Islam Muara Perjuangan Mahasiswa

Ahmadin

Oleh : Ahmadin

Kalau kita sudah banyak mengejar pola hidup sebagian mahasiswa yang mengemban ideologi kapitalisme dan sosialisme, tentu sebagai seorang muslim kita akan dengan tegas menolak dua bahaya laten ini.

Hal ini amat mendasar dan beralasan, karena kedua laten ini telah meletakan jabatan Allah sebagai pengatur hidup dan pengayom semua makhluk untuk pensiun dari mengurus manusia. Bagaimana tidak,  kapitalisme yang berakidah sekularisme (memisahkan agama dari kehidupan) mempunyai sebuah kaidah baku bahwa Allah itu tidak punya wewenang untuk mengurus manusia. Sedangkan sosialisme yang berpedoman pada akidah materialisme (materi sebagai sumber dari segala sesuatu) juga secara lancang telah mengubur Allah SWT dalam pikiran mereka. Mereka tak akan percaya tentang Allah sebagai sang maha pencipta.

Wahai mahasiswa baru, ketahuilah! Pada saat kita mengkaji secara mendalam eksistensi mahasiswa kini, setiap aktivitas yang dilakukan, beragam kegiatan keorganisasian yang dijalankan dan miliaran kata yang menjadi bahan perbincangan, sama sekali tak ada keterkaitannya dengan kebangkitan Islam. Padahal jika kita meninjau dunia hari ini, bencana besar berupa keterpurukan kaum muslimin di segala lini sudah sepatutnya kita ratapi. Cobalah simak penuturan Hasan Ali Nadwi akan hakikat keterpurukan umat Islam dan bagaimana seharusnya kita bersikap.

“Andai umat manusia memahami hakikat prahara yang terjadi, andai umat manusia bisa memperkirakan kadar kerugian yang dialami, ketika mereka mampu melepaskan diri dari belenggu fanatisme, niscaya mereka akan memperingati saat berawalnya kemunduran Islam, sebagai hari bergabung, mereka akan saling berucap salam dukacita, dunia akan mengenakan busana hitam tanda kematian.”

Pentingnya kita memfokuskan aktivitas sebagai mahasiswa pada sebuah upaya mengembalikan peradaban Islam tentu tidak hanya bisa dilakukan lewat kesalehan individu saja. Teramat picik jika kita memaknai Islam sebagai agama untuk mencari ketenangan dan saleh secara individu saja.

Islam adalah agama yang menghendaki segala aspek kehidupan untuk sesuai dengannya, tidak hanya individu, tidak hanya keluarga, tapi hingga negara dan peradaban. Untuk itu ucapan selamat datang ini sejatinya sudah harus dimaknai bahwa semenjak kita menginjakkan kaki di dunia kampus, perjuangan itu tidak terbatas pada kejar-kejaran dan adu cepat berebut Indeks Prestasi (IP). Lebih dari itu, mahasiswa muslim sebagai pemegang masa depan dunia Islam harus mulai bertekad untuk berjuang melanjutkan kehidupan Islam yang secara Institusi kenegaraan telah runtuh pada 3 Maret 1924. Misi mengembalikan kehidupan Islam ini tentu membutuhkan sistem dari syariat Islam itu sendiri sebagai institusi pelaksana syariah.

*Penulis merupakan mahasiswa Jurusan Jurnalistik Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) semester V

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*