Kritik dan Klarifikasi Atas Klarifikasi

Ach Faras Bukhari

Oleh : Ach Faras Bukhari

Tulisan ini mungkin akan sedikit panjang, semoga tidak membosankan, dan jangan biasakan berpendapat sebelum membacanya dengan utuh.

Saya mungkin tidak perlu memohon maaf pada pihak manapun disini karena ingin sedikit mengingatkan kembali rangkaian peristiwa yang saya kira lupa disampaikan dalam klarifikasi yang dibuat Dr H Abdul Wahab SE M Si

Mungkin saya juga akan menyelipkan kritik sedikit saja dari pembelaan yang didasari logika berpikirnya atas insiden yang terjadi saat pengurus Dema FEBI menggalang donasi untuk camaba yang nyaris gagal kuliah.

Pertama saya akan mengklarifikasi mengenai bahasa “ngotot meminta parkir.” Awalnya teman-teman memang meminta lahan parkir tapi sangat tidak ngotot, teman-teman justru dengan iktikad baik meminta izin kepada Wakil Dekan (WD) III dan kepada satuan pengamanan kampus untuk itu, kami juga menceritakan mulai dari tujuan, sampai penegasan dari kami bahwa tidak ada tarif tetap yang dibebankan pada setiap motor Calon Mahasiswa Baru (Camaba), jadi sukarela saja. Namun kami tidak mendapat izin, baik dari satpam maupun WD III.

Salah satu alasan satpam tidak memberi izin karena tidak ingin terjadi konflik horizontal dengan fakultas lain karena ingin meminta hal yang sama, sedangkan dari WD III dengan alasan menjaga nama baik kampus. Oke diterima!

Satu yang penting diketahui, WD III yang justru memberi saran agar melakukan metode lain, semisal les-lesan kepada pegawai dan dosen-dosen (ketimbang mengambil parkir). Kami memilih jalan itu, mau bagaimana lagi, waktu sudah sangat mepet.

Akhirnya kami memasuki setiap ruangan pegawai dan dosen yang sampai pada satu ruangan kami bertemu dengan pak wahab. Kami masuk, menyampaikan maksud dan tujuan kami datang, lalu sebelum kami selesai, ayahanda wahab langsung memotong dengan mengatakan “tidak ada menyumbang-menyumbang begitu,” yah meskipun satu dari tiga dosen yang berada diruangan tetap memberi selembar uang biru untuk kami. Haha lumayan lah, terima kasih pak WD III.

Setelah keluar dari ruangan, kami melihat sudah banyak Camaba yang menyelesaikan ujiannya dan bergegas untuk pulang. Tanpa pikir lama, kami lalu berinisiatif untuk meminta sumbangan sukarela dari mereka sambil menyampaikan tujuan kami.

Banyak yang berlalu tanpa peduli, meskipun tak sedikit juga yang berhenti, menyimak dan mendistribusikan sedikit ‘uang jajannya’.

Pak wahab lalu keluar dari ruangannya. kebetulan sangat dekat dari tempat kami mengumpulkan donasi. Ia mendekat, lalu menyuruh Camaba agar langsung pulang saja tanpa perlu menghiraukan kami. mungkin sekitar lima menit disana sampai kalimat yang menjadi persoalan itu terlontar tegas menghentak nurani kami. Semoga beliau sependapat dengan kronologi yang saya tulis.

Mengenai cara yang tidak elok

Mungkin banyak yang tidak tau (termasuk pak wahab), bahwa cara itu adalah cara terakhir yang kami lakukan.

Sebelumnya, kami sudah menghadap dengan pihak jurusan untuk berupaya merubah kategori Camaba yang menurut kami tidak tepat sasaran (meskipun tidak berhasil), kami juga sudah menjual takjil di jalan dan meminta donasi online lewat media sosial, lagipula waktu pembayaran sisa 24 jam lagi.

Yang membuat saya sedikit bingung adalah tambahan argumen “dengan berpakaian tidak sopan ketua dema menggunakan sarung dan sandal jepit dan sebagainya” yang seolah dijadikan pembenaran alasannya mengatakan cara yang kami lakukan itu tidak elok. Itu juga dijadikan pembenaran dirinya atas “solusi” sederhananya untuk si Camaba.

Oke, pertama yang ingin saya sampaikan, beliau pernah menjadikan kondisinya yang kebetulan sedang pusing sebagai penyebab kalimat itu terlontar, kalau ini menurut pengakuan salah seorang kawan yang sempat berdiskusi dengannya.

Faktanya, banyak mahasiswanya menyampaikan kepada saya bahwa pasca insiden itu, pada ruang-ruang perkuliahan beliau masih saja membahasnya dan tetap memberi “solusi” yang sama.

Kalau tidak punya uang yah jangan kuliah. Saya ulang. Kalau tidak punya uang yah jangan kuliah. Artinya apa? “solusi” itu tetap menjadi solusi yang tepat menurutnya dan terlontar atas pengetahuan dan kesadarannya, bukan karena ia sedang pusing apalagi karena pakaian ketua dema yang waktu itu menggunakan sarung dan sandal jepit (jadi tidak bisa dijadikan pembenaran).

Kedua, saya menganggap beliau berusaha mengaitkan antara estetika dan etika yang sependek pengetahuan saya jelas tidak bisa dikaitkan.

Tentu tidak ada hubungannya pakaian rapi dan perilaku yang baik seseorang, koruptor nyaris semuanya berpakaian rapi, meskipun tidak semua yang rapi juga koruptor. Apa karena ketua dema waktu itu memakai sarung dan sandal jepit lantas penggalangan donasinya kemudian dianggap sebagai tindakan yang salah? Atau tidak elok?

Kalau toh menurut pembaca iya, saya sangat menyayangkan saja karena beliau justru lebih antusias mempersoalkan sarung dan sandal jepit yang menurut saya sangat tidak substansial dibanding aksi menggalang donasi yang terjadi siang itu.

Seorang polisi tentu tidak akan mempermasalahkan segerombolan warga yang datang ke kantor polisi menggunakan jaket dan celana pendek (yang baik secara etika dan aturan tertulis dilarang masuk ke kantor polisi) untuk menyerahkan pelaku penjambretan. Substansinya ada pada penyerahan pelaku penjambretannya, analoginya kira-kira seperti itu.

Apalagi kalau beliau coba mengaitkannya untuk membenarkan kalimat kontroversial yang terlontar dari mulutnya, jelas tak ada kaitannya.

Saya tidak memaksa pembaca sekalian agar bersepakat dengan saya yang tidak sependapat dengan “solusi” yang diberikan oleh beliau, lumrah saja perbedaan pendapat. Tapi saya sangat senang apabila beliau dan pembaca yang juga tidak sependapat mau duduk mendiskusikan persoalan ini.

Semoga bisa menjadi ruang segar untuk bersama-sama berdiskusi, menilai dan mencari solusi yang tepat dalam menghadapi persoalan penerapan UKT/BKT di kampus peradaban yang sama-sama kita cintai.

Di akhir paragraf, saya berpendapat jika kamu seorang terpelajar tentu tidak akan berpikir kalau kritikan adalah cara orang menunjukkan sikap tidak hormatnya pada orang lain, termasuk pada gurunya.

Sebagaimana aristoteles dalam beberapa hal tidak sependapat dan mengkritik Plato, Sheikh Imran Hosein yang juga pernah mengkritik Dr Muhammad Fadlur Rahman Ansari, atau Dr Muhammad Fadlur Rahman Ansari sendiri yang pernah mengkritik gurunya sir Muhammad Iqbal.

*Penulis merupakan mahasiswa jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) semester VIII

1 Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*