“Pejuang Tak ada Banding” Oleh Sulastry

Sumber: irmaulidha.wordpress.com

Saat ku menengadahkan parasku.

Menentang peliknya sang baskara.

Terserempak sepasang nama.

Dialah sosok nan perkasa.

Pengharum langkahku.

 

Demi menggapai asa.

Dialah sang peneduh atmaku.

Raungnya merajang kalbu.

Genggamannya melerai tulang.

 

Namun kini.

Paras bunga itu.

Rentah merintih .

Mengundang tetesan luka dalam sukmaku.

 

Diri yang tersemat lara.

Tak terasa kalah terenggut.

Surai yang dulu kelam kian memudar.

Berganti safa.

 

Raga yang dulunya langkai kini layuh.

Senyuman yang dulunya pukau.

Menjadi serengit getir.

Parasmu pun mulai menua hingga renta tak berdaya.

 

Jasad yang dulunya kokoh kini rapuh termakan usia.

Akankah anakmu ini dapat menjadi tuan.

Atas surga di telapak kakimu.

 

Dialog yang selalu kulontarkan kepada tuhan.

Kan selalu terselip namamu.

Tak kalah jua, ku kan selalu menuangkan secangkir doa untukmu.

 

*Penulis merupakan mahasiswa jurusan Jurnalistik Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) Semester II

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*