Egalitarianisme dan Penghargaan Norma Kemanusiaan

Oleh : Sahi Al Qadri
Perbedaan ideologi dan pertikaian di tengah-tengah kita lazim ditemui, dalihnya sederhana, berangkat dari penciptaan manusia yang disebut sebagai khalifah di muka bumi, Penobatan bahwa manusia merupakan makhluk sempurna daripada ciptaan lain, oleh sebab keberadaan akal yang melulunya bicara soal rasionalitas. Ini intisari dari penciptaan manusia selaku khalifah.Tak heran sekiranya lahir rasa keingintahuan pada tiap-tiap yang baru di sekitar kita timbul rasa pengakuan bahwa secara personal, kitalah yang benar daripada mereka yang sebenarnya berpikir sama seperti kita, atau akrab dengan sebutan egosentris. padahal, refleksi dari khalifah pendahulu rasanya tak se ekstrem itu. Sepertinya kita terperangkap dalih sebagai khalifah.

Penekanan “Mendaku” menjadi fatwa yang tak boleh terbantahkan, bilamana manusia yang lainnya memilih lajur lain, kesannya akan aneh di mata kita dan berakhir pada isme yang salah menurut kita, yang sedari lahir terdidik egois. “aku adalah aku dengan kebenaran persepsiku, meskipun aku tak tahu menahu kalau-kalau itu keliru,” kira-kira kita begini.

Erat kaitannya dengan perbedaan kepercayaan. jangankan antar agama, dalam agama pun masih ada perbedaan paham atau mazhab, pun dalam keluarga masih ada. Pertanyaannya kemudian, apakah Tuhan Keliru pemberian akal pada manusia, yang pada akhirnya merusak sesama maupun ciptaan-ciptaan yang lain? yang menjerumuskan kita (khalifah) pada lingkaran setan yang saling salah menyalahkan? yang berbuntut pada pengelompokan? yang melahirkan perbedaan kasta? rasanya tidak, manusia itu sendiri yang menyalahgunakan karunia ini.

Seorang filsuf perancis, Descartes mengatakan : Cogito Ergo Sum, “Aku berpikir, maka aku ada,” Ia menegaskan bahwa satu-satunya hal yang pasti adalah berpikir, selain itu, semuanya hanyalah berujung  fatamorgana, meskipun Descartes mengakui bahwa setiap kali dirinya berpikir, ada kekuatan besar yang mengarahkannya pada kekeliruan, entah darimana kekuatan itu. semakin Ia berpikir, maka semakin banyak kekeliruan yang Ia dapat. Artinya, tak ada salahnya manusia berpikir, yang salah jika kita tidak berpikir.  tanpa berpikir, manfaat dan mudarat menjadi perkara kedua.

Kembali kepada pertanyaan, saya merasa bahwa kekeliruan dalam berpendapat adalah sunnatullah, masalahnya kemudian, kita enggan mengaku keliru apabila kita benar-benar keliru atau sok tau, padahal, derajat manusia sebagai makhluk akan diangkat itu karena kita mengakui bahwa pendapat atau lajur yang kita tempuh adalah keliru. Kaitannya dengan Descartes, bahwa manusia tak akan berkembang selama tak berpikir. Tepatnya, jika kita merasa benar, orang lain belum tentu salah, ini hanya soal persepsi.Sekiranya kita tak berbeda, maka datarlah semuanya. Perbedaan adalah fitrah, maka penekanannya, bukan pada perbedaan itu sendiri, namun lebih kepada kebijaksanaan kita menerima dan saling menghargai. dengannya, keberagaman yang ada bukan menjadi musibah, malah sebenarnya merupakan karunia, Gus Dur bilang “Perbedaan itu fitrah dan harus diletakkan pada prinsip kemanusiaan universal.”

Sikap menghormati, bukan berarti menyepakati paham-paham lain, tugas kita lagi-lagi soal bagaimana menerima perbedaan dan menjadi landasan dalam menanamkan norma penghargaan sesama manusia. artinya bahwa kasta kita sama, sama-sama memiliki persepsi yang berbeda pula.

Dalam sebuah ruang belajar contohnya, yang merasa dirinya pintar, sebenarnya telah mempertontokan kebodohannya kepada kawannya yang Ia sebut bodoh, pintar bukan dinilai dari angka, tapi seberapa hebat kita memahami pelajaran, kemudian mengimplementasikan diluar ruangan, bukan hanya mengisi pertanyaan yang sebenarnya hanya memindahkan pernyataan pada buku pelajaran kepada lembar tulisan dan menjadi sebuah jawaban pertanyaan.

Secara bersamaan, dalam hukum teisme, kita sepakat bahwa masing-masing agama yang kita anut adalah benar, apakah ini keliru? Tidak, tak ada manusia yang membenarkan agama lain lalu tetap berdiri ditempat yang menurutnya salah, ini hanya soal toleransi. sebenarnya yang perlu diluruskan adalah mereka yang  sengaja melakukan kesalahan pada nilai-nilai kemanusiaan namun merasa acuh dan tetap berbuat keliru, tarulah misalkan, penyebar berita miring yang akhirnya memecah belah antar sesama, dan sebagainya.

Hematnya, penciptaan manusia salah satunya tak lepas dari mencari jati diri kita sebagai seorang hamba, mencari kebenaran yang absolut atau yang lebih benar, daripada yang sedikit benar atau yang lumayan benar.

Kenapa kemudian skisma sering terjadi, karena masing-masing dari mereka merasa benar, apa perlu kita salahkan perpecahan, tentu. Perpecahan tentunya melanggar etika pada norma kemanusiaan, kecuali kalau kita bertanya apakah perbedaan pendapat atau keyakinan itu salah? Saya rasa tidak, meskipun perpecahan itu bermula dari perbedaan keyakinan, tapi jika perbedaan keyakinan ini berlanjut pada perseteruan, disini kekeliruannya. Golongan radikal, egois dan lupa bahwa kebenaran yang absolut bukan pada manusianya, tapi murni milik penciptanya.

Untuk meminimalis pertikaian yang kemudian akan mengikis fitrah Ilahi adalah mengutip kalimat Gus Mus, “Malaikat itu selalu benar, Setan itu selalu salah, Manusia kadang benar, kadang salah, kita hanya perlu mengingatkan, bukan malah saling menyalahkan,” jika ini kita implementasikan pada hidup, maka ‘hari toleransi sedunia’ mungkin sudah tidak diperlukan.

Hukum kausalitas itu ada, apa yang kita dapat hari ini, itu dampak dari perlakuan kita pada masa lalu, jadilah pendengar yang baik jika kita ingin didengar dengan baik, menghargailah, jika ingin mendapatkan penghargaan.

*Penulis merupakan mahasiswa jurusan Pendidikan Bahasa Arab (PBA) Fakultas Tarbiyah dan Keguruan  (FTK) semester X

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*