Civitas Academica Tanggapi Wacana Kemenristekdikti Intai Terorisme Lewat Medsos

Ilustrasi | Muh Nur Alif

Washilah – Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) baru-baru ini telah mewacanakan tentang akan diberlakukannya pengawasan aktivitas Media Sosial (Medsos) di ruang lingkup Kampus, melalui pendataan nomor telepon genggam mahasiswa serta dosen sebagai langkah pencegahan beredarnya paham teroris, terkhusus bagi akademisi kampus.

Menanggapi hal tersebut Ketua Dewan Mahasiswa (Dema) Askar Nur mengatakan, bahwa pernyataan Kemenristekdikti merupakan tindakan kalang kabut jika merujuk pada pengertian radikalisme sebagai paham yang mengedepankan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik dengan cara kekerasan.

“Berdasarkan definisi radikalisme di atas maka bisa dikatakan bahwa sampai hari ini belum pernah terjadi hal demikian di kampus kita,” ucapnya. Jumat (15/06/2018)

Lanjut, ia menambahkan jika radikalisme akan berujung kekerasan di kampus maka pihak birokrat bisa mengatasinya tanpa harus melakukan pengintaian lewat medsos mahasiswa dan dosen.

“Bukankah kampus telah memiliki aturan tersendiri, seperti kasus pemukulan dan sebagainya bisa di skors atau pun Drop Out (DO), tindakan Kemenristekdikti bisa dikatakan sebagai model baru pembungkaman demokratisasi di kampus,” lanjutnya.

Dikutip dari Kumparan.com via AntaraNews.com, mengenai teknis pememantauan jejak digital mahasiswa melalui akun Medsosnya. Menteri Ristekdikti Prof Mohamad Nasir mengatakan bahwa ia nantinya akan bekerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan juga Badan Intelejen Negara (BIN) dalam melakukan pendataan.

“Paparan radikalisme saat ini banyak berasal dari media sosial,” ungkapnya.

Senada dengan hal tersebut Wakil Rektor III bidang Kemahasiswaan Prof Aisyah Kara mengatakan, tidak perlu takut dengan wacana Menristekdikti, namun idealnya pihak terkait melakukan penelitian mendalam mengenai isu radikalisme dan terorisme di kampus.

“Bangun hubungan biasa saja antara seluruh elemen kampus dan saling mengingatkan untuk kebaikan dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI),” ujarnya.

 

Penulis : Muhammad Fahrul Iras

Editor : Anugrah Ramadhan

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*