Golput Dikalangan Mahasiswa

Internet

Oleh : Sulastry dan Sry Reski Laura F

Semarak Pemilihan Umum (Pemilu) serentak 2018 yang jatuh pada Rabu (27/06/2018) dengan berbagai pasangan calon Gubernur, Bupati, dan Walikota.

Dimana kita dapat merasakan juga menyaksikan secara langsung masyarakat berbondong-bondong menuju Tempat Pemungutan Suara (TPS) untuk menggunakan hak pilih suaranya, dengan memegang pilihan masing-masing yang dianggap mampu memimpin daerah kedepannya.

Namun, diantara maraknya antusiasme masyarakat terhadap pesta demokrasi kepala daerah tahun ini, juga tidak lepas dari fenomena adanya kalangan yang memilih golongan putih (Golput). Kalangan-kalangan yang mempunyai alasan tertentu untuk tidak memilih.

Lantas bagaimanakah masyarakat yang tidak menggunakan hak pilihnya? Terutama dikalangan mahasiswa, baik yang memilih maupun golput, sebagian kita ketahui bahwa istilah golput ini sudah lama menghiasai kancah politik demokrasi di negeri ini.

Apakah pantas kita sebagai mahasiswa melakukan golput?

Bagaimana bisa kita sebagai mahasiswa yang kritis dan lebih paham memberikan kesadaran kepada masyarakat, bahwa pemilu adalah usaha kita untuk berperan aktif dalam proses keikutsertaan mengatur negara, jikalau kita sendiri sebagai jembatan rakyat tidak menggunakan sebaik-baiknya hak pilih kita.

Salah satu penyebab mahasiswa golput yaitu karena pandangan negatif terhdap dunia politik, seperti sebagian dari mereka menganggap stigma politik itu kotor, seiring banyaknya cara yang dihalalkan demi kemenangan, selain itu juga karena merasa bosan dengan pemilu yang berulang-ulang. mulai dari pemilihan Presiden, pemilihan Gubernur, pemilihan Bupati dan pemilihan Desa, tetapi tetap saja tidak ada perubahan dalam keadaan masyarakat.

Seharusnya, kita sebagai mahasiswa dalam hal ini turut berpartisipasi aktif terutama oleh pemilu pemula. Hindarilah sifat acuh tak acuh untuk mendatangi TPS ataupun menyambut pesta demokrasi yang hanya dilakukan lima tahun sekali, seharusnya kita tidak hanya ternoda oleh sikap apatis kita sendiri yang seolah-olah membenarkan diri sendiri dan berasumsi bahwa satu suara sama sekali tidak berharga atau tidak memiliki pengaruh terhadap kehidupan masa depan bangsa.

Lalu, menurut kalian apakah pantas seorang mahasiswa yang berpendidikan dan memiliki pemikiran yang kritis tidak turut andil dalam menggunakan hak suaranya?

 

*Penulis merupakan mahasiswa jurisan Jurnalistik Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) Semester II

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*