“Sepi Tak Membunuhmu” oleh Ahmad Al Qadri

Internet

Ribuan manusia terjebak dalam dogma yang menyengsarakan dengan kekuasaan, semua karena ketakutan akan dikucilkan dan ditiadakan oleh sanak saudara dan kerabat.

Dengan sangat terpaksa ku lantangkan pada manusia dan hanya untuk manusia, selamat jalan paradigma kau telah mati dan layak dikuburkan.

Atas nama ketakutan pada kesendirian banyak manusia rela kehilangan kemewahan idealismenya.

Atas nama takut kehilangan pekerjaannya banyak manusia yang rela berbohong dan melawan kata hatinya.

Atas nama ketakutan kebagian jatah makan banyak manusia rela mencuri dan mengebiri sendiri kemaluannya.

‌Atas nama perbaikan diri dan tahta di hadapan manusia banyak yang rela menindis bawahannya.

Atas nama usia dan rentetan angka yang sedikit tua, banyak manusia yang menegakkan kepalanya dihadapan para manusia baru. Bertujuan mulia yang hengkang dari rumah halamannya dengan niat menelanjangi ilmu dan pengetahuan.

Paling sadisnya banyak manusia yang terlebih dahulu menelanjangi ilmu pengetahuan, tetapi membatasi pengetahuan saudara mudanya yang berniat melebihi darinya, maka terperangkaplah ia di ketiak sang pemilik usia.

Maka mulialah dia para manusia yang berani mengucilkan dirinya, dibakar hidup-hidup dan ditiadakan karena pegangan teguhnya pada idealismenya.

Dan celakanya para manusia yang kehilangan kemewahan terakhirnya tersebut, dan nampaknya aku masuk dalam daftar satu orang yang celaka itu.

Dan setelah dogma itu bersarang dan berkembang biak, setiap manusia yang tak sesuai dengan dogma adalah seorang yang sesat.

Karena memang kebenaran hanyalah milik para kuasa dan suara mayor.

Sudah terlalu banyak manusia yang menganggap dirinya benar karena kesalahan yang dia lakukan telah dilakukan oleh orang banyak, dan parahnya lagi menyalahkan manusia yang bertingkah benar tetapi dengan suara minoritasnya.

Bagi manusia di zaman jahiliah sungguh kesalahan para filsuf yang berani itu ialah karena berkesadaran, kepekaan dan berfikir bebas. Suatu kesalahan yang mulia, semoga zaman itu tak terulang.

Sudah terlalu banyak manusia yang lupa sedekah dan berbagi karena menggenggam buku di tangannya.

Dan sudah terlalu banyak manusia yang masih menghidupkan kuasa egonya, yakni dengan menilai baik sesuatu setelah apa yang dilakukan oleh orang lain adalah keinginannya.

Tenanglah, kuatkan pondasimu, mainkan seni membunuh egomu, jangan goyang sedikitpun, karena dikucilkan sifatnya tak membunuh.

*Penulis merupakan mahasiswa jurusan Jurnalistik Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) semester III

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*