Raja Gowa Identitas Kampus Peradaban

Washilah – Dijadikannya Islam sebagai agama kerajaan dan gerakan raja Gowa XIV, I Manga’rangi Daeng Manrabbia Tumenanga Rigaukannaa atau Sultan Alauddin dalam menyebarkan Islam di Sulawesi Selatan, menjadi cikal bakal beberapa komunitas kerajaan Gowa di Sulsel yang mengikuti islam sebagai ajarannya.

Hikayat Raja Gowa XIV Memeluk Islam 

Dikutip dari buku berjudul “Kerajaan Gowa Masa Demi Masa Penuh Gejolak,” ditulis Oleh H L Purnama. Ada tiga ulama asal Minangkabau bertugas menyebarkan Islam di Makassar ternyata pernah ditolak oleh Raja Gowa XIV,  proses negosiasi meyakinkan raja untuk memeluk Islam kala itu ternyata tidak mudah, melihat kerajaan Gowa sudah memiliki konsep kepercayaan yang khas dan sudah turun temurun.

Kepercayaan Bissu meyakini raja Gowa sebagai jalan para leluhur yang terbentuk dari konsep Hindu lama berpadu dengan konsep Budha, cukup sakral dipegang kuat oleh pemuka adat kerajaan Gowa, serta dijadikan landasan hukum yang absolut, dan memiliki supranatural yang luar biasa.

Menanggapi hal tersebut salah satu dosen Sejarah kebudayaan Islam Dr syamzan Syukur menjelaskan Raja Gowa XIV I Mangari Daeng Manrabbia tetap berhubungan baik dengan ketiga ulama itu dan pedagang Muslim yang masuk ke Sulsel, walaupun pada masa itu. Sultan Alauddin belum menerima Islam sebagai agama kerajaan.

“Hubungan baiknya itu bisa kita lihat ketika raja memberikan izin untuk mendirikan Masjid di wilayah Benteng Somba Opu,” Ucapnya saat ditemui diruangannya. Selasa (05/06/2018)

Setelah melalui proses panjang, Dato ri Bandang berhasil meyakinkan Sultan Alauddin dan melaukan rapat, dan pada tanggal 22 September 1605 Sultan Alauddin resmi menerima dan memeluk agama Islam.

Syamzan yang saat ini menjabat sebagai Wakil Dekan II Fakultas Adab dan Humaniora (FAH), menambahkan saat itu agama adalah milik Raja, dan negara adalah milik Raja. Maka dengan sendirinya ketika Raja memeluk Islam, sudah seharusnya diikuti oleh rakyatnya. Artinya, Islam secara tidak langsung diakui sebagai agama kerajaan yang wajib diikuti.

“Hanya saja tradisi Islam dipeluk masyarakat Sulawesi Selatan, tepatnya masyarakat kerajaan pada waktu itu masih sebatas konsep Asyhadu an la ilaha illa Allah wa Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah,” ucap Syamzan.

Sejak agama Islam menjadi agama resmi di Kerajaan Gowa, kala itu Alauddin diakui sebagai Amirul Mukminin atau kepala agama Islam dan mengumumkan bahwa agama kerajaan adalah Islam, sehingga menjadikan kerajaan Gowa sebagai pusat penyebaran Islam.

Penyebaran Agama Islam Oleh Kerajaan Gowa

Kala itu raja Gowa-Tallo mulai melakukan penyebaran Islam keseluruh wilayah di Sulsel meski tak berjalan mulus. Hambatan dakwah mulai muncul ketika Raja Gowa menyerukan Islam di kerajaan Bugis kala itu.

Aliansi Tellupoccoe atau dikenal dengan tiga kerajaan dari Bugis yaitu Bone, Wajo dan Soppeng menolak seruan raja Gowa.  Dengan terpaksa kerajaan Gowa mengangkat senjata untuk menundukan mereka. Hingga kerajaan Gowa-Tallo yang terkenal tangguh pun berhasil mengalahkan mereka.

Menurut Syamzan, Kerajaan Gowa meminta kepada kerajaan-kerajaan agar turut memeluk agama Islam sesuai dengan perjanjian yang disepakati antara raja Gowa dengan beberapa raja-raja Bugis.

“Barang siapa menemukan jalan yang terbaik berjanji untuk memberi tahukan yang baik itu kepada negeri-negeri lain,” ungkapnya dalam kutipan isi perjanjian sebahagian raja di Sulsel.

Sebelumnya terjadi saling curiga antara raja Gowa dan kerajaan Bugis. Raja Bugis berasumsi bahwa raja Gowa mencoba menguasai kerajaan Bugis lewat jubah agama.

Sementara raja Gowa menganggap itu bukan keinginan secara politik tetapi murni penyebaran.

Awal dibentuknya UIN Alauddin Makassar

Melalui aspek historis tokoh penyebar Islam menggunakan kekuasaan, Sultan Alauddin. terlintas ide para penggagas untuk memberi nama pada kampus UIN Makassar, awalnya dengan nama IAIN Alauddin Makassar. Beberapa tokoh penggagas nama Alauddin diantaranya. Andi Pangeran Daeng Rani, yang juga mantan Gubernur Sulawesi Selatan, dan Ahmad Makkarausu Amansyah Daeng Ilau, ahli sejarah Makassar.

Rektor UIN Alauddin Makassar periode 2014-2019, Prof Musafir Pababari mengungkapkan awal berdiri kampus itu, dahulunya berstatus Fakultas Cabang dari Institut Agama Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, pada kala itu Menteri Agama Republik Indonesia mengeluarkan Keputusan Nomor 75 tanggal 17 Oktober 1962, Fakultas Syariah Universitas Muslim Indonesia (UMI) di Makassar menjadi univeristas negeri, Fakultas Syariah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Cabang Makassar pada tanggal 10 November 1962.

Kemudian disusul Fakultas Tarbiyah UMI menjadi Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Cabang Makassar pada tanggal 11 Nopember 1964 dengan Keputusan Menteri Agama Nomor 91 tanggal 7 November 1964. Serta pendirian Fakultas Ushuluddin IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta cabang Makassar tanggal 28 Oktober 1965.

Pada tanggal 10 November 1965 tiga fakultas menjadi universitas negeri pada yang ditandai dengan terbitnya keputusan Menteri Agama R.I nomor 79 tanggal 28 Oktober 1965. IAIN di bagian timur Indonesia ini resmi bernama IAIN Alauddin Makassar.

Lanjut Musafir, sejak berdirinya IAIN Alauddin Makassar hingga pada tahun 2005 terjadi perubahan status Kelembagaan berasaskan Peraturan presiden (Perpres) Republik Indonesia No 57 tahun 2005 tanggal 10 Oktober 2005.

“Maka diusulkanlah konversi IAIN Alauddin Makassar menjadi UIN Alauddin Makassar di bawah naungan kementerian agama, ditandai dengan peresmian dan penandatanganan prasasti oleh Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono pada tanggal 4 Desember 2005 silam,” ungkapnya. senin (06/08/2018)

Lebih lanjut, guru besar bidang Sosiologi UIN Alauddin Makassar berharap dengan pemberian nama tokoh pemeluk Islam pertama di SulSel tersebut tetap menjadi pusat pencerahan dan transformasi iptek berbasis peradaban islam sesuai dengan mottonya.

“Semoga mampu menjadi yang terbaik di bagian Indonesia timur, mengikuti sejarah perjuangan tokoh Alauddin pada masa silam,” ucap rektor UIN Alauddin Makassar .

Penulis : Muhammad Fahrul Iras

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*