Pandangan Mahasiswa Dalam Pemilu

Rahma Indah

Oleh : Rahma Indah

Pemilihan Calon Gubernur (Cagub) Sulawesi Selatan (Sulsel) di TPS masing-masing. bahkan dari jauh hari sebelumnya, sejumlah partai politik telah menggempur masyarakat dengan iklan-iklan politik di berbagai media, salah tujuannya yaitu untuk menarik hati masyarakat dan memenangkan pemilihan.

Tahun 2018 ini ada empat pasangan Calon Gubernur (Cagub) yakni Nurdin Abdullah-Sudirman Sulaiman, Nurdin Halid-Aziz Qahhar Mudzakkar, Ichsan Yasin Limpo-Andi Mudzakkar, dan Agus Arifin Nu’mang-Tanri Balilam.

Para pakar politik ikut meramaikan dengan analisis kritisnya, setiap harinya media mengawal dengan menyajikan informasi terkini seputar pemilihan 2018, bahkan media cetak membuka forum-forum opini dengan tema pemilihan Gubernur.

Menanggapi hal tersebut, ketua Dewan Mahasiswa Universitas (Dema U) Azkar Nur mengatakan, bahwa setiap kampus akan selalu ada yang namanya politik.

Menurutnya yang harus diperhatikan dan diindahkan oleh mahasiswa adalah bagaimana cara mahasiswa tersebut ikut serta dalam pemilihan dan memperhatikan politik nilai, artinya politik yang berasaskan siapa calon yang berkredibilitas, kompeten dan berintegritas. Politik menjadi buruk atau baik, tergantung bagaimana mahasiswa memahami esensi politik tersebut.

Sejak masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP), kita telah mengenal definisi demokrasi “dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat” hanya saja, sekarang pengaplikasiannya sudah tidak diperluas.

Sebuah kenyataan yang menyedihkan, simulasi pemilu yang dilakukan di kota besar menunjukkan tingginya angka “kebutaan” salah satu penyebabnya karena selama ini pendidikan politik nyaris tidak ada.

Ada dampak negatif dan positif yang bisa diperoleh dari setiap momentum pilkada. Positifnya yakni bagaimana kemudian kita bisa terlatih mengatur strategi dan taktik, serta mempertajam pisau analisis terhadap sesuatu, dalam sistem perpolitikan utamanya politik nuansa pilkada, mahasiswa dalam hal ini idealnya terlibat secara ideologis. Nilai-nilai kemahasiswaan tetap dijunjung tinggi. Dan negatifnya adalah hanya terlibat dalam wilayah praktis, lebih tepatnya hanya menguntungkan pribadi.

Ada satu faktor yang menentukan suksesnya Pemilihan 2018, yakni dengan melakukan sosialisasi Pemilu. Sosialisasi pemilu 2018 yang dilakukan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) sejauh ini masih dirasa kurang efektif.

Bentuk sosialisasi yang dilakukan lewat media cetak dan elektronik masih belum menyentuh konstituen secara langsung. Simulasi dan sosialisasi langsung yang merupakan strategi efektif justru belum dilakukan secara menyeluruh.

KPU yang mengemban tanggung jawab terbesar belum berhasil melaksanakannya. Sosialisasi terasa lambat, dikarenakan tidak mengoptimalkan peluang untuk bekerja sama dengan lembaga lain dalam menyosialisasikan Pemilu.

Di samping itu, pada dasarnya partai politik melalui para calon legislatornya turut membantu sosialisasi Pemilu secara tidak langsung, melalui atribut kampanye seperti spanduk, baliho dan pamflet di sepanjang jalan. Hampir semua calon mencantumkan nomor urutnya di partai dan menampilkan bagaimana cara memilih mereka dengan benar.

 

*Penulis merupakan mahasiswa jurusan Jurnalistik Fakultas Dakwah dan komunikasi (FDK) semester II

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*