Palukka di Penghujung Siri’

Facebook
Twitter
WhatsApp

Oleh: Suryani Musi*

Maman, Tini, Bejo, Acin, Wawa…
Cahaya lilin meliuk-liuk ditiup angin. Dullah duduk mencangkung di atas kursi tua. Kerlap
-kerlip cahaya bergoyang di bola matanya. Dari tadi dia ada di sana. Dalam posisi yang sama, dalam ekspresi yang sama. Dingin. Keras. Yang berubah hanya lilin yang kian surut ke bawah, meleleh. Diganti. Meleleh. Habis. Diganti. Meleleh. Habis.
Tengah malam, tiba-tiba hujan mereda dengan cepat dan tidak lama kemudian tuntas, meninggalkan kelengangan yang dingin. Bunyi radio transistor di warung sebelah serak terseok-seok mengalunkan lagu dangdut, membuat orang-orang yang terbuai makin larut dalam mimpinya. Angin bangkit bergetar di dahan dan dedaunan, menjatuhkan bintil-bintil embun. Nguik kecil anak-anak kucing menyusup di telinganya dari balik dinding. Jelas bukan seekor. Mungkin kucing tetangga yang terjebak hujan, atau mungkin pula kucing liar yang biasanya dijumpai di pasar. Ah persetan!
Dullah menggeliat. Kursi bambu yang ditempatinya berderat-derit. Ditepuknya nyamuk kecil yang dari tadi menempel di dahinya. Seketika nyamuk buncit itu kempes membentuk darah hitam memanjang di muka dan tangannya. Dullah menghela nafas panjang. Melemparkan pandangan keluar. Dia hanya bisa menangkap gelap meski lensa matanya sudah terbiasa mengenali cahaya kegelapan.
Sejenak dia berjingkat-jingkat melangkah di atas tanah lembab lantai gubuknya. Dilihatnya tubuh istrinya yang membuncit di antaranya tubuh-tubuh anaknya yang memperlihatkan bayang tulang iga yang samar. Dia berjongkok. Mengusap perut istrinya. Mengecupnya pelan. Dalam pejam ada kilau air yang membentuk kristal menetes di pipinya,sejenak dia terlihat begitu tersiksa. Kehidupan yang keras membuat wajahnya terlihat begitu tua dari umurnya yang sebenarnya.
Maman, Tini,Bejo, Acin, Wawa…
Ragu yang merongrongnya dari tadi sirna seketika. Sekali lagi memandangi anaknya satu persatu. Ada perih menoreh di dadanya. Dengan langkah pasti dia membuka pintu. Udara dingin yang samar langsung menyambutnya. Dia meraba jimat kecil yang terselip di pinggangnya,memperhatikan di sekelilingnya, memastikan. Matanya awas ke depan, seakan membor dan menembus kegelapan yang tak bertepi. Matanya terpejam. Mulutnya komat-kamit dengan tangan yang bergerak-gerak tanpa ritme yang teratur.
Dullah melipir jalan setapak yang becek sepanjang jajaran pohon randu di rumahnya, sampai di tepian kali kecil, dia menarik sarungnya ke atas, menceburkan pantatnya ke air beberapa saat lamanya. Kemudian bangkit lagi menyisir tepian kali itu. Di sebuah persimpangan jalan, dia memasuki rumpun bambu, titik-titik air barjatuhan secara serentak ketika tak sengaja menyenggolnya, setelah itu keluar ke daerah persawahan. Suara kodok bertabur diseluruh daerah yang dilewatinya. Kampung-kampung masih tersembunyi di balik gerombol pohon-pohon yang membentang jauh dan samar. Cahaya listrik kota berkelap-kelip bagai kunang-kunang.
Kakinya seakan punya mata, bergerak lincah dalam gelapnya malam kendati sesekali terpeleset ketika menginjak daun dan gedebong pisang. Itu jika jalan menurun atau ketika melompati kubangan di depannya. Ada letupan aneh di dadanya. Mungkin karena baru kali ini dia nekat melakukan hal ini. Kembali dia melompat ke sana ke mari. Dia melangkah seperti dibimbing oleh tenaga yang jauh berada di luar dirinya, yaitu keajaiban kehidupan yang menyeru-nyeru sepanjang waktu. Gambaran kehidupan yang sebenarnya belum pernah terwujud tapi dia bersikeras menangkap bayang itu. Namun sendi-sendi kehidupan yang digapainya masih itu-itu juga.
Semakin dekat memasuki daerah pusat perkotaan, semakin cepat dia melangkah. Seluruh jalan yang dia lewati tidak pernah menyisakan bunyi dan bekas tapak. Bumi semakin mati. Bunyi kodok yang dari tadi bersahut-sahutan satu persatu bungkam. Jangkrik diam tak mengerik. Tidak ada suara kendaraan terlebih suara manusia. Mati. Bumi, tanah dan langit tunduk kepadanya.
Laki-laki itu mengeluarkan kelewang. Mencungkil jendela. Hanya sekali sentak, jendela terbuka. Sisa-sisa air hujan merembes dari badannya membentuk bayangan yang berujung di kakinya, membentuk tapak di ubin. Dua tiga kali melangkah, jejak-jejak itu seakan ada yang menyedotnya langsung hilang begitu saja. Mata telinga dan seluruh panca indranya berfungsi baik. Pelan-pelan dia bergerak ke ruang tengah. Memasuki kamar demi kamar. Dia berhasil mendapatkan apa yang diimpikannya di kamar terakhir. Emas yang berliontin beserta permata dari leher pengantin yang tertidur lelap.
Dia tahu persis dari mana emas itu datangnya, siapa lagi kalau bukan hadiah dari si haji Sobri untuk perkawinan anaknya. Sobri yang tamak dan lintah darat yang mengisap seluruh harta kekayaan kampungnya yang berkilo-kilo jauhnya di sana. Tanpa menyisakan apapun kecuali hantu yang bernama kemiskinan tanpa ujung. Dia capek. Kemiskinanlah yang telah memperkenalkannya pada kehidupan yang sebenarnya yang hanya terdiri atas hitam dan putih.
Dia mencopoti seluruh perhiasan berharga di rumah itu. Anting, gelang, permata… habis tergasak tanpa sisa. Demi Maman, Tini, Bejo, Acin, dan Wawa tak lupa calon anaknya yang mau lahir. Dengan gerak ringan, dia meninggalkan rumah itu. Laki-laki itu menembus malam yang kian menua.
Sepanjang jalan berbagai pikiran pun yang melintas di kepalanya. Sebetulnya dia sudah capek memikirkan mereka. Memikirkan penyumpal apa yang akan menutup mulut anaknya supaya tidak menangis setiap hari. Belum lagi baju mereka. Mainan mereka. Sekolah mereka. Sekolah? Dullah kaget sendiri. Anak sulungnya sudah menginjak umur sepuluh tahun tapi belum juga mengenal bangku sekolah. Dia mendesah sendiri. Mau tidak mau pikirannya lari lagi ke mereka. Maman, Tini, Bejo, Acin, Wawa, dan calon bayinya…
Tapi Dullah bangga pada wanita yang merelakan benihnya lahir lewat rahimnya itu, wanita tegar yang tidak pernah kehilangan senyum kesabaran. Wanita yang begitu tabah menerima segala apa yang ada pada dirinya.Wanita yang tidak pernah bosan kepadanya. Dia begitu bangga, bangga sekaligus tersakiti tatkala wanita itu bagai karang dalam penderitaan.
“Daeng… dalam diri semua orang ada dua macam manusia. Yang pertama, manusia rohani yang mencari kebahagiaan untuk dirinya ji, kebahagiaan yang harusnya menjadi kebaikan untuk orang lain; sedangkan yang kedua, manusia binatang yang mencari kebaikan untuk dirinya sendiri, dan untuk kebaikan itu dia mau mengorbankan yang seharusnya untuk dunia*…mengertiki Daeng? Jangan sampaiki lupa sama siri’! siri’ Daeng”
Lelaki itu menghela nafas panjang dia tidak tahu dari mana kata-kata itu didapat oleh istrinya. Kata-kata yang sarat dengan filosofi, begitu bijak, penuh makna. Tapi semenjak dia mengenal dirinya dia mulai muak melihat kepalsuan-kepalsuan di sekelilingnya. Kenyataan-kenyataan telah membuatnya kecewa. Dia mulai jenuh dengan basa-basi. Seandainya bukan karena istrinya, seandainya bukan karena cintanya, seandainya bukan karena buah hatinya, dia tidak bisa membayangkan akan seperti apa jadinya dirinya.
“Cukup malam ini aku jadi palukka, ndi’,…” Bisiknya parau dalam hening yang beku. “Berapa hari lagi anak kita lahir, aku tidak tega Maman dan Tini merengek-rengek minta sekolah, Bejo yang selalu menghilang dari rumah untuk mencari makan sendiri, Acin yang mau dibelikan obat karena suhu badannya belum turun meski sudah dua minggu, dan Wawa yang busung lapar… juga kau ndi’ yang selalu merelakan makanan yang terlanjur ada di mulutmu demi anak kita. Cukup malam ini ndi’ aku jadi palukka… cukup malam ini saja. Manusia binatang yang sering kau sebut-sebut tidak pernah dan tidak akan ada jika anak-anak tertidur pulas dalam kenyang…” Dia tersedu sendiri meraba kantongan yang berisi perhiasan di balik sarungnya.
Mendadak lamunan laki-laki itu rontok bagai permata berhamburan di tanah yang becek. Sejenak dia tertegun, tepatnya, kaget. Sayup-sayup dia mendengar suara yang bersumber dari mesjid yang tidak jauh dari tempatnya berjalan. Kepalanya mendongak, telinganya awas. Dia memegang jimatnya, mulutnya komat-kamit. Matanya terpejam seraya berjalan lambat.
Assalatu khairun mina nnauuuum…..
Suara itu serak, panjang, dan tertatih-tatih. Entah kenapa dia jadi merinding. Bulu kuduknya berdiri. Langkahnya berat. Di antara rimba-rimba kegelisahan hatinya yang nun jauh di dalam, ada sesuatu penawaran yang damai yang membuatnya antara ragu, takut, dan malu. Bercampur aduk membuatnya jadi gelisah, sekuat tenaga dia mencoba melawan suara itu. Memang baru kali ini dia mempergunakan jimat ini semenjak dia telah menikah. Jimat warisan nenek moyangnya dan dia tahu bagaimana terhinanya mereka yang sudah ada di balik batu nisan, raja dari segala raja kejahatan. Karena diakah yang lemah sehingga suara adzan itu tidak berhenti dan tidak membuat muadzinnya tertidur? Ataukah karena muadzin itu lebih memiliki ilmu yang lebih tinggi? Kegelisahan kian mencekamnya. Kaki ini, kaki sialan ini tetap bergerak ke sana meski pikiran, perasaan, dan tubuhnya mencoba untuk menolak.
Ada yang tidak beres. Nuraninya membisikkan itu, semakin kuat dia menolak semakin tidak kuasa pula menarik kakinya untuk melangkah mundur. Lelaki itu geram sendiri. Merasa dipermainkan. Dia mecabut kelewang, pada subuh yang samar kelewang itu mengkilat-kilat. Kali ini izinkan daeng jadi pembunuh ndi’ demi siri’ demi harga diri. Namun lagi-lagi dia kalah, belum apa-apa tiba-tiba ada rengkuhan lembut yang singgah di bahunya. Dullah benar-benar kaget dalam belalak.
“ Mariki sholat dulu nak…” Laki-laki tua itu membimbingnya masuk, melepaskan alas kakinya di depan mesjid, sorban putih yang bersulam emas menyampir di bahunya. Dullah memperhatikan laki-laki itu secara seksama. Ada aura bening yang terpancar dari wajah dan mata itu. Aura kedamaian, aura kesejukan. Sejenak Dullah ragu tapi pada akhirnya turut juga seperti kerbau yang dicocok hidungnya. Laki-laki tua itu mangambil kelewang dari tangan Dullah dan meletakkannya di belakang. Perlahan meraba kantongnya yang ada di balik sarung dan lebih aneh lagi dengan sopan meminta jimatnya dilepas. Lagi-lagi Dullah menurut tanpa komentar, tak berdaya.
“Dullah…” Tangannya sudah ada dalam genggaman kakek tua itu seusai mereka sholat. Dullah bungkam seribu bahasa, kaget,mereka belum saling memperkenalkan diri.
“Emas itu bukan milikmu. Kamu lakukan itu demi anak-anakmu kan? Dari hasil itukah kau ingin membesarkan mereka Dullah? Kita menjunjung siri’ na pacce anakku. Sudah hilangkah gaung itu di dadamu? Itu bukan hakmu tapi haknya haji Sobri”. Dullah menunduk.
“Istrimu sebentar lagi melahirkan, tegakah kau memberinya makanan yang haram, siapa tahu itu adalah makanan terakhirnya? Seharusnya kaulah yang selalu patettongengngi lempu’e anakku…” Dullah meremas tangannya yang gemetaran. Keringat dingin merembes di pelipisnya .Dia menjerit dalam hati sekuat-kuatnya.
“Allah mempercayaimu dengan menitipkan makhluk-makhluk kecil-Nya kepadamu. Karena Dia yakin kau bisa menghidupinya bukan dengan jalan ini anakku. Kau mestinya mencamkan siri’,lempu,ada tongeng di dadanya semenjak dia kecil!”
Dullah menangis tanpa suara.” Tapi mereka mau makan apa?” ucapnya kering. Laki-laki tua itu terkekeh, sejenak terbatuk-batuk.“Kau cengeng Dullah. Buka matamu lebar-lebar, pandangi sekelilingmu. Masih banyak yang lebih kekurangan daripada kau. Kau masih punya penghasilan sebagai tukang suruh-suruh di rumah haji Sobri. Kau masih punya istri yang setia mendampingimu. Kau masih punya anak-anak yang bisa dibentuk melalui sentuhan tangan istrimu, kau masih sehat, kau masih mempunyai anggota tubuh yang lengkap. Kau hanya terlalu cengeng dan suka ditunggangi oleh manusia binatangmu. Kau ingat kan ucapan-ucapan istrimu? Tentang dua macam kepribadian dalam diri manusia? Kau ingat?” Laki-laki itu terkekeh kemudian mengembalikan semua milik Dullah. “Kembalikan pada yang berhak!”
Sejurus Dullah termangu.(*)

* Leo Tolstoi. Simbol kepujanggaan yang telah melahirkan novel utama sastra dunia (Doina I mir) artinya Perang dan Damai.

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami