Anak Desa Menatap Surya

Sumber: GoRiau.com

Oleh : Habriadi

Sang surya dengan perkasa, kembali menyapa desa Erelembang di pagi ini, dengan bangga burung jua bernyanyi ria sambil melompat dari satu dahan ke dahan pohon lainya. Suasana Desa di pagi hari memang sangatlah indah. Keindahan alam nikmat Allah tak terbayang besarnya kepada manusia, betapa pula manusia sebagai makhluk paling sempurna dan mulia, mendapat perhatian khusus dari Allah, dibukti dengan akal yang telah Allah beri kepada manusia yang tak disertakan pada makhluk lainya, emosi adalah software yang juga ditanamkan pada manusia untuk menjadikan kehidupan dinamis dengan berbagai dimensi dan ekspresinya, maka selayaknya selalu kita lantunkan alunan dzikir dan syukur kepadanya.

Mentari mulai tampak kemerahan di balik gunung menyilaukan hijaunya pohon yang berbaris di lereng-lereng, embun pun mulai menyilau kala sinar mentari menerpanya di atas dedaunan, burung-burung saling bersahut-sahutan, ayam berkokok sambil mengais-ngais tanah, tanpa disadari, pagi ini Tuhan memainkan perpaduan yang begitu menakjubkan.

Amin terdiam, duduk memandangi layar lebar yang telah Tuhan tancapkan pagi itu. sambil menopang dagu, amin tampaknya sedang melamunkan sesuatu, yang biasanya ketika fajar menyambut, ia telah siap dengan novel karya penulis fenomenal “Joestin Garder, Dunia Sophie” novel filsafat yang sangat menakjubkan dengan bertemankan pula segelas kopi. yah, sesekali dengan pengantarnya, namun pagi ini Amin tampak sedang tak bersemangat.

“Amin,” terdengar ibunya memanggil, namun amin masih saja diam menopang dagu tak bergerak.

“Amin,” sekali lagi suara ibunya memanggil, Amin pun berdiri tersentak.

“Iya mak,” sambil berdiri ia memenuhi panggilan ibunya.

Rupanya Amin memang sedang melamun pagi ini, entah apakah ia sedang memikirkan asal usul dunia ini seperti sosok Sophie pada novel Joestin Garder, gadis 14 Tahun yang diajak berfilsafat.

“Amin, Hari ini kan kamu akan ke Makassar, lebih baik kamu persiapkanlah sedari sekarang apa yang nanti kamu butuhkan disana nak, jam delapan mobil akan datang menjemputmu.”

“Iya mak, saya sudah masukkan pakaian di ransel semalam,” dengan berjalan lambat sambil mengenggam handuk, Amin pun berjalan perlahan mendekati kamar mandi, belum pernah ia mandi sepagi ini sebelumnya, ya, karena air di Desa erelembang sangatlah dingin, apalagi jika masih pagi-pagi.

Rupanya yang membuat Amin tampak tak bersemangat hari ini adalah karena ia akan ke Makassar meningalkan orang tuanya untuk pertama kali, dengan niat melanjutkan pendidikan.

Bagi Amin, jauh dari orang tua adalah hal yang paling tidak menyenangkan, namun tinggal di desa juga berarti hanya memperburuk masa depanya kelak, bisa jadi kelak orang kota sudah tau tentang teknologi.

Di desa ia hanya mahir mengayungkan pacul saja. Tidak etis pikir Amin, setidaknya ia menjadi orang yang lebih hebat dari orang tuanya. Karena itulah yang selalu Ayahnya pesankan kepada Amin “orang tua yang hebat adalah orang tua yang mempunyai anak lebih hebat darinya.”

Setelah Mandi, Amin pun berkumpul bersama Ibu, Ayah dan adik-adiknya untuk sarapan pagi.

Kebersamaan seperti inilah yang membuat Amin berat meninggalkan orang tuanya, namun semangatnya untuk menuntut ilmu tak goyah sedikit pun, karena baginya Ilmu yang akan mengangkat derajatnya dan derajat orang tuanya.

Menurutnya tanpa ilmu kita tidak ada apa-apanya, Amin yakin dengan hal itu karena Allah sendiri yang menjanjikan dalam QS Al Mujadalah ayat 11, “bahwa Allah akan meninggikan derajat orang yang beriman dan berilmu pengetahuan.”

Tepat jam 08.00, mobil jemputan tiba juga di rumah Amin, dengan hati yang gundah, Amin pun menyalami dan mencium tangan Ibu bapaknya, “hati-hati di jalan nak, jaga kesehatan dan kalau sudah tiba, berkabar ke ibu ya nak, ongkos mobilmu sudah kubayarkan juga,” kata ibunya sembari mengelus bahu amin.

“iya mak, terimah kasih,” jawab Amin dengan tertunduk.

Setelah pamit, Amin berangkat dengan melambai tangan kepada orang tuanya yang mengantar ke depan rumah.

Sepanjang perjalanan dari Erelembang , Amin hanya memandangi pohon pinus yang berjejeran di sepanjang jalan, suara seruling malaikat daun pinus kala diterpa angin, seolah menyatu dengan pikiran dan hati Amin yang membuat hayalnya semakin sempurna.

Di sela gundahnya meninggalkan orang tua, Amin juga berusaha menghibur dirinya dengan mengingati kembali novel Jostein Garder, sembari memandangi keindahan Kota Malino ia mulai berfikir, dari mana datangnya dunia ini?

Simpulanya, ya dari Tuhanlah, pikir Amin sambil tersenyum tipis sendirian, namun bagaimana dengan Tuhan sendiri? kembali ia diusik oleh pertanyaan yang tidak pernah ia dapatkan  selama duduk di bangku SMA. Apakah Tuhan menciptakan dirinya sendiri dari ketiadaan, ataukah memang Tuhan itu selalu ada? Namun bukankah segala sesuatu yang ada itu harus ada permulaanya?

“Ahh, sudahlah,” pikir Amin, sambil mengernyit dahinya sambil menyandarkan badanya ke kursi mobil.

Tak terasa, lima jam perjalanan dari Erelembang ke kota Makassar, Amin pun tiba di rumah pak Soleh, salah seorang dosen yang telah menghubungi Amin dan memintanya untuk tinggal di rumahnya, dosen itu dikenal Amin melalui pamanya. Pak Soleh adalah kepala Dusun yang kerap dijadikan posko bagi mahasiswa KKN, melalui itulah pamanya kenal baik dengan Dosen yang rumahnya akan Amin tempati tinggal selama kuliah.

“Datang juga rupanya kau nak, bagaimana kabar pamanmu,” kata pak Soleh kepada Amin.

“Alhamdulillah, baik saja pak,” jawabnya dengan wajah tertunduk sedikit malu.

“Baiklah, silahkan masuk nak, biar saya tunjukkan kamarmu, istirahatlah dulu, kamu pasti lelah.”

“iya pak, terimah kasih.”

Amin memang sangat lelah, perjalanan yang ia tempuh cukup jauh dengan jalanan yang berlubang membuat badanya pegal, belum lagi  suhu kota Makassar cukup panas rupanya membuat keringat Amin bercucuran, segera ia pun memasuki kamar yang telah ditunjukkan dengan segera membuka bajunya karena kepanasan.

“Makassar memang sangatlah panas” gumamnya.

Esok harinya, Amin ditemani oleh salah seorang kemenakan pak Soleh untuk mengurus pendaftaranya di salah satu perguruan tinggi, kendaraan yang lalu lalang dan bangunan tinggi, membuat Amin hanya tercengang, maklumlah Amin baru kali ini ke Makassar, ia tahu Makassar biasanya hanya lewat cerita dari teman-temanya saja.

Amin lulus pada jalur pertama pendaftaran, yang berarti tanpa tes dan uang pendaftaran, Amin bersyukur akan hal itu.

Namun, Amin sempat berfikir “lantas bagaimana dengan mereka yang tidak lulus jalur pertama dan harus mendaftar pada jalur terakhir misalkan, mereka harus bayar biaya pendaftaran itupun belum terjamin kelulusanya? Bagi mereka yang punya cukup uang, yah tak masalah lah bagi mereka, yang mengharukan jika ada yang seperti saya, jauh dari kampong dengan segala keterbatasan, mendaftar namun tidak lulus pada jalur itu, uang ongkos mobil saja susah, apalagi harus bayar uang pendaftaran, itupun tidak lulus, wah, parah bener,” pikir Amin.

Terpaksa impian besar yang mereka bawa dari kampung harus mereka kubur dalam-dalam, sehingga jelas yang miskin semakin miskin dan kaya semakin kaya, menuntut ilmu saja harus dengan biaya yang sangat mahal.

“Belum cukup sampai di situ, ketika misalkan mereka lulus, yang jadi beban berat lagi adalah uang SPP yang mesti mereka bayar tiap semester, ada sih sistem UKT/BKT itupun tidak tepat sasaran, mahasiswa yang ekonomi rendah mendapat kategori tinggi yang berarti pembayaranya juga besar, dan begitu juga sebaliknya.”

“Hmm, kenapa pendidikan tidak digratiskan saja sekalian, atau paling tidak diberi keringanan supaya anak bangsa bisa mendapatkan pendidikan yang merata, bukan menjadi TKW yang melulu kita kirimkan ke negara lain, tapi Doktor yang ahli pada salah satu bidang,” Pikir Amin.

“Taring senja” 

Saat taring senja menancap di ufuk barat, di sisi bahagia hatiku menempatkanmu sebagai tanda titik di lembar hidupku. 

Dengan harap menjadi tempat pemberhentian terakhir kelana kata direlung resahku, 

Senyummu laksana lebah menghisap nektar bungaku lalu terciptalah suasana nan manis, 

Tawamu laksana hujan menumbuhkan benih benih rindu di atas bumi rasaku, 

Jangan bertanya kenapa… 

setiap butir kata selalu terangkai dalam satu kalimat puja. 

Dan adalah indah matamu yang menjadi jawabnya. 

 

*Penulis merupakan mahasiswa jurusan Manajemen Dakwah (MD) Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) semester VI

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*