Ibarat Hukum Bacaan Ikhfa, Idealisme Mahasiswa Hari Ini Samar-samar

Abdul Rahman Idris Mahasiswa Jurusan Kimia Fakultas Sains dan Teknologi (FST) UIN Alauddin Makassar

Oleh : Abdul Rahman Idris

Mahasiswa merupakan kelompok masyarakat yang memiliki hak istimewa dibandingkan dengan kelompok masyarakat lainnya. Secara alamiah, mahasiswa adalah kaum intelektual yang berkesempatan untuk mendapatkan dan mengaktualisasikan nilai-nilai keilmuan untuk memperjuangkan suatu kebenaran. Inilah yang menjadi hak istimewa bagi seorang mahasiswa.

Sebagai kaum yang memiliki predikat “Istimewa” itu, tentunya ada amanah berat yang harus mereka emban, ialah tugas dan tanggung jawab atas perubahan bangsa kedepannya. Untuk merealisasikan tugas dan tanggung jawab itu, ia difasilitasi oleh ruang-ruang untuk memperkaya intelektualitasnya seperti yang kita sebut dengan kampus dan ruang organisasi.

Diruang inilah mahasiswa juga dapat menempa diri dan karakter agar tetap menjaga idealismenya sesuai dengan peran dan fungsinya sebagai Agen of Change, Sosial of Control dan Moral Force.

Berbicara tentang gerakan dan idealisme mahasiswa, mahasiswa hari ini mengalami kontradiksi dalam gerakan dan idealismenya dalam pandangan masyarakat. Seperti yang terjadi akhir-akhir ini, aksi mahasiswa dengan tuntutan serupa yang digelar oleh beberapa kampus di berbagai wilayah ialah persoalan ekonomi, naiknya dolar dalam mata rupiah, impor pangan dan pesatnya Tenaga Kerja Asing (TKA) dan berakhir pada isu “Turunkan Jokowi.”

Aksi ini wajar saja menjadi kontradiksi di pandangan masyarakat, apalagi dalam situasi iklim politik untuk pemilihan presiden tahun depan. Banyak kemudian masyarakat beranggapan bahwasanya gerakan yang di gaungkan mahasiswa ini memiliki konten atau unsur politik oleh salah satu kubu kandidat kontestan politik pada pemilihan presiden, tak sedikitpun masyarakat yang mengatakan “mahasiswa sekarang suka makan nasi bungkus.”

Ibarat hukum bacaan Ikhfa, bertemunya nun mati dengan huruf lkhfa menghasilkan suara yang samar. Jeli melihat ketimpangan, namun terjerat dalam kepentingan sehingga menghasilkan suara-suara yang samar (antara idealis dan tidak idealis).

Jika benar adanya, gaungan-gaungan “Hidup Mahasiswa” itu untuk apa? Untuk “Mahasiswa Hidup?” Kasihan masyarakat kita, jembatan penopang aspirasinya dengan pemerintah sudah putus oleh ulah kita. Mari kembali kepada poros, sebagai garda terdepan perubahan bangsa yang baik. Sebab kata Tan Malaka “Idealisme Adalah Kemewahan Terakhir Yang Hanya Dimiliki Oleh Pemuda.”

Mahasiswa adalah pemuda, maka dari itu kemewahan terakhir yang mahasiswa miliki ialah idealisme. Jika tidak benar mohon diluruskan. Sebab kata Soe Hok Gie “Mendiamkan Kesalahan Adalah Kejahatan”.

Teman-teman mendiamkan tulisan saya dalam kesalahan tanpa argumen dan kritikan, berarti teman-teman membenarkan suatu kejahatan.

Mungkin hanya ini yang bisa saya sampaikan lewat tulisan ini dari sekian lamanya terjebak dalam labirin kebingungan.

*Penulis merupakan mahasiswa Jurusan Kimia Fakultas Sains dan Teknologi (FST) semester VII

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*