Surat untuk Pak Rektor oleh Muhammad Mas’ud

Facebook
Twitter
WhatsApp

SURAT UNTUK PAK REKTOR
Assalamualaikum . . .
Saya bingung harus menuangkan apa pada lembaran kertas putih ini. Saya bukan mahasiswa akademisi, bukan pula mahasiswa yang pandai merangkai kata demi kata dalam sebuah tulisan. Namun, malam ini saya mencoba menjadi mahasiswa yang ideal untuk merangkai kata demi kata dalam tulisan ini sebagai bentuk APRESIASI sekaligus KEKECEWAAN kepada bapak rektor kampus II UIN Samata, lulusan luar negeri, Prof. DR. H. A. QADIR GASSING HT., M.S. 
sebagai seorang yang memiliki kekuasaan penuh untuk segala bentuk material dalam kampus. Tentulah, ia pula yang memiliki tanggung jawab penuh atas segala bentuk material dalam area kampus. Berat, memang berat amanah yang bapak emban. Tapi, jauh hari sebelum bapak menjadi rektor, seharusnya sudah menjadi pertimbangan bapak sendiri tentang kesanggupan atau ketidaksanggupan dalam memimpin kampus UIN Alauddin Makassar dari skala kecil sampai yang besar. Kalau tidak sanggup kenapa harus pura-pura sanggup.
Bapak bisa sukses dalam skala yang menurut bapak besar, tapi bapak gagal dalam skala yang menurut kami besar. Bapak bisa hebat di mata orang luar, tapi kami, di mata orang dalam kampus bapak adalah pemimpin yang gagal. Pemimpin seharusnya memperbaiki keadaan internalnya sebelum beralih pada perbaikan eksternalnya.
Bapak gagal memimpin kampus UIN Alauddin Makassar. Bapak hanya bisa memerintah kepada bawahannya tanpa mengevaluasi seberapa efektif perintah yang bapak ajukan kepada bawahan bapak, sama sekali tidak pernah. Perintah bapak kepada para security yang jumlahnya cukup banyak untuk mengawasi setiap sudut kampus tidak memberikan hasil yang signifikan kepada kami sebagai mahasiswa.
Keamanan kampus UIN Alauddin Makassar bak pintu lebar untuk para pencuri motor. Kenapa demikian ? lagi-lagi karena bapak tidak pernah mengevaluasi kinerja bawahan bapak, yakni security yang jumlahnya cukup banyak. Apa gunanya mereka ? hanya untuk duduk santai menikmati kopi hangat di setiap pos yang disediakan ? hanya sekedar hormat ketika bapak lewat memakai mobil mewah ? dimana amanah itu ? hanya sekedar janji belaka ? terima kasih pak, sekali lagi terima kasih. Pencuri bebas keluar masuk kampus karena mereka tahu bahwa penjaga keamanan tidak lebih dari sebuah patung yang hanya berdiri kokoh di tempatnya. Diam !.
Saya adalah salah satu mahasiswa korban kepemimpinan bapak. Sore tadi, saya kehilangan sebuah barang berupa motor yang menurut bapak mungkin sangat sepele, hanya seharga sekitar 10-14 jutaan yang bapak bisa peroleh dalam jangka waktu sekitar satu bulan sekaligus. Tapi pak, ingat. Bapak dan ibu saya mati-matian mengumpulkan pundi-pundi uang untuk barang sepele itu. Bahkan, ketika saya mengabari mereka akan berita kehilangan tersebut seakan beliau tidak percaya, kaki gemetar, dan keringat dingin menyelimuti mereka seketika. Terlebih lagi, bagaimana saya melanjutkan perkuliahan saya tanpa kendaraan, mengingat jarak kampus yang cukup jauh dari tempat tinggal saya dan juga tidak dilalui jalur kendaraan umum. Harus berhenti kuliah lagi ? terima kasih pak professor untuk solusinya.
Saya yakin, bukan hanya saya saja yang merasakan hal seperti ini, banyak mahasiswa yang juga kehilangan motor merasakan kekecewaan terhadap kepemimpinan bapak. Seharusnya bapak bisa menjamin keamanan segala sesuatu yang sudah dalam area kampus. Kami bukan ceroboh dalam menjaga kendaraan kami, telah kami ikuti prosedur dalam pencegahan dari pencurian, seperti kunci stang, gembok, dsb, tapi lagi-lagi pengawasan dari pihak security tidak lebih dari sebuah patung. Pecat saja, itu lebih baik. Gaji mereka bisa digunakan untuk membuat parking-area yang lebih aman, seperti dijaga setiap saat. Tidak usah saya paparkan beberapa contoh karena saya yakin seorang PROFESSOR lebih ahli mengenai ini. Pemeriksaan intensif, seperti berkas-berkas motor, baru akan diintensifkan ketika lima sampai sepuluh motor sudah raib di tangan pencuri. Pihak keamanan yang seharusnya menjaga segala hal dalam area kampus ketika dimintai pertanggungjawaban “ bagaimana ini pak, saya baru saja kehilangan motor !”, tanya saya sebagai korban. “susah itu dek, karena banyak pintu tembus untuk pencuri”, di belakang asrama piba dan lain sebagainya, silahkan adik keliling kampus dulu utnuk memeriksa mungkin saja motornya masih di dalam, nanti saya bersama bapak-bapak yang lain di sini (gerbang dua) menjaga.”, ironis, korban sendiri yang disuruh untuk mencari kendaraan mereka, bukan pihak keamanan yang usaha. Dan juga, sudah tahu kalau jalan di belakang jebol, kenapa tidak ditutup dari dulu. Usahanya mana ? lagi-lagi pecat saja kalau tidak becus dalam mengemban amanah.
Untuk pak rektor, semoga tulisan yang jauh dari kesempurnaan ini bisa memberikan sedikit suntikan semangat untuk tata kelola pemerintahan bapak. Saya tidak mengharapkan bapak merasakan apa yang saya dan mahasiswa lain rasakan. Semoga itu jauh dari bapak. Hanya saja ketika memang harus merasakan sakit hati seperti ini baru bapak memperpaiki tata kelola pemerintahan bapak, semoga Tuhan membimbing bapak ke arah sana segera. Lagi-lagi saya tidak mengharapkan bapak mengalami hal buruk seperti saya. Saya hanya ingin bapak memperbaiki tata kelola keamanan agar tidak lagi ada mahasiswa yang kehilangan kendaraannya, seperti yang saya alami. Silahkan bapak perbaharui sistem keamanan atau perbaharui personil pengamanan. Bapak yang jauh lebih tahu sebagai seorang professor.
Untuk para security, menjaga kendaraan para mahasiswa bukanlah perkara yang sulit. Masih banyak lahan yang bisa digunakan sebagai area parkir. Bapak bisa gunakan satu lahan penuh untuk seluruh motor mahasiswa, dan dibuatkan satu pintu keluar yang kemudian dijaga dari awal kuliah sampai akhir kuliah, dan tidak lupa pemeriksaan STNK. Atau bisa juga menggunakan parkiran yang telah tersedia sebelumnya, tapi tetap dijaga atau diawasi dari awal sampai akhir kuliah dan pemeriksaan STNK untuk setiap motor yang keluar dari parkiran. Atau bapak bisa menutup setiap akses yang menurut bapak jalan keluar bagi pencuri, kemudian hanya gunakan gerbang dua sebagai akses untuk keluar dan pemeriksaan STNK tetap dilaksanakan intensif setiap saat, bukan hanya sehari setelah kejadian terjadi. Pak, gaji yang bapak hasilkan adalah uang kami dengan harapan bapak memberikan pelayanan yang terbaik kepada kami. Tapi saat ini hasilnya masih nol besar. Saya berharap semoga tulisan ini bisa memperbaiki kinerja bapak. Semoga tanpa mengalami hal yang serupa dengan saya, bapak bisa memperbaiki kinerja bapak. Namun, lagi-lagi ketika memang bapak harus merasakan rasa sakit hati yang telah kami rasakan, kemudian bapak baru sadar dan memperbaiki kinerja bapak, semoga Tuhan menuntun bapak ke arah sana segera. Namun, sekali lagi semoga Tuhan memberikan jalan yang terbaik kepada bapak semua.

wassalam . . .

 


Muhammad Mas’ud

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami