrah. Karena pada masa inilah, seorang yang menyebut dirinya sebagai kaum intelek berusaha mencari dan mempertahankan ideologinya. Mengekspresikan pendapatnya, yang menurut mereka apa yang terjadi di sekelilingnya bertentangan dengan ideologi mereka.

Bentrok dua hari berturut-turut oleh dua kubu mahasiswa dari kampus yang katanya “Kampus Peradaban” memunculkan banyak persepsi. Kembali lagi, setiap orang punya ideologi, cara pandang yang berbeda-beda. Memaknai sebuah kejadian, baik atau buruk tergantung sudut pandang.

Namun satu hal yang penulis sadari, kejadian ini menjadi pertanda bahwasanya, mahasiswa di kampus ini masih melek dengan ideologinya, yang menurut mereka ada yang salah dengan lingkungan sekitarnya. Dan untuk mengungkapkan kejanggalan itu, bentrok adalah salah satu sarana komunikasi.

Bukan mereka bodoh karena memilih cara ini, tapi setiap tindakan memiliki tingkat kepuasan tersendiri, dengan mempertaruhkan harga diri, gengsi dan semua rasa atas dasar ideologi yang telah mereka sepakati bersama menjadi stimulus terbesar atas setiap tindakan.

Sayangnya, semua tindakan atas dasar kebenaran dalam paham ideologi itu tanpa mereka sadari punya sisi lain yang mungkin menyakiti orang lain di sekitarnya. Mereka mungkin tidak bermaksud, namun pada akhirnya setiap tindakan bersamanya sebuah konsekuensi.

Sejatinya mereka masih dalam proses belajar, dalam sebuah wadah yang bernama kampus mencoba membangun sebuah ideologi. Namun demikian, kampus pun punya aturan mainnya tersendiri, tapi itulah tantangan dari sebuah kampus, bagaimana para pemangku kebijakan di kampus ini dapat mengarahkan dan memberi  penjelasan bagaimana manusia memanusiakan manusia, tanpa harus melupakan dan membuang label yang telah ia pasang pada dirinya sendiri.

*Penulis merupakan mahasiswi Jurusan Ekonomi Islam Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) semester VII

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*