Serba-serbi Lebaran: Mabaca Tomangeng Riolo dan Masiara Kuburu

Sulastri

Hari raya Idulfitri selalu menjadi momen penting bagi setiap orang. Pasalnya, bukan hanya soal kumpul keluarga dan menikmati Opor Ayam serta Ketupat yang dilakukan, tapi ada kegiatan lain yang di beberapa wilayah Indonesia telah menjadi tradisi. Mabaca tomangeng riolo dan masiara kuburu, misalnya.

Mabaca tomangeng riolo sendiri dilakukan pada malam hari sesudah salat Isya, sehari sebelum melaksanakan salat Idulfitri. Namun, ada  juga yang melakukan sesudah salat Idulfitri. Kegiatan ini, oleh sebagian masyarakat desa dan pedalaman suku bugis dilakukan untuk  menjalankan tradisi dari nenek moyang dan bertujuan untuk mengirimkan doa kepada sanak keluarga yang telah mendahului ke hadirat tuhan (meninggal dunia). Juga sebagai bentuk rasa syukur atas umur bisa menyambut Ramadan dan Idulfitri.

Adapun penganan pendampingnya yaitu Sokko (nasi ketan yang di kukus), Ayam, Ketupat, Buras, Pisang Emas dan sebaganya serta memanggil tuan guru (orang yang di tuakan di kampung) dengan media dupa dan menyediakan air yang belum di masak.

Sedangkan Masiara Kuburu adalah tradisi yang dilakukan dengan mendatangi kuburan dari keluarga yang telah meninggal setelah pelaksanaan salat Idulfitri. Hal ii juga menjadi agenda wajib saat hari besar keagamaan seperti Iduladha dan menyambut Ramadan. Ini dilakukan dengan mengirimkan doa, dan membersihkan kubur anggota keluarga yang telah tiada.

Dua tradisi hanyalah satu dari sekian banyak ritual yang sering kita jumpai di sekitar kita. Banyak mungkin generasi milenial yang tidak lagi peduli dengan ihwal semacam itu. Tapi, kearifan lokal yang membuat negeri kita kaya. Meski kadang menuai pro dan kontra, ada nilai yang hadir melalui setiap pengungkapan tradisi yang kita lakukan. Mari menjaga dan melestarikannya !

*Penulis merupakan Mahasiswa jurusan Jurnalistik Fakultas Dakwah dan Komunikasi semester II

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*