Manifesto Perlawanan Berambut Gondrong

Facebook
Twitter
WhatsApp
Oleh | Nurhalim

Setidak-tidaknya belum cukup bukti untuk mengatakan bahwa pemuda  yang berambut gondrong dan berkaos oblong adalah identik dengan kejahatan dan sikap amoral-apatis. Sebaliknya, telah banyak  bukti  untuk mengatakan bahwa  mereka yang lebih tua berambut cepak dan berkemeja rapi  adalah aparat ataukah pejabat yang kerjanya hanya membunuh ataukah merampok uang rakyat. hal itu tidak lagi sekadar jahat, lebih tepat disebut : biadab !

Kalimat prolog di atas adalah representasi ungkapan perlawanan yang terus berkobar, disebabkan oleh hantaman gelombang tuduhan, fitnah, hingga deskriminasi tiada henti oleh pihak kampus terhadap mahasisiwa yang berambut gondrong. Tidak seperti universitas lainnya, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar menganggap bahwa  persoalan rambut adalah persoalan mendasar dalam seluruh aktivitas kampus yang harus mendapat perhatian yang tidak kalah pentingnya dari proses perkuliahan. Persoalan rambut itu menyangkut kuasa atas diri mahasiswa lelaki, yakni diri yang berambut gondrong.

Fenomena mahasiswa berambut gondrong saat ini sangatlah marak, semarak terjadinya pelarangan dan pencekalan terhadapnya. Dengan pelarangan dan pencekalan tersebut tidak membuat jumlah mahasiswa berambut gondrong semakin berkurang, alih-alih melarang untuk mengurangi malah yang terjadi adalah bertambahnya pasukan berambut gondrong yang bahkan lebih massif,  ideologis, dan militan. Fenomena inipun tidak dibiarkan begitu saja hingga akhirnya dengan menggunakan otoritas pihak kampus melakukan tindakan represif terhadap semua mahasiswa berambut gondrong, dengan cara : mengusir seluruh mahasiswa gondrong dari ruang perkuliahan, mencekal penerbitan nilai akademik bagi studi yang telah dilalui, mencerabut hak mahasiswa untuk mendapat pelayanan administrasi, menutup seluruh peluang beasiswa meskipun ada di antaranya yang layak karena berprestasi ataukah miskin, hingga intimidasi bahwa mereka yang berambut gondrong akan dipecat dari status kemahasiswaannya atau di-Droup Out (D.O).

Berbagai tindakan represif yang dilakukan itu bukanlah tanpa dalih, sebab dalam buku saku mahasiswa terbitan tahun 2010 yang memuat tentang pedoman, aturan, dan ketentuan kehidupan kampus telah jelas di dalamnya tertulis Keputusan Rektor IAIN Alauddin No. 175 Tahun 2002 –tidak seperti yang dikatakan oleh pejabat kampus bahwa pelarangan gondrong merupakan aturan langsung dari pemerintah pusat– tentang kode etik mahasiswa, pada Bab V Pasal 15 Point ketiga yang menegaskan bahwa rambut mahasiswa harus dicukur rapi dan tidak gondrong. Surat keputusan itulah yang hingga kini menjadi satu-satunya landasan untuk melegitimasi tindakan reaksioner kampus yang sangat irasional dan patut disebut kekanak-kanakan.

Betapapun kampus memiliki kuasa dan alat legitimasi atas tindakannya, hal itu bukan berarti membuat mahasiswa yang merasa menjadi korban pengebirian hak-hak individu harus diam dan menelan begitu saja pil pahit yang diberikan, sebab mahasiswa akan tetap melontarkan protes atas aturan tersebut, dengan bertanya : “ada apa dengan rambut gondrong? mengapa pilihan untuk berambut gondrong yang sebenarnya adalah hak individual mahasiswa dilarang oleh kampus?, mengapa pihak kampus begitu cemas sekaligus takut dengan rambut gondrong ?, tidakkah terdapat kepentingan status quo di balik pelarangannya ?

Rambut Gondrong dan Ekspresi Perjuangan. Perjuagan kebangkitan nasional adalah babak pembuka dalam mempropagandaakan hindia belanda untuk keluar dari cengkraman kolonialisme yang menindas. Menjadi sebuah negara yang merdeka dan berdaulat. Perjuangan itu mencapai klimaksnya pada masa perjuangan kemerdekaan dan “Revolusi belum usai” yang diteriakkan oleh Bung Karno. Terdapat hal menarik dalam masa perjuangan revolusi itu, terkait pada persoalan rambut para pemuda dan mahasiswa yang ketika itu  adalah pelopor perjuangan, yang kemudian hari ini diteladani oleh pemuda dan mahasiswa yang berkesadaran bahwa estafet perjuangan terdapat di pundaknya, meskipun tak semua yang berambut gondrong menyadari hal demikian. Ya ! ada gondrong karena selera dan juga ada karena menyadari bahwa mahasiswa dan pemuda adalah generasi bangsa pelanjut perjuangan.

Lantas, apa hubungan antara pemuda dan mahasiswa dengan perjuangan dan rambut gondrong ? untuk menjawab pertanyaan ini penulis akan mengutip tulisan Ali Sastromidjojo (1974 : 198 ) dalam otobiografinya yang menggambarkan pemuda dan mahasiswa berambut gondrong di Yogyakarta –yang kini menjadi kota pelajar– pada awal 1946 sebagai kekuatan revolusi ketika itu: “…terasa sekali sebagai kota yang hidup di tengah-tengah pergolakan revolusi. Banyak pemuda-pemuda berambut gondrong dan bersenjata masih berkeliaran. Pada umumnya pakaiannya compang-camping. Sikap dan tingkah laku mereka masih seperti pejuang-pejuang yang baru saja menang perang. Merasa jaya, kuat dan gagah berani menghadapi musuh atau siapapun yang menentang negara dan bangsanya, atau … pribadinya sendiri dan golongan atau kelompoknya. Pemuda-pemuda berambut gondrong, pejuang-pejuang bersenjata yang tak terkenal namanya, dan dengan tingkah lakunya yang serba serampangan inilah yang merupakan kekuatan revolusi kita.”

Apa yang digambarkan Ali Sastromidjojo di atas sangat erat kaitannya dengan kemunculan spirit berambut gondrong saat ini, sebab dalam kepala mahasiswa yang menganggap amanah sejarah perjuangan kini bertengger di atas pundaknya rambut gondrong dipahami tidak hanya sebagai selera maupun pilihan gaya, ia melampaui keduanya, yakni;  ekspresi semangat perlawanan, seperti yang diteladankan Muhammad S.A.W yang berambut gondrong saat melawan dominasi kelas kafir Quraish demi mengangkat martabat kemanusiaan, juga yang dilakukan oleh Karaeng Mallombassi Dg. Mattawang dan I Karre Tojeng Karaeng Galesong dalam melawan Kolonialisme yang menindas rakyat bangsanya, juga seperti yang digambarkan Ali Sastromidjojo di atas. Namun, meski hari ini perjuangan mahasiswa dipahami sebagian orang tidak lagi berupa perjuangan fisik bersenjata seperti contoh di atas akan tetapi keberambutgondrongan sebagian pemuda mahasiswa saat ini tetap berlandaskan pada nilai yang sama: kebenaran, keadilan, dan kemanusiaan yang mesti diperjuangkan. Sebab, mustahil terdapat gerakan perlawanan tanpa adanya penindasan. Dan lagi lagi rambut gondrong hadir dalam mengekspresikan pengobaran api perjuangan dalam melawan ketidakadilan dan penindasan, termasuk di dalamnya pengebirian hak-hak individual dalam memilih selera model rambut.

Rambut Gondrong Di Mata Kalangan Tua                                                                                    

 Hingga kini masih banyak orang menganggap bahwa rambut gondrong identik dengan kejahatan, bersikap acuh tak acuh, tidak sesuai dengan moral bangsa bahkan dinilai tidak punya masa depan, anggapan ini pun tidak terlepas dari hampir semua isi kepala mereka yang merasa sebagai orang tua mahasiswa di kampus. Fakta menjelaskan bahwa isi kepala orang tua kita pada umumnya (baik orang tua di luar maupun di dalam kampus) telah dikonstruk secara sistematis oleh rezim orba untuk meyakini bahwa rambut gondrong adalah benar-benar buruk dan olehnya itu ia harus diberantas. Mereka itulah yang termasuk sebagai korban kuasa stigma dan represi ingatan (Tri Guntur : 2009), Sebab Sejarah mencatat bagaimana orde baru melakukan konstruk citra atas rambut gondrong, dengan kata lain bagaimana rambut gondrong dicitrakan melalui media yang setiap harinya singgah dan menguasai ingatan mereka.

Sejarah tersebut terbukti kebenarannya ketika di awal tahun 70-an, disamping  pemberantasan langsung atas rambut gondrong pencitraan buruk terhadapnya pun terus dilakukan lewat media massa, misalnya saja di harian Pos Kota pada tanggal 05 Oktober 1973 dilansir berita berjudul “7 Pemuda Gondrong Merampok Biskota”, juga pada tanggal 11 Oktober 1973 di harian yang sama terbit berita berjudul “Waktu Mabuk Di Pabrik Peti Mati : 6 Pemuda Gondrong Perkosa 2 Wanita”, kemudian di harian Angkatan Bersenjata pada tanggal 29 September 1973 menerbitkan berita berjudul “5 Pemuda Gondrong  Memeras Pakai Ancaman”, selanjutnya pada harian yang sama tanggal 18 Oktober 1973 terbit lagi berita tentang kecelakaan yang berjudul “Disambar Si Gondrong”, dan masih banyak lagi bukti-bukti pencitraaan gondrong melalui berita, baik cetak maupun elektronik.

Berita-berita di atas telah berhasil memberikan pencitraan atau kesan negatif terhadap rambut gondrong, dan secara terus menerus modus pencitraan itu dilakukan hingga akhirnya hadir dalam ingatan orang-orang bahwa rambut gondrong telah identik dengan “Pemerkosa”, “Pemeras”, “Perampok”, “Perampas” dan “Pemabuk”serta seluruh kata-kata yang erat kaitannya dengan tindak kriminal dan mengganggu ketentraman umum, diperkuat lagi oleh hasil penelitian yang dilakukan Aria W. Yudhistira yang berkesimpulan bahwa jarang bahkan tidak pernah ditemukan dalam pemberitaan media tentang pelaku kriminal yang  berciri-ciri botak, gundul , dan cepak (tentunya ini dilakukan sebagai upaya menghindari pelecehan citra ABRI dan penguasa lainnya), seolah perbandingan tersebut memberi kesan suci pada yang botak, gundul dan cepak. Hingga kini, kuasa stigma dan represi ingatan tersebut belum hilang dari kepala orang tua pada umumnya, rambut gondrong masih menjadi momok ketakutan dan kecemasan kalangan tua, Padahal, mereka lupa dengan model rambut dan pakaian Soeharto beserta TNI-nya sebagai pelaku holocaust terkejam di abad 20 yang berhasil membantai manusia Indonesia hingga lebih dari 1000.000 jiwa sebagai syarat memancangkan kursi kekuasaannya, juga mereka lupa model rambut dan pakaian pencuri uang 6,7 Triliun pada Bank Century, juga koruptor alat simulator SIM di POLRI, dan juga seluruh model rambut dan pakaian  koruptor dan komprador bangsa yang tak sempat penulis sebutkan satu persatu namanya.

Dan akhirnya, Pelupaan-pelupaan dan stigmatisasi rambut gondrong itu pulalah yang sangat memengaruhi bagaimana sikap kampus dalam  memandang, menindak dan menistakan mahasiswanya yang berambut gondrong. Meskipun sampai hari ini mereka tidak bisa menjawab dengan benar pertanyaan : “Mampukah para Bapak dan Ibu pintar membuktikan secara ilmiah, eratnya kaitan antara rambut gondrong dengan tingkat pengetahuan ataupun moralitas dan kepribadian seseorang?

Di Balik Pelarangan Gondrong                                                                                                    

   Sejarah pelarangan rambut gondrong adalah sejarah praktik kekuasaan para diktator untuk mempertahankan kekuasaannya (status quo), tanpa protes dan tanpa rongrongan dari rakyat yang muak atas penindasannya. Rezim kolonial telah berhasil melakukan itu dan setelah merdeka diteladani secara sempurna oleh rezim Orde Baru (Orba) yang dinahkodai oleh diktator-fasis Jenderal Angkatan Darat Soeharto. Akhir periode pertama pemerintahan Orba, tepatnya pada tahun 1970-an di bawah instruksi Soeharto melalui Panglima Komando Operasi Pemulihan Keamanan & Ketertiban (PANGKOPKAMTIB) dibentuk lembaga yang bernama Badan Pemberantasan Rambut Gondrong (BAKORPERAGON) yang berfungsi untuk memberantas seluruh pemuda dan mahasiswa yang berambut gondrong (Arya Wiratma : 2010). Dibantu dengan TNI yang bersenjatakan gunting mereka mencari seluruh pemuda dan mahasiswa yang berambut gondrong untuk dicukur paksa, mereka turun ke jalan, masuk ke dalam kampus, sekolah, dan menyisir tempat-tempat yang diketahui banyak pemuda dan mahasiswa di dalamnya. Alasanya, tidak lain dari persoalan yang menganggap bahwa rambut gondrong adalah tidak rapi, tidak sopan, tidak sesuai dengan budaya bangsa, tidak mencerminkan sikap peduli (baca: apatis-asosial) dan masih banyak lagi tidak tidak mereka yang sangat tidak rasional.

Soeharto telah tumbang, Orba tersingkir oleh reformasi. Hal itu  bukan berarti bahwa ia telah hilang begitu saja, sebab meski fisik soeharto telah tumbang bahkan mati sekalipun, namun secara ideologis mendiang Soeharto tetap hidup dalam paradigma orang-orang yang penulis sebut sebagai “Anak Rohaniah” Soeharto,diantaranya ialah  mereka yang diamanahkan untuk mendidik kami di kampus UIN Alauddin ini. Praktis seperti yang dilakukan oleh soeharto di eranya, “anak rohaniah” itu juga berlaku represif terhadap mahasiswa berambut gondrong, bahkan ada seorang ketua jurusan yang dengan sepucuk guntingnya memberangus secara paksa rambut mahasiswanya, persis seperti pasukan KOPKAMTIB.

Hingga tulisan ini terbit di hadapan pembaca pelarangan rambut gondrong pun tetap eksis, namun di samping eksistensinya juga hadir spirit pelawanan terhadapnya. Perlawanan dari mereka yang menganggap bahwa pilihan sadar untuk berambut gondrong adalah hak azasi bagi setiap individu, dan tak seorang pun berhak melarangnya selama pilihan tersebut tak mengganggu kentraman dan  tidak mengganggu aktivitas akademik, hal ini senada yang dikatakan oleh Arief Budiman ketika memprotes aksi-anti rambut gondrong di masanya ; “….pada dasarnja persoalan rambut gondrong adalah persoalan selera, bukan persoalan yang mengganggu ketentraman umum. Dan dalam masalah selera, bila selera umum jang dianggap hukum jang sah untuk menindak selera jang chusus, maka jang terdjadi adalah bukan lagi demokrasi, melainkan ‘diktatur kolektif’”. Tidak hanya itu,  perlawanan terhadap pelarangan tersebut juga getol dilakukan oleh mahsiswa yang memahami bahwa palarangan rambut gondrong faktanya hanyalah upaya kampus untuk melakukan domestifikasi terhadap nalar kritis mahasiswa –persis yang dilakukan orba untuk membungkam gerakan masiswa demi kelangsungan kekuasaan diktatornya yang mengatasnamakan pembangunan–, sebab dengan kekuasaan kampus bisa melakukan apa saja untuk mempertahankan segala sesuatu yang menguntungkan Rezimnya (status quo), termasuk dengan cara membuat aturan hukum, ya !, aturan hukum tentang pelarangan rambut gondrong dengan segenap sanksinya yang membuat takut adalah salah satu strategi ampuh untuk melakukan kuasa atas diri mahasiswa, ketika mahasiswa dikuasai maka kontrol terhadapnya menjadi mudah, dan ketika kuasa dan kontrol mencengkram di atas rasa takut yang berlangsung terus menerus maka pembungkaman nalar kritis mahasiswa adalah konsekuensinya. Bungkam dalam anggapan kehidupan kampus dalam keadaan baik-baik saja. Akhirnya, kampus yang kenyataannya bukan institusi suci bebas melakukan seluruh niatan kotornya dengan mengatasnamakan peningkatan kualitas pendidikan demi terwujudnya masa depan yang cerah bagi seluruh mahasiswa.

                                                                                                                                                                  *Penulis adalah Kader Himpunan Mahasiswa Islam yang berambut gondrong tanpa prestasi, aktif melakukan propaganda dalam membangun kesadaran kritis dan basis perlawanan…

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami