Ziarah Kubur, Agama dan Budaya yang Selaras

Viviana Basri

Oleh : Viviana Basri

Berkunjung ke makam pada dasarnya merupakan tradisi agama Hindu yang pada masa lampau berupa pemujaan terhadap roh leluhur. Candi pada awalnya adalah tempat abu jenazah raja-raja masa lampau dan para generasi penerus mengadakan pemujaan di makam tokoh sejarah, tokoh mitos, atau tokoh agama.

Dalam Islam sendiri ziarah kubur sudah menjadi rutinitas umat muslim, yang sudah membudidaya bagi masyarakat Indonesia, kalau di kalangan suku Bugis dinamakan massiara kubburu dan masih banyak istilah di kota-kota lainnya.

Mayoritas ziarah kubur dilakukan sebelum atau setelah lebaran dimana keluarga yang ditinggalkan datang memanjatkan doa, saya pernah mendengar saudara sepupu bertanya, mengapa ziarah kubur tidak dilakukan di hari-hari biasa, orang tuanya hanya menjawab singkat, sekarang memanfaatkan waktu libur dan menyempatkan waktu untuk mengunjungi dan mendoakan makam keluarga.

Ziarah kubur juga termasuk salah satu cara agar umat manusia sadar akan adanya kematian, pernyataan ini saya dengar dari ayah sendiri yang ia dengar dari beberapa dakwah islami, beberapa orang menganggap bahwa ziarah kubur yang membudidaya pada masyarakat Nusantara ini adalah bidah, untuk menanggapi hal tersebut sebenarnya sudah banyak dalil yang menguatkan adanya ziarah kubur, salah satunya hadis dari Sulaiman bin Buraidah yang diterima dari bapaknya, bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda.

“Dahulu saya melarang kalian berziarah kubur, namun kini berziarahlah kalian, dalam riwayat lain ; ‘(Maka siapa yang ingin berziarah kekubur, hendaknya berziarah), karena sesungguhnya (ziarah kubur) itu mengingatkan kalian kepada akhirat,’ (HR Muslim).

Jika kita merujuk dalam hadis tersebut sudah jelas tujuan dari ziarah kubur itu sendiri. Orang-orang yang menganggapnya bidah mungkin belum melihat dari sudut pandang yang berbeda atau sering mendapatkan kesalahan-kesalahan masyarakat yang salah mengartikan ziarah kubur, memang banyak masyarakat yang masih turun-temurun meminta pertolongan pada makam-makam ulama atau tokoh masyarakat yang meninggal dan saya pernah mendengar hal ini dari keluarga, memohon doa di makam-makam ulama agar anak yang dikandungnya menjadi orang yang saleh dan banyak rezeki.

Menurut mereka, ulama atau tokoh masyarakat yang meninggal tersebut memudahkan membawa lantunan doa dari alam dunia ke alam gaib sehingga menurut saya peribadi kesannya menjadi ritual pemujaan, sebab dari kesalahpahaman masyarakat tersebut yang menjadi alasan mengapa Rasulullah SAW pernah melarang untuk ziarah kubur.

Dalam Islam sendiri, meminta doa kepada orang yang telah meninggal sudah dikatakan syirik, untuk itu masyarakat perlu tahu ziarah kubur itu dianjurkan oleh Rasulullah tapi hanya untuk mendoakan bukan untuk meminta, karena meminta hanya kepada Allah SWT.

Tidak ada kata bidah jika yang dilakukan sesuai dengan syariat Islam, ziarah kubur yang membudidaya pada masyarakat kebanyakan membawa rasa solidaritas antara hidup dan mati dalam keagamaan pun membuat orang sadar siapa mereka dan dimana mereka berpijak.

 

*Penulis merupakan mahasiswa jurusan Teknik Arsitektur Fakultas Sains dan Teknologi (FST) semester IV

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*