Ishak Ngerlajaran Tidak Pusing dengan Aliran Sesat

Facebook
Twitter
WhatsApp

Laporan | Suryani Musi

Washilah Online-Tidak pusing mengenai dengan adanya aliran sesat yang marak dibicarakan oleh media. Hal tersebut disampaikan di acara temu Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Indonesia Timur Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar di gedung Training Centre UIN Alauddin Makassar, Rabu (15/06/2011).
“Saya tidak pusing dengan adanya aliran sesak di Indonesia. Jika alirannya sesak, setidaknya akalnya masih bagus. Tapi, jika kelakuannya sesat itu yang bermasalah,” katanya ketika membawakan makalah yang berjudul Keberagaman Agama dalam Menciptakan kerukunan Bermasyarakat ‘Aliran Sesat, terorisme, dan Konflik sara di Indonesia’.
Kelakuan sesat dinilai sangat merugikan masyarakat, bangsa, dan Negara. Mulai dari tanah dan laut digerus dengan habis. Kelakuan tersebut juga ditambahkan oleh prof Dr Hamdan Juhannis salah seorang Professor termuda UIN, bahwa kelakuan sesat tersebut dimulai dari ketidakjujuran.
Ketika para peserta ditanya siapa yang tidak pernah menyontek sejak kecil, tidakn ada yang mengangkat tangan sama sekali.
“Menyontek adalah varian lain dari bohong. Korupsi juga merupakan bagian dari varian tersebut,” kata Prof Hamdan.
Meskipun Indonesia mayoritas beragama Islam, akan tetapi pelaku yang tidak terpuji di mana-mana. Ishak menyatakan bahwa orang bodoh yang tidak mau menerima Islam. Islam yang dimaksudkan olehnya adalah Islam dalam bentuk tingkahlaku, perkataan, dan hubungan kepada sesama. Meskipun bukan dalam bentuk symbol-simbol.
“Bagaimana jika kita bongkar masjid dan gereja sehingga tidak ada lagis sekat-sekat yang selalu membuat perpecahan. Kita kemudian berpegangan tangan dalam kebersamaan dengan pijakan tanah dan beratapkan langit,” katanya.
Prof Hamdan saja mengatakan bahwa orang yang beragama jusru kadang bersifat lebih Islami dari orang Islam sendiri. Mulai dari etos kerja, kejujuran, dan kedisiplinan.
“Mungkin lebih bagus jika kita tidak tidak beragama. Karena justru orang yang beragamalah yang sering mengatasnamakan agama untuk melakukan kekacauan,” kata Prof Hamdan.

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami