Indonesia Timur yang Paling Berhak Bicara SARA

Facebook
Twitter
WhatsApp

<!–
/* Font Definitions */
@font-face
{font-family:”Cambria Math”;
panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4;
mso-font-charset:1;
mso-generic-font-family:roman;
mso-font-format:other;
mso-font-pitch:variable;
mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;}
@font-face
{font-family:Calibri;
panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4;
mso-font-charset:0;
mso-generic-font-family:swiss;
mso-font-pitch:variable;
mso-font-signature:-520092929 1073786111 9 0 415 0;}
/* Style Definitions */
p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal
{mso-style-unhide:no;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
margin-top:0in;
margin-right:0in;
margin-bottom:10.0pt;
margin-left:0in;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-fareast-font-family:Calibri;
mso-fareast-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}
.MsoChpDefault
{mso-style-type:export-only;
mso-default-props:yes;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-fareast-font-family:Calibri;
mso-fareast-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}
.MsoPapDefault
{mso-style-type:export-only;
margin-bottom:10.0pt;
line-height:115%;}
@page Section1
{size:8.5in 11.0in;
margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in;
mso-header-margin:.5in;
mso-footer-margin:.5in;
mso-paper-source:0;}
div.Section1
{page:Section1;}
–>

Laporan | Suryani Musi
Washilah Online- Dr Sabri AR menyatakan bahwa yang paling berhak untuk membicarakan tentang  Suku, Antar golongan, Ras, dan Agama (SARA) adalah mahasiswa atau para pemuda dari Indonesia Timur. Hal tersebut disampaikan ketika menghadiri cara Temu Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar di gedung Training Centre UIN Alauddin Makassar, Rabu (15/06/2011).
Pusat SARA tersebut menurutnya berada di kawasan Indonesia Timur. Negara hanya terbatas pada konsep seperti pemadam kebakaran jika terjadi konflik-konflik terjadi yang mengatasnamakan SARA.
“Sebetulnya, jika Negara hanya menjadi pemadam setiap ada konflik maka konflik tersebut tidak akan pernah mampu diminimalisir. Jadi, solusi terbaik yang musti dilakuka oleh para pemuda dari Kawasan Indonesia Timur adalah melakukan gerakan kultur untuk meredam konflik-konflik yang ada,” katanya di haapan para delegasi-delegasi perguruan tinggi Indonesia Timur.
Jika tigma yang mencuat di permukaan yang menyatakan bahwa SARA adalah selalu menjadi kambingg hitam setiap permasalahn yang ada san tak mampu selesai-selesai, maka Dr Sabri menyatakan bahwa sudah semestinya stigma tersebut dipatahkan oleh para mahasiswa dan menganggap bahwa SARA tersebut adalah ibu kandung di Republik ini.
“Jangan jadi anak Maling Kundang dan menjadikan bahwa SARA adalah kambing hitam setiap konflik,” tambahnya.

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami