Kondom Sang Raja

Facebook
Twitter
WhatsApp
SYAHDAN, di sebuah negeri antah berantah, tersebutlah seorang raja dan perdana menterinya yang pusing tujuh keliling dengan tingkah rakyatnya. Setiap hari dia dibuat bingung oleh kabar dan laporan intelijennya tentang semakin banyaknya praktik seks bebas di negerinya.
Sebenarnya seks bebas tidak dilarang. Namun, seks bebas itu menjadi biang banyaknya rakyat tertular wabah penyakit HIV-AIDS. Para hakim di negerinya juga bikin bingung. Hakim-hakim rajin berdemonstrasi menuntut kenaikan gaji. Musababnya adalah jadwal kerja mereka semakin panjang dan padat. Itu gara-gara semakin banyak perkara tindak pidana lupa memakai kondom (TPLMK) yang harus mereka sidangkan.
Yups! Di kantor-kantor pengadilan di negerinya, hakim bahkan harus membentuk unit khusus TPLMK. Karena hakim TPLMK tidak cukup, maka semua hakim diberi tugas tambahan ikut mengadili kasus TPLMK itu.
“Saya heran. Macam manapula rakyatku itu. Eh kau, menteri perobatan dan perdukunan… apa saja yang sudah kau bikin?” Tanya paduka dalam salah satu rapat khusus negara dengan pada kabinetnya.
“Siap paduka. Kampanye memakai kondom sudah kita lakukan hampir setiap hari, di semua daerah, termasuk di desa-desa. ATM Kondom juga sudah didirikan di mana-mana. Di dalam kampus, wilayah kos-kosan mahasiswa, di pasar-pasar, dan mobil angkutan umum, sudah dipasangi ATM kondom. Bahkan di toilet-toilet. Hampir setiap hari juga kita bagikan kondom gratis bagi mereka yang kurang mampu,” ujar sang menteri perobatan.
“Bagaimana dengan branding dan reklame-reklame?” Tanya raja.
“Siap paduka. Hampir semua mobil bus kota sudah dipasangi iklan kondom. Termasuk di dalam ruang perkantoran. Di dinding-dinding ruang kelas siswa dan mahasiswa sekeliling ruangan dipasangi poster ‘wajib pakai kondom bagi yang belum beristri’,” jelas sang menteri.
“Lalu, bagaimana dengan minat memakai kondom?” Tanya raja kepada kepala badan pemberdayaan lelaki dan kondomisasi (BPLK).
“Ini juga kami heran paduka. Konsumsi kondom terus meningkat, sekitar 20 persen pertahun. Tapi pelaku TPLMK yang menyebabkan banyaknya anak tak diharap lahir dan memicu penularan AIDS, juga meningkat 20 persen. Bahkan lebih,” kata dia.
Sang raja semakin gusar. Masih terlalu banyak rakyatnya yang enggan memakai kondom, dan wabah HIV semakin menakutkan. Beberapa hari berlalu, dia kembali menggelar pertemuan. Kali ini dengan para produsen kondom. Beberapa produsen luar negeri juga diundang untuk mempresentasekan jenis kondom terbarunya.
“Ini produk terbaru kami Paduka. Namanya Trojan Super Duper Ekstra. Hadir dengan berbagai macam rasa, mulai dari stroberi, sampai aroma duren, termasuk aroma jengkol. Sesuai selera kebanyakan rakyat Paduka. Bahannya terbuat dari karet asli dan khusus, super tipis,” ujar salah satu produsen.
Sang raja langsung meneken kontrak.  Triliunan anggaran digelontorkan untuk megaproyek pengadaan kondom itu, tanpa dilakukan tender. Semua produsen yang hadir di rapat itu diberi jatah.
Rencana itu berjalan dengan baik di awal-awal. Namun, belum efektif menurunkan angka penderita Aids. Sang raja terus mengumpulkan kabinet, dukun dan ahli perobatan. Sejumlah reklame bahkan layar audio visual, yang memeragakan cara memakai kondom berdiri di jalan-jalan kota, dan alun-alun kerajaan.
***
“Suruh dayang ambilkan saya sikat. Anu saya gatal,” ujar sang raja kepada permaisurinya suatu ketika. “Memangnya kenapa bisa gatal, Pa? Panggil dokter saja,” ujar sang permaisuri.
“Tidak usah. Ini cuma gatal biasa kok,” ujarnya. Berhari-hari kemudian, gatal di “anu”-nya raja berhenti. Ya, perkirannya benar, gatal itu memang biasa.
***
“Mungkin penanganan Aids ini harus dilakukan dengan cara-cara yang baru Paduka. Kita harus keluar dari cara-cara lama, karena sepertinya tidak berhasil,” ujar salah seorang penasehat kerajaan, suatu hari.
“Apa maksudmu?” Tanya sang raja.
“Jika paduka berkenan, mungkin kita juga harus menerima saran kalangan pemuka agama,wahai paduka. Kita harus melarang praktik seks bebas,” saran penasehat raja, dengan wajah menunduk.
“Ah kamu! Bukankah sudah kuperingatkan bukan lagi zamannya kita ikut ulama, ikut nasehat pastur, dan tetek bengeknya itu. Mereka itu orang-orang kolot yang tidak tahu apa-apa tentang ini. Sudahlah. Kamu urus saja agenda kampanye kondom ini,” ujar sang raja.
Dengan jubah kebesarannya, Raja  keluar dan berdiri di salah satu balkon istananya. Dia merasa “anu”-nya kembali gatal. Sambil menggaruk, dia ingat, semalam dia memang sudah bercinta dengan (mungkin) lima orang wanita selir istana. Tapi apa iya, gara-gara itu kemaluannya menjadi gatal? Dia mengingat-ingat, ada empat buah kondom yang dia gunakan malam itu. Tapi selir yang dia setubuhi kurang jelas, empat kah, lima atau enam orang? Pikirannya dipenuhi pertanyaan.
Pertanyaan membuat kepalanya pening. Bahkan menjalar ke tubuhnya. Dia memanggil dayang-dayang dan minta diantar ke ruang tidur.
“Paduka demam. Panggil menteri perobatan dan perdukunan,” perintah permaisuri kepada dayang-dayang. Ya, menteri pengobatan yang sudah sekitar dua tahun bergabung di kabinet itu memang sekaligus menjadi dokter pribadi sang raja. Dia adalah jebolan fakultas kedokteran salah satu universitas ternama, di salah satu negeri yang liberal.
Karena ide menteri itu pula, kampanye kondom gencar dilakukan. Kerajaan membebaskan semua rakyatnya melakukan seks dengan siapapun, asalkan pakai kondom. Memang tidak mudah. Protes dari para pemuka agama berdatangan: “Kondomisasi sama dengan liberalisasi perzinahan,” protes salah satu anggota senat (politikus) dari kalangan kiyai di negeri itu, sebelum dia diberhentikan sang raja.
“Anu”-nya sang raja semakin gatal, dan demamnya semakin meninggi. Sang menteri perobatan datang, dengan jalan yang lambat. Dia juga terlihat lemas. Kantung matanya gelap.
“Anu saya gatal, tolong kau lihat,” ujar raja kepada menteri. Menteri membuka celana sang raja, dan melihat pembengkakan pada kemaluannya. Ada bercak dan peradangan pada kulit sekitarnya.
“Tidak apa-apa paduka. Cuma alergi karena bakteri biasa ini, mungkin pengaruh makanan. Sebentar juga sembuh,” ujar sang menteri, sambil ikut menggaruk kemaluannya.
Raja yang lemas memperhatikan wajah dan tingkah menteri perobatannya yang terlihat lebih kurus. Dia tambah heran, saat melihat lengan dokter yang juga dipenuhi bercak. “Kenapa tanganmu? Itu luka yang sama dengan bercak di tubuh saya. Anumu juga gatal ya,” tanyanya.
“Sudahlah paduka, tidak ada yang perlu dirisaukan,” ujar sang menteri sambil memasukkan beberapa peralatan medis ke dalam tas, dan pergi dengan langkah tertatih.
Sang raja kemudian larut dalam kebingungan, dan tidur yang setengah  sadar. Dalam lamunannya, sejumlah pertanyaan yang dia abaikan dalam beberapa tahun belakangan kembali berseliweran.
Sudah benarkan kebijakan kondomisasi dengan mempersilahkan rakyat bercinta dengan pacar dan siapapun itu? Apakah kondomisasi yang besar-besaran itu mampu mengurangi Aids?
Sang raja sejenak berpikir: kebijakan itu sebetulnya justru membuka kotak pandora semakin maraknya praktik seks bebas.
Ya, mungkin kebijakan itu seperti gelinding bola salju. Semakin banyak kondom gratis, maka semakin banyak kesempatan melakukan seks. Frekuensi hubungan seks seorang warga dengan siapa siapapun akhirnya meningkat dari hanya satu kali menjadi lima kali, enam kali, sepuluh kali. Termasuk dirinya. Dan manusia, sebagaimana sifatnya yang tidak pernah puas, terus mencoba yang baru. Persentase seks tanpa kondom juga otomatis lebih besar.
Sang raja sudah melupakan peran guru, ulama, kiyai dan ustad, yang melarang berzina, dan membangun moral siswa. Namun apa daya, standar nilai itu diabaikan oleh kerajaan selama bertahun-tahun terakhit.
Sayangnya, pikiran itu tersimpan dalam folder tersembunyi di dalam otak sang raja. Dan dia terus larut dalam lamunannya, melayang, dan tidak sadarkan diri.
Bulukumba, 2 Desember 2013

Oleh: Hasbi Zainuddin, S.Sos.
* Penulis adalah mantan ketua umum UKM LIMA Washilah periode 2010-2011

  Berita Terkait

Rimpuh

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami