Renovasi Gedung Ma’had Ali Potensi Dikomersialisasi

Gedung Ma'had Ali

Washilah – Mahasiswa yang tinggal di asrama Ma’had Ali dan tergabung dalam kelas khusus untuk penghafal alquran dan hadis UIN Alauddin Makassar akan dipindahkan sementara waktu. Pasalnya, asrama yang mereka tinggali akan direnovasi. Hal itu diungkapkan oleh Dekan Fakultas Ushuluddin, Filsafat dan Ilmu Politik (FUFP) Prof Natsir Siola. Sabtu (26/05/2018)

Prof Natsir mengatakan, wacana peremajaan Ma’had Ali disampaikan langsung oleh Wakil Rektor II dan Kepala Biro Administrasi Umum, Perencanaan dan Keuangan (AUPK). Ia mengatakan, gedung yang terletak di belakang Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) itu terlihat kumuh sehingga perlu peremajaan.

“Saya diberitahu WR II dan kepala Biro bahwa gedung itu akan diperbaiki karena sudah sangat tua. Tapi saya dengar akan disewakan,” ujarnya.

Menanggapi hal itu, Jung M Farid mengaku tidak khawatir karena yang menempati asrama tersebut melalui seleksi khusus dan melakukan perjanjian diatas meterai bahwa tidak ada biaya sewa.

“Yang tinggal sekarang disini walaupun ada renovasi tidak akan membayar, mungkin yang akan masuk selanjutnya baru membayar. Karena kita ada perjanjiannya di surat bermeterai, tapi kalau itu dilanggar, urusannya dia dengan Tuhan,” tuturnya.

Walaupun wacana renovasi gedung Ma’had Ali telah disampaikan dengan dalih kampus diberi beban mencari dana untuk menanggulangi remunerasi dosen dan pegawai. Akan tetapi, Dekan FUFP tetap berusaha mencari solusi agar mahasiswa kelas khusus tetap diasramakan walaupun hingga saat ini belum mendapatkan titik terang dari pimpinan.

“Dana, untuk menanggulangi biaya remunerasi dosen dan pegawai salah satu diantaranya sewa asrama. Hanya kami akan tetap bertahan dan berusaha mencari solusi agar mahasiswa kelas khusus tetap diasramakan, tapi belum ada finalisasi dari rektor,” Jelasnya.

Lanjut ia mengatakan, beberapa tahun terakhir kelas khusus yang mendalami mata kuliah seperti kitab kuning dan hadis tidak lagi resmi dibiayai oleh negara. Akan tetapi, identitas kajian khusus yang dikenal masyarakat adalah tafsir hadis telah banyak menghasilkan alumni yang berkiprah menjadi Imam dan Mubalig yang tersebar di Indonesia khususnya di bagian Timur.

“Kami di Fakultas Ushuluddin berusaha mempertahankan status itu, meski tidak dibiayai resmi oleh negara, dengan fasilitas yang terbatas dan berlangsung sampai sekarang,” tegasnya.

 

Penulis : Muhammad Fahrul Rias

Editor : Desy Monoarfa

1 Komentar

  1. Maaf apa kaitannya dana asrama dengan remunerasi dosen, apakah dosen merasa ingin di gaji oleh mahasiswanya?
    Dosen itu di biayai negara, jika alasan dana asrama akan di bubarkan maka pimpinan universitas dan fakultas harus membuka bersatu menemukan solusi, bukan malah mengorbankan program khusus

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*