Mahasiswa UIN Jadi Wakil Makassar di Sunsilk Hijab Hunt

Nurwahidayanti Harda dan Yuliana Ibrahim, dua mahasiswa UIN Alauddin Makassar yang menjadi Wakil Makassar di Ajang Sunsilk Hijab Hunt 2018.

Washilah – Sunsilk Hijab Hunt adalah ajang pencarian bakat bagi para muslimah berhijab dan bertalenta yang diselenggarakan oleh detikcom sejak 2012. Setelah menggelar audisi di tujuh kota besar termasuk Makassar, terpilihlah dua finalis yang menjadi wakil, dan keduanya merupakan mahasiswa UIN Alauddin. Mereka adalah Yuliana Ibrahim dan Nurwahidayanti Harda.

Baik Yuliana maupun Nurwahidayanti, sama-sama dinobatkan menjadi grand finalis setelah menyingkirkan peserta lainnya.

Nana, sapaan akrab Yuliana merupakan mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK). Ia berhasil memikat hati dewan juri karena suaranya yang easy listening serta piawai memainkan gitar. Tahun 2018 adalah kali kedua baginya setelah gagal mengikuti ajang yang sama tahun 2016 silam.

“Saya pernah gagal karena salah lirik, dan itu membuat poin saya jatuh. Saat itu hanya sampai 20 besar,” ujarnya.

Nana juga mengaku sempat pesimis untuk bersaing, apalagi kalau bicara dunia modeling.

“Awalnya saya pesimis, peserta lain punya segudang bakat, bahkan diantara mereka ada yang telah bergabung dengan manajemen (model) khusus. Saya pribadi sangat baru untuk itu. Saya mengikuti ajang seperti ini agar bisa memotivasi seluruh muslimah bahwa berjilbab itu tidak membatasi bakat, tidak membatasi kita untuk berkarya,” jelasnya.

Nana sudah sejak kecil tertarik dengan dunia tarik suara. Untuk mengembangkannya, ia bergabung dengan Paduan Suara Mahasiswa UIN Alauddin Makassar.

“Bakat yang saya miliki tentu tidak lahir begitu saja tanpa latihan. Saya mengawalinya dengan menyanyi di warkop maupun kafe. Atau ikut lomba menyanyi, yang pasti, pengalaman tampil di depan umum saya peroleh” terangnya.

Selain nana, ada Nurwahidayanti Harda. Ia adalah mahasiswa Jurusan Imu Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI). Berbeda dengan Nana, Yanti sapaan akrabnya memikat hati juri melalui puisi teatrikal yang dibawakan dengan cara Angngaru.

“Juri menilai kemampuan yang saya miliki terbilang unik, mereka mengingatkan saya untuk mempertahankan karakter yang saya punya,” ujarnya.

Berbeda dengan Nana, Yanti telah bergabung dengan ihwal yang berhubungan dengan modeling sejak duduk di bangku SMA. Motivasinya ikut ajang tersebut untuk mengembalikan rasa cinta terhadap budaya, dan sebagau bukti bahwa muslimah juga harus berprestasi.

“Saya ingin membahagiakan orang tua, dan menumbuhkan kembali rasa cinta terhadap budaya di kalangan remaja. Salah satunya dengan memperkenalkan kembali Angngaru. Saya juga ingin membuktikan kepada anak muda bahwa hijab bukan penghalang untuk berprestasi, ” tutupnya.

Nana dan Yanti saat ini tengah mempersiapkan diri untuk tampil di Grand Final Sunsilk Hijab Hunt 2018 pada 03 Juni mendatang. Mereka akan bersaing dengan finalis dari Jakarta, Surabaya, Bandung, Palembang, Medan dan Yogyakarta.

Penulis: Farha

Editor: Desy Monoarfa

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*