Marni duduk sambil menjajakan dagangannya ketika salah seorang crew Washilah datang mewawancarainya. Kepada washilah, ia mengaku kedatangannya kesini bersama suaminya sudah terhitung dua kali semenjak wisuda terkahir“ Dua kalima’ datang di sini, pernahka juga datang di tempat lain seperti Unm” ujarnya dengan logat Makassar yang kental.
Pedagang yang biasanya berdagang di pantai Losari ini mengaku penghasilannya di hari-hari seperti sekarang ini lebih banyak ketimbang hari-hari biasa “ lebih banyak’i sedikit dibanding hari-hari biasa, saya jadikan juga penghasilan tambahan, ” ujarnya. Mengenai informasi wisuda, kata Marni, ia dapatkan dari teman-teman.
Selain Marni ternyata pedagang lain memiliki pengalaman yang berbeda selama menjajakan dagangannya di UIN. Daeng tompo, lelaki penjual makanan dan minuman dingin ini mengaku pendapatannya selama hampir tiga kali ia berjualan di Wisuda seperti sekarang ini tidak pernah menentu “ tidak pernah tetap penghasilanku, karena saya cuma kerja sampingan saja, saya jual punya orang, nanti setor, kalau ada untung saya dibagi dengan yang punya” ujarnya sembari melayani pembelinya.
Meski terkesan dadakan, beberapa penjual yang hampir memenuhi tempat parkir Auditorium mengaku dapat meraup untung lebih jika dibanding hari-hari lain, meski mereka hanya jadikan pekerjaan sampingan. Tak hanya itu, kehadiran para pedagang ini seolah menjadi hiburan tersendiri bagi keluarga wisudawan yang tidak kebagian tempat di ruang Wisuda.(LqZ)












