“Riwayat Luka” Terdengar di Fort Rotterdam

Facebook
Twitter
WhatsApp
Fadlan L Nasurung (tengah) saat membawakan materi dalam Wisa yang diadakan oleh FLP UIN Alauddin di Benteng Fort Rotterdam. Sabtu (23/04/2016)
Washilah — Siang itu, puluhan anggota Forum Lingkar Pena (FLP) UIN Alauddin duduk merumput, tepat di bawah bayang salah satu gedung bangunan yang ada di area Fort Rotterdam. Mengusung tema “Ukhuwah Dengan Goresan Pena Kita Bersaudara” kegiatan ini pun diusung secara santai. Sabtu (23/04/2016)
Seketika suasana menjadi bisu, lalu merubah rupa menjadi hening. Semua peserta terdiam sejenak, seraya mengubah fokus pandangannya pada objek yang sama .
Ya, suara Reski Indah Sari atau kerap disapa Eki ini sukses merampas perhatian para anggota yang hadir kala itu.
Mahasiswa yang menjabat sebagai Ketua FLP UIN itu duduk disebuah tangga kayu, dekat dengan rumput yang menjadi alas sambil membawakan sebuah puisi di depan anggota-anggotanya.
Adalah “Riwayat Luka”, puisi yang tak lain merupakan satu dari puluhan puisi karya sastrawan asal Jeneponto Krishna Pabichara berjudul “Pohon Duka Tumbuh di Matamu”.
“Aku bisa saja meninggalkan dan menanggalkan kenangan. Tetapi aku senang menunggalkan kamu dalam ingatan,” bunyi salah satu bait.
Sebenarnya pembacaan puisi tersebut tidak tercantum dalam rangkaian kegiatan. Melainkan sebagai inisiatif yang disepakati bersama untuk mengisi waktu kosong sambil menunggu pemateri datang.
Salah seorang peserta Arisandi menganggap, bahwa hal tersebut bermanfaat dan sangat baik utamanya untuk pembiasaan diri bagi peserta muda.
“Menurut saya bagus, karena dengan itu para anggota bisa membiasakan diri tampil di depan orang banyak,” ujarnya.
Hal tersebut rupanya menarik perhatian orang banyak, tak terkecuali pengunjung lain yang berlalu lalang di sekitar lokasi. Tak jarang, ada diantara mereka yang memilih berhenti dan mendengarkan hingga puisi selesai dibawakan secara bergilir.
Penulis: Muh Syakir Fadli
Editor: Fadhilah Azis

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami