“Berjudi Dengan Karya” Oleh Ahmad Al Qadri

Ilustrasi | Wawan Pawakkang

Lagi- lagi dewa Fortuna tak memihakku.

Seperti biasa ia memalingkan wajahnya ke arah cahaya yang nampak lebih menarik yakni uang, tahta dan wanita.

Tapi, nampaknya karya tak semiskin itu. Ia berbeda dimensi dengan makhluk bumi.

Karena karya adalah makhluk langit yang dititipkan oleh Tuhan dengan diberikan kelebihan yakni keabadian.

Jadi wajar jika aku mencintaimu bukan karena wajah, tubuh, dan semua materimu yang kering.

Tapi, aku mencintai dirimu karena kau berkarya.

Dan, dari kanan ku dengar teriakan kegembiraan dari sanak saudaraku karena karyanya yang abadi menyentuh langit publikasian.

Ahh, aku tak cemburu.

Mungkin redaksi kataku kurang hidup. Ataukah kata dari sanak saudaraku yang memang sedang melangit.

Dengan jiwa yang hampa.

Kembali ku mainkan koin perjudian ku. Ku lempar lebih tinggi dan semoga publikasian berpihak padaku.

Tapi satu yang harus kau tau.

Karya tak tergantung pada publikasian. Karena sifat dia adalah melebur pada keabadian.

 

*Penulis merupakan mahasiswa jurusan Jurnalistik Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) semester II

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*