Menciptakan Biosekuriti Lewat Seminar Internasional

Facebook
Twitter
WhatsApp

Jumat, 23 September 2011 | Suryani Musi
Washilah Online-Dalam Islam ketika ditanyakan kepada siapa pertama kali kita mengabdi, ada hadis Rasul yang menyebutkan kepada Ibulah kita mengabdi baru kepada ayah. Nah, bagaiamana jika itu dikoneksikan dengan dua peternakan unggas? Untuk pemeliharaannya dibutuhkan tiga kali jawaban. Yakni biosekuriti, biosekuriti, dan biosekuriti baru yang lainnya.
Lewat seminar internasional yang diadakan oleh jurusan Peternakan Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universiats Islam Negeri (UIN)Alauddin Makassar, para pemateri mengajak peserta untuk menciptakan biosekuriti. Biosekuriti yang dimaksudkan adalah perlindungan hidup yang dilakukan kepada ternak unggas untuk manusia juga pada akhirnya, Jumat (23/09/2011).
Kegiatan tersebut berlangsung dengan peserta yang membludak digelar di gedung Auditorium kampus II Samata Gowa. Dengan tema Biosecurity of Poultry for Healthy Consumption, hadir pemateri-pemateri yang berkompeten.
Seperti Dr Frans G Davelaar dari Belanda, Hikmah M Ali dari Univeristas Hasanuddin, dan Drh Nurlina Syaking M Kes dari Food and Agriculture Organisation (FAO) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Dr Frans membahas bagaimana menciptakan biosekuriti pada peternak unggas, pentingnya untuk menjaga kesehatan karena nantinya akan terjangkit juga kepada manusia lewat kontak langsung, maupun tidak langsung.
 Selain itu dia juga menekankan tiga pilar dalam biosekuriti ini yakni solusi, kontrol pengaturan untuk keluar masuknya unggas maupun orang dari kandang, serta pentingnya sanitasi, baik dari dalam kandang maupun dari luar kandang.
“Tujuan dari biosekuriti itu sebenarnya untuk mencegahnya suatu penyakit pada unggas, mencegah berkembangnya penyakit jika penyakit itu telah ada di dalam, atau mencegahnya menular secara meluas,” kata Drh Nurlina Syaking M Kes.
Sementara Hikmah M Ali menekankan bahwa potensi besar perunggasan harus didukung dengan data profil usaha dan stake holder. Yang terkait untuk menerapkan biosekuriti menghadapi tantangan pengendalian penyakit unggas yang semakin kompleks.
 Terlebih melihat perkembangan usaha perunggasan komersial di Sulawesi Selatan (Sulsel) sanagt pesat, yakni berada pada kisaran produksi 200% dalam jangka waktu lima tahun.

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami