Dunia Pergerakan dan Mahasiswa Apatis

Sulfahmi

Oleh : Sulfahmi

Dunia pergerakan mahasiswa saat ini semakin kehilangan taring, wibawa dan jati diri mereka, pergerakan mereka semakin jauh berbelok meninggalkan nilai-nilai yang harusnya mereka bawa.

Sisi ideologisnya mulai buram, mereka dikatakan idealis, ya tidak juga, dikatakan tidak idealis, juga salah.

“Idealisme adalah kemewahan terakhir yang di miliki seorang pemuda,” begitu kata Tan Malaka.

Mahasiswa menggunakan kalimat-kalimat seperti halnya di atas hanya mendongkrak citra mereka, update status di media sosial, menciptakan kata-kata puitis, share ke semua grup miliknya dengan ribuan like yang membanjiri postingan yang dianggap bijak tersebut tidak berbeda jauh dengan media komersil yang mudah dinikmati oleh khalayak.

Idealisme hari ini adalah hal yang sangat sulit ditemukan, jika melihat secara realitas di kampus saat ini, tak ada lagi jiwa yang sadar akan keadilan. Bahkan ada segelintir orang yang merasakan dan diperlakukan tidak adil namun masih saja apatis dan menikmati hal itu dan memilih bungkam.

Tak ada penolakan dan perlawanan yang cukup bernilai untuk menghilangkan sekat yang ada, ataupun memperjuangkan hak mereka yang di rampas, itu terjadi karna mahasiswa takut terhadap aturan kampus yang semakin mencekik langkah dari pergerakan mahasiswa.

Beberapa pelarangan berorganisasi bagi mahasiswa baru, yang tak pernah tahu birokrasi terhadap mahasiswa, birokrasi takut akan semakin bertambahnya jiwa-jiwa intelektual yang sangat kritis terhadap sesuatu, termasuk kejanggalan ataupun kejahatan yang mereka lakukan yang dianggap sebagai ancaman.

Mau di kemanakan pendidikan saat ini, jika para mahasiswa dilarang berorganisasi. apakah hanya belajar di bangku kuliah cukup kuat menghadapi persaingan kerja setelah wisuda, toh mahasiswa harus sadar jika kuliah yang dipelajari hanya sekedar teori dan teori itu tak cukup berguna tanpa ada praktik dan pengalaman yang cukup mumpuni.

Maka dari itu kuliah harus berbareng dengan organisasi yang sehat maka terciptalah mahasiswa dengan daya nalar yang kuat, serta mampu menjadi agen perubahan di masyarakat nantinya setelah menyelesaikan studi di perguruan tinggi.

 

*Penulis merupakan mahasiswa jurusan Jurnalistik Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) semester IV 

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*