Serba-serbi Lebaran: Halalbihalal Melalui Gawai

Nurul Wahda Marang
Oleh : Nurul Wahda Marang
Halalbihalal dan lebaran adalah dua hal yang saling melekat dan membudaya, keduanya tidak lagi sekadar rutinitas tapi memiliki makna yang saling terkait. Hal itu bisa dilihat dari esensinya, lebaran adalah hilir dari perjalanan panjang menuju fitrah manusia, sedang  halalbihalal adalah sarana untuk mencapai esensi fitrah melalui komunikasi.
Sayangnya, budaya halalbihalal yang dibangun dengan konsep kebersamaan yang hakiki oleh para pendahulu kini mengalami perubahan. Dulu, halalbihalal dilakukan dengan kumpul keluarga untuk saling maaf-memaafkan usai menunaikan ibadah Ramadan. Kini, budaya itu bergeser dengan pertukaran ucapan melalui gawai.
Pergeseran yang terjadi di masyarakat sekarang ini hampir terjadi disemua aspek. Pertemuan tatap muka langsung tergantikan lewat pesan singkat yang dikirim lewat media sosial. Facebook, Line, WhatsApp, dan Instagram merupakan beberapa akun media sosial yang dianggap  lebih mudah dan tentunya praktis untuk bertukar pesan. Tapi, budaya serba instan justru berimbas pada nilai-nilai penting halalbihalal terpinggirkan. Misalnya saja interaksi sosial yang sifatnya semu.
Tentu saja budaya maaf-memaafkan lewat dunia maya tidak bisa dihapuskan begitu saja. Akan tetapi, diperlukan upaya agar halalbihalal dalam konsep nyata terjalin untuk mempertahankan tujuan utama, yakni perwujudan dari silaturahmi. Sebab boleh jadi disfungsi budaya dan kearifan bangsa kita akan semakin menguat apabila laju teknologi dan zaman berimbang.
*Penulis merupakan mahasiswa jurusan Jurnalistik Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK)  Semester II

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*