Tidak Ada Yang Salah, Ini Hanya Soal Gaya Kepemimpinan Saja

Baqi Maulana Rizqi

Oleh: Baqi Maulana Rizqi

Washilah – Kontekstual kepemimpinan seseorang secara kuantitas dikatakan cukup banyak mulai dari definisi ahli dan penafsiran srampangan tanpa ada telaah lanjut yang juga terkesan tidak mencerminkan tangung jawab ilmiah atas fenomena kepemimpinan manusia yang ada. Tidak bisa disalahkan juga karena itupun bagian dari pengetahuan, sebab untuk menyusun ilmu pengetahuan tidak menafikan penggalan-penggalan pengetahuan biasa atau untuk memudahkan mengartikan pengetahuan kejadian, fenomena, peristiwa dan realitas yang secara empiris yang dapat dibuktikan. Itu sedikit penjabaran apa itu pengetahuan untuk lebih jelasnya, baiklah penulis paparkan disertakan juga referenasi untuk sekedar menguatkan argument penulis dalam menjelaskan apa itu pengetahuan.

Kalau kita inklusif terhadap dunia dan dinamika mahasiswa Indonesia tentunya kita dapati satu organisasi mahasiswa tertua di Indonesia, berdiri secara insidental setelah dua tahun Indonesia secara legal dimerdekakan. Tepatnya pada 1947 mahasiswa yang notabene berlatar belakang beragama islam membentuk suatu himpunan untuk mewadahi mahasiswa-mahasiswa muslim di Indonesia. Suatu kehormatan bagi keluarga besar Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dengan diangkatnya penggagas HMI sebagai tokoh Nasional Indonesia yakni Prof Lafra Phane mahasiswa gigih yang memiliki misi untuk agenda keumatan dan kebangsaan.

Singkat saja didalam tubuh organisasi HMI dalam perkembangan menunjukan kepribadiannya yang kental dengan keintelektualan serta konsisten dalam menjaga nilai-nilai islam dalam pola kaderisasi, tak heran jika mahasiswa-mahasiswa yang memiliki iktikad baik serta usaha yang kuat mampu memiliki kompetensi lebih yang diperoleh di HMI, bukan keniatan penulis untuk melebih-lebihkan organisasi mahasiswa ini, sebatas menuliskan hasil pengamatan dan diskusi yang sudah dilakukan.

Sebab tidak ada keinginan penulis untuk membujuk supaya masuk dalam HMI dengan tawaran-tawaran materi (duniawi), sebab penulis tahu kaderisasi HMI jauh lebih murni dari pada tawaran-tawaran pragmatis yang hanya akan menelorkan kader berwatak hendon dan menjadi benalu di organisasi HMI. Karena jelas siapa-siapa yang masuk HMI atas dasar kesadaran sehingga ini mengarah keberpihakannya dengan kemurnian dalam setiap aktivitas yang djalani serta tahu betul resiko serta manfaatnya.

Nilai Dasar Perjuangan (NDP) HMI sebagai teks acuan dalam kaderisasi menjadi suatu pengetuahan yang utuh, sehingga sampai dengan sekarang NDP masih konsisten dengan nilai yang ditawarkannya. Salah satu perumus NDP yakni H Endang Syaiffudin Anshari M A yang juga pernah aktif di HMI perlu diapresiasi untuk karya-karya yang sudah di hasilnya.

Merujuk pada Kuliah Al-Islam buku karya monumental H Endang Syaiffudin Anshari M A menjelaskan soal penegtahuan, kurang lebihnya seperti ini, pertama-tama janganlah kita kacaukan antara pengetahuan (pengentahuan biasa, knowledge) dengan ilmu penegtahuan (ilmu, pengetahuan ilmiah, science).

“Adapun pengetahuan itu”, kata Dr M J Langeveld, Guru Besar di Rijk Universiteit Utrecht, “kesatuan antara subjek yang mengetahui dan objek yang diketahui. Suatu kesatuan, dalam mana objek itu dipandang oleh sebagai dikenalinya.” (M J Langevled, menuju ke pemikiran filsafat, terjemahan G J Claessen Jakarta 1995 h 29). “pengetahuan yang demikian itu”, kata Prof I R Pujwiyatna, “diselidiki manusia, karena ia mempergunakan pengalaman yang diolahnya lebih lanjut, yang difikirkan orang, tidak semuanya pengalaman dan fikirannya sendiri, kerap kali juga mempergunakan pengalaman dan fikiran orang lain, pengetahuan yang tidak amat sadar, pun pengetahuan yang berlaku umum dan tetap, pasti dan yang terutama untuk keperluan sehari-hari itu lah yang kami namai pengetahuan biasa, atau dengan singkat, pengetahuan.” (I R Pujawiyatna, pembimbing ke arah alam filsafat, Jakarta, 1963, H 5).

Disini kita perlu dihindarkan suatu salah faham, kata Dr Mr D C aMulder. “ada orang yang berilmu menyangka berfikir yang sehari-hari itu merupakan fase yang pertama, fase yang primitif, fase yang naif saja. Makin lepas fikiran-fikiran yang sehari-hari itu diganti oleh fikiran yang bersifat ilmu pengetahuan makin baik”.

Tetapi disini tedapat suatu salah paham, befikir yang sehari-hari itu mempunyai harganya sendiri yang tidak boleh dianggap lebih rendah. Walaupun tinggi juga ilmu pengetahuan dari seorang ahli fikir, akan tetapi ahli fikir itu tetap dan senantiasa membutuhkan fikiran yang biasa atau yang sehari-hari itu. (D C Mulder, Iman dan ilmu pengetahuan, jakarta, 1961, h. 9).

Prof Dr Ashley Montague merumuskan “science is a systematized knowledge derived from observation, study, and experimentation carried on order to determine the nature or princples of what being studied” (Ashley montague, The Cultured Man, New York, 1959, h. 289). Ilmu pengetahuan ialah pengetahuan yang berasal dari pengamatan, studi dan pengalaman yang disusun dalam satu Sistema untuk menentukan hakikat dan prinsip tentang hal yang sedang dipelajari.

Jadi ilmu pengetahuan itu tidaklah lain daripada pengetahuan yang ilmiah, yaitu pengetahuan yang mempunyai sistem dan metode tertentu, yang dengan sangat sadar menuntut kebenaran. Dari pengetahuan ke ilmu pengetahuan itu mengalami dan melalui berbagai proses, pengumpulan data dan fakta, pengamatan, penggolongan, hipotesa, pengujian, perumusan teori, dan seterusnya. Baiklah kiranya itu untuk mejadi obat penawar kejumudan dengan harapan kita lebih mampu berfikir dengan jernih serta mengetahui perbedaan pengetahuann dan ilmu pengetahuan yang suguhkan oleh kanda H Endang Syaiffudin Anshari dalam karyanya yakni buku Kuliah Al-Islam.

Dilanjut dengan tema sederhana diatas terkait “tidak ada yang salah, ini hanya soal gaya kepemimpinan saja,” maksud yang menjadi motif penulis sampaikan adalah untuk lebih dapat arif dalam melalui fase-fase tahun politik di tahun 2018-2019, soal kubu-kubu kandidat yang akan memangku kekuasaan untuk satu periode tidak bisa dihindarkan memang, Menurut penulis ini murni dan alamiah sehingga secara tidak langsung akan memiliki bentuk kubu-kubu untuk pemenangan atau sekedar partisipasi degelan.

Namun ketegangan-ketegannya dilapangan juga tidak bisa dihindarkan, soal kericuhan, ejek-mengejek dan saling menghina. Fenomena seperti akan ada dan hanya sebatas momentum. Maksud dari kata tidak ada yang salah maksunya soal kubu-kubu dan kebanggaan kandidat sesuai harapan tidak bisa dihindarkan sebabnya realitas menawakan itu, dan penulis katakan ini alami. Dan kata ini hanya soal gaya kepemimpinan saja maksudnya adalah setiap manusia memiliki karakteristik tersendiri sebab asal-muasal, lingkungan, budaya serta sosial yang berbeda sangat mempengaruhi watak kepemimpian manusia. Jadi soal suka tidak suka jangan sampai di jadikan landasan dalam menilain kepemimpinan, sebab yang lebih rasional dan logis kalau tidak sepakat dengan kepemimpian yang ada maka mencalonkan diri lebih logis daripada sekedar menyalahkan kepemimpian yang sedang berlangsung.

Akhir kata dari penulis tidak bosan-bosannya untuk mengajak menjernihkan realitas dan cerdas dalam berdemokrasi. Sehingga mampu mengetahui mana pengetahuan dan ilmu pengetahuan, mana kebenaran mana pembenaran.
Salam Tadzim.

*Penulis merupakan pengurus Himpinan Mahasiswa Islam (HMI) cabang Tegal

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*