Gerakan Minat Baca, Untuk Apa dan Siapa

Aslang Jaya | Dok. Pribadi

Oleh : Aslang Jaya 

Indonesia sebagai negara yang memiliki berbagai macam kebudayaan, suku, etnik, maupun golongan keagamaan merupakan negara yang masyarakatnya mampu hidup harmonis dengan semangat gotong royong untuk cita-cita kemajuan bangsa. Masyarakat Indonesia sekarang telah mencapai 265 juta jiwa sesuai data terbaru rilisan tahun 2018.

Selain keanekaragaman budaya, suku, etnik, maupun golongan, adapula perbedaan yang  dimiliki oleh individu dalam masyarakat bernegara. Ialah perbedaan minat. Minat sebagaimana di ketahui ialah hal yang melekat dalam diri seseorang yang sifatnya pribadi yang dapat mendorong pada suatu objek tertentu.

Salah satu minat yang seringkali di bicarakan dalam ruang-ruang publik diskusi ialah tentang minat membaca yang dimiliki oleh individu dalam masyarakat. Dari data yang di lansir berdasarkan studi yang dilakukan oleh Central Connecticut State University pada tahun 2016 yang lalu, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke 60 dari 61 negara soal minat membaca.

Secara umum membaca adalah kegiatan untuk berpikir sehingga dapat masuk dalam proses memahami, mengenali, yang kemudian menafsirkan simbol-simbol yang dapat menciptakan sebuah arti. Membaca selain mampu meningkatkan kecerdasan dan kualitas diri juga agar seseorang mampu untuk memiliki pengetahuan baru, kaya akan kosakata baru, mampu menganalisis sesuatu yang dielaborasikan dengan bahan bacaannya, dan masih banyak lagi dampak baik yang diperoleh jika sering membaca.

Kentungan yang didapatkan dari membaca buku diatas dapat dijadikan rujukan atau motivasi untuk masyarakat guna menjadikan membaca sebagai suatu aktivitas bahkan rutinitas keseharian di sela waktu kosong, lalu apa yang menyebabkan minat baca orang Indonesia masih rendah dan amat memprihatinkan. Apakah karena pribadi seseorang yang masa bodoh dengan ketidaktahuannya? Atau ada hal lain?

Hal tersebutlah yang menjadi acuan sehingga timbul komunitas-komunitas yang bergerak dalam bidang literasi dengan satu tujuan, ialah meningkatkan minat baca seseorang dalam masyarakat. Karena memang benar jika dengan membaca kita dapat mengetahui sesuatu yang sebelumnya belum di ketahui. Slogan “buku adalah jendela dunia” seringkali menjadi kalimat simbol dalam setiap gerakan-gerakan membaca.

Padahal jika kita berbicara persoalan minat, otomatis kita akan mengacu pada apa yang telah melekat dalam diri seseorang yang dikembangkan oleh potensi dirinya. Lantas, apa tujuan dari gerakan-gerakan peduli membaca yang banyak dilakukan oleh para aktivis literasi.

Pernah suatu ketika, penulis berdiskusi dengan Kepala Perpustakaan kampus UIN Alauddin Makassar Quraisy Mathar mengatakan bahwa, untuk apa mengintervensi sebuah minat. Dalam hal ini minat membaca, karena dengan minat yang dimiliki tanpa intervensi dari luar pun seseorang akan mengembangkan potensi yang dimiliki dalam dirinya sendiri. Secara sederhananya seperti ini, jika seseorang ditinggal dalam suatu ruangan dengan sebuah buku atau setumpuk buku dan minat atau hobinya ialah membaca pasti akan membaca salah satu buku yang berada dalam tumpukan itu, karena minat yang dimilikinya ialah membaca.

Jadi sia-siakah gerakan literasi terutama gerakan baca yang sering dilakukan oleh para aktivis baca? Tentu tidak, karena dengan gerakan-gerakan minat baca yang dilakukan oleh teman-teman aktivis baca, selain mengembangkan minat baca dalam masyarakat juga guna untuk membudayakan budaya-budaya membaca. Sebab budaya membaca itu hadir jika ada kebiasaan membaca terlebih dahulu, dan dari kebiasaan inilah sehingga seseorang menjadikan membaca sebagai kegiatan yang rutin dilakukan.

Karena jika minat baca dalam masyarakat terus merendah tanpa adanya intervensi dari gerakan-gerakan baca yang dilakukan para aktivis peduli membaca, maka akan berpengaruh besar terhadap mutu pendidikan kita. Yang implikasinya akan melahirkan generasi-generasi yang tak memiliki pengetahuan baru dalam terpaan modernitas zaman yang semakin mengglobal.

Jadi jika ditanya perihal gerakan membaca untuk apa dan siapa jawabannya cukup singkat saja yaitu “untuk kita semua,” dan semoga para aktivis gerakan peduli membaca yang masih eksis di tanah air saat ini, semangatnya tuk gerakan membaca demi mewujudkan cita-cita mencedaskan kehidupan bangsa tak pernah luntur, sebab kalau jika tak ada lagi yang peduli dengan gerakan membaca maka kebodohan akan merajelela di bumi pertiwi. Membaca ialah melawan, melawan kebodohan tentunya.

 

*Penulis merupakan mahasiswa jurusan Hukum Pidana dan Ketatanegaraan (HPK) Fakuktas Syariah dan Hukum (FSH) semester VI

 

1 Komentar

  1. Nyarisnya, giliran gerakan membaca ini telah membudidaya di Indonesia, bahkan tiap bulan akan terus bertambah kuantitas gerakan membaca. Namun terdapat skak-skak antara Pustaka Bergerak Indonesia dan Taman Bacaan Masyarakat. Sebagai contoh fakta, ketika ada program donasi buku, maka terdapat kata seperti ini “Diutamakan bagi yang memiliki armada pustaka”. Padahal begini loh, orang yang memiliki armada pustaka pun, pada akhirnya akan membangun juga taman bacaan masyarakat yang bersifat menetap dan longitudinal. Tahu Kak Ridwan Mandar? Dulunya beliau itu menggunakan armada pustaka loh dengan kapalnya. Nah sekarang beliau tidak berfokus lagi dengan pergerakan armada pustakanya, disebabkan karena sudah membangun taman bacaan masyarakat di sekitar rumahnya.

    Nah seharusnya, antara Pustaka Bergerak dan Taman Bacaan Masyarakat ini tidak perlu dibeda-bedakan. Toh, tujuan kita sama. Tugas kita mungkin adalah bagaimana mencari solusi benang merahnya ini antara PBI dan TBM.
    Kalau saya ditanya bahwa saya lebih kemana? Maka saya akan jawab bahwa saya ke TBM. Namun saya tetap bisa bersosialisasi dengan PBI. GOOD LUCK FOR US

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*