Selamat Datang Mahasiswa Baru : Hati-hati  Laten Sosialisme dan Kapitalisme

Oleh : Ahmadin

Wajah-wajah muda girang yang hampir semuanya termonopoli oleh sebuah anggapan bahwa masuk kuliah adalah awal kemenangan. Anggapan tersebut sudah banyak yang mulai masuk ‘indekos’. Tentu banyak pula rencana yang akan dilakukan.  Agenda ospek dengan ragam istilah baru jadi ritual utama yang mesti ditempuh. Selamat datang! Selamat datang mahasiswa baru di medan laga yang entah nantinya akan ditafsirkan seperti apa.

Satu fase sudah terlewat. Fase berikutnya akan menghantam secara cepat, rentetan tugas kuliah yang padat atau agenda akademik yang ‘haram’ untuk ditinggalkan, membuat sebagian mahasiswa ibarat ‘robot’ yang dikendalikan sang tuan. Tidak ‘merdeka’! Di antara mereka ada yang diliputi penuh kecemasan, tidak mau berpikir di luar beban akademik, namun anehnya sangat gemar hura-hura, gembira teler bersulang gelas, mudah main banting hingga tak sedikit yang membunting akibat pergaulan bebas.

Dunia Kampus dan Medan Tarung

Dunia kampus wadah mahasiswa saat ini hidup menimba ilmu dan mengadukan masa depan, disadari atau tidak telah membuat payah. Bukan sebuah rahasia lagi kalau desain kurikulum yang padat dan materialis, dengan jatah waktu yang semakin dipercepat, ditambah  situasi zaman yang hanya menawarkan persaingan, membuat dunia kampus berputar secepat-cepatnya menyamakan frekuensi dengan berputarnya peradaban global. Dengan tenggat waktu tertentu mahasiswa diharuskan untuk menyelesaikan 140 SKS. Perkuliahan dibuat padat, dunia kampus bergerak dan bergegas menyamakan langkah bersaing. Untuk memenuhinya, digelarlah lomba-lomba ilmiah, seminar internasional, pelatihan kewirausahaan, dan unit-unit kegiatan profesional. Dalam ‘galaksi’ yang berputar-putar seperti ini.

Jika berbicara makna idealnya tentang dunia kampus, yang pertama kali harus diurus adalah mendudukan peran mahasiswa sebagai penghuni utama kampus. Sehingga kerasnya teriakan “hidup mahasiswa,” di saat ospek tidak mampu diterjang egoisme mengejar masa depan pribadi. Apapun alasannya, derita dari ideologi kapitalisme harus sepenuhnya kita lawan. Kalau sama sekali belum mengerti , belajarlah segera, lawanlah segera. Karena yang membuat ketidakstabilan peradaban dewasa ini pun, biang keroknya ada di balik ideologi kapitalisme.

Kapitalisme yang membenam dalam balutan kepuasan material di kepala mahasiswa baru telah jauh memaknai kuliah sebagai investasi. Adanya pola pikir belajar yang dilandasi aspek untung rugi secara materi ini adalah salah satu penyebab yang membuat dunia kampus hilang kedinamisannya. Pola pikir tersebut tumbuh subur bersamaan dengan dominasi ideologi kapitalisme di segala lini. Mengakibatkan membuncahnya persaingan, semangatnya pertempuran namun hanya untuk memperebutkan secuil renten dan sepotong prestise.

 

Sementara itu, komunitas kecil sosialisme yang menjadi rival kapitalisme saat ini juga masih tumbuh di dunia kampus. Sosialisme menjadi pelarian sebagian mahasiswa yang muak dengan realitas kapitalisme. Mereka selalu berdiri atas dalih kerakyatan dan keadilan, lebih memilih berdandan urakan, menenteng kitab Hegelianisme dengan bangga. Namun sayangnya,-ide sosialis ini selalu dipegang oleh barisan anak alay yang sebenarnya cuma malas salat. Mereka meneriakan ide-ide seputar sosial dengan sudut pandang yang tak kalah kacau karena tidak ada bahasan agama dalam sosialisme, selain hanya menjadi kambing hitam yang dianggap sebagai candu. Aktivis sosialis akan lebih bermain dalam kerangka logika materi untuk memutar-mutar bahasan ketuhanan.

Bagi mahasiswa baru, tetaplah  waspada terhadap bahaya dua laten yakni, Sosialisme dan Kapitalisme. Keduanya tidak hanya dirasakan oleh satu dua orang, tapi akan berpengaruh pada  konstelasi sebuah peradaban. Tolak!

*Penulis merupakan mahasiswa Jurusan Jurnalistik Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) semester V

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*