Surat Cinta Untuk Kaum Muda Intelektual Forkeis

Ach Faras Bukhari

Oleh : Ach Faras Bukhari

Organisasi adalah salah satu wadah alternatif untuk memperkaya ilmu pengetahuan, menambah jejaring pertemanan, juga sebagai alat perjuangan. Saya percaya bahwa tidak ada organisasi yang buruk selama organisasinya tidak mengajarkan keburukan. 

Seringkali kita terjebak dalam satu kecelakaan berpikir yang oleh istilah kang Jalal disebut sebagai Over Generalitation (baca Jalaluddin Rakhmat : rekayasa sosial). Tidak jarang organisasi menjadi korban dari perilaku oknum atau kader organisasinya sendiri, biasanya dalam perbuatan-perbuatan yang sebenarnya personal (lalu dikaitkan dengan organisasi yang ia miliki). Yang lebih parah jika itu justru karena ketidakpahaman kader terhadap organisasinya sendiri.

Forkeis sebagai forum mahasiswa yang bernuansa ilmiah dan profesional dengan dakwah ekonomi syariah yang “katanya” berada di bawah naungan UIN Alauddin Makassar, adalah satu dari banyak organisasi yang tentunya ada dan tumbuh di dalam lingkungan kampus. Saya cuma ingin mengajukan pertanyaan yang sudah berulang kali kusodorkan pada kader Forkeis, juga ke pimpinan fakultas bahkan ke pimpinan universitas. Apa benar Forkeis adalah organisasi yang secara resmi diakui berada di bawah naungan UIN Alauddin Makassar?

Ternyata saya mendapat jawaban yang justru kian membingungkan saya. Pimpinan universitas dengan gamblang dan seolah tanpa beban apa pun mengatakan bahwa Forkeis tidak berada di bawah naungan UIN Alauddin Makassar. Dalam kata lain, Forkeis tidak termasuk organisasi intra yang diakui. Loh, landasannya apa? Ya, karena organisasi yang diakui secara resmi berada di bawah naungan universitas itu cuma UKM, Dema atau pun Sema.

Sementara Forkeis bukanlah UKM, meski pun pernah ada upaya memperjuangkan Forkeis untuk terdaftar sebagai salah satu UKM universitas (ini dari pengakuan pimpinan). Tak apalah, itu bagian dari perjuangan yang nyata.

Begitu pun dari hasil rapat koordinasi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) yang dihadiri oleh seluruh elemen fakultas termasuk salah satu dewan pembina Forkeis yang kebetulan juga pejabat fakultas, pada tanggal 28 maret 2018 di Aula Gedung FEBI.

Saya sempat mempertanyakan mengenai status Forkeis setelah pimpinan membanggakan seraya mengultuskan organisasi ini karena baru saja memenangkan sebuah ajang perlombaan di Palopo (ini mungkin sebuah kekeliruan yang tak disengaja, harusnya yang dibanggakan mahasiswa FEBI yang kebetulan adalah kader Forkeis, bukan malah sebaliknya).

Pimpinan fakultas pun mengakui bahwa Forkeis memang tidak berada di bawah naungan universitas apalagi fakultas, meskipun beliau sempat mengimbau agar Forkeis yang tidak mendapat pengakuan dari “atas” ini kita akui saja dari “bawah” karena sederet prestasi Forkeis, mungkin.

Jika itu adalah soal apresiasi, maka tak ada alasan untuk tidak mengapresiasi sebuah prestasi. Namun, saya lagi-lagi melihat satu kerancuan. Jika pun Forkeis berprestasi, apa kaitannya dengan fakultas dan universitas? Apakah itu sejenis kemitraan atau relasi dalam bentuk lain? Apakah dengan mengklaim universitas dan fakultas, Forkeis terakui berada di bawah naungan kampus? Dan, timbal baliknya adalah dicantumkannya logo universitas dalam tata administrasi maupun dalam publikasi-publikasi organisasi hingga pada akhirnya dapat “dianggap” mengharumkan nama kampus? Kan yang keliru justru perihal itu.

Kalau memang pimpinan universitas dan fakultas mengatakan Forkeis tidak berada di bawah naungan kampus, ya sepatutnya menyampaikan kepada orang yang berwenang dalam organisasi tersebut agar tidak lagi mencantumkan logo kampus dalam administrasi dan publikasinya. Setidaknya hal tersebut dapat meminimalisir kesalahpahaman kita.

Jangan bersikap abu-abu. Dengan tidak mengakui status Forkeis tapi malah senang kalau Forkeis menjuarai lomba-lomba yang dianggapnya memberi sumbangan moril buat kampus, maka kesannya kian terlihat aneh. Kasihan bagi kawan-kawan Forkeis harus jalan dengan status yang tidak jelas, kampus mah enak tinggal bilang “jalanin aja dulu yah, nanti kamu juga senang” (bercanda ojo tegang). Buat kawan-kawan Forkeis sebaiknya mengambil sikap yang jelas, jangan mau diajak jalan tanpa status yang jelas! Awas pi eitch pi (PHP) itu nyata!

Kembali serius! Kenapa saya harus mempertanyakan itu? Mengapa itu begitu penting?

Saya khawatir saja, akan semakin banyak organisasi yang cuma dijadikan “alat” untuk kepentingan segelintir orang saja. Terkhusus Forkeis, saya masih ingat beberapa kejadian lampau yang seharusnya membuat kita sama-sama bingung. Misalnya, Forkeis sempat dianjurkan atau malah dipaksa mengelola kegiatan LKM (Latihan Kepemimpinan Mahasiswa) sebuah jurusan baru waktu itu (pengakuan kadernya yah) yang sama sekali secara administrasi tak punya relevansi.

Kemudian, beberapa kegiatan seminar yang diselenggarakan memaksa perkuliahan di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam diliburkan — ini hebat, lembaga intra yang statusnya jelas sebagai organ intra resmi saja sangat sulit melakukannya. Ini kan aneh, kalau toh Forkeis juga mendapat keuntungan moril maupun materil dari itu semua, mungkin itu baik, sayangnya itu tidak benar.

Konsekuensinya apa? Forkeis sebagai organisasi kemudian akan dicap sebagai organisasi ekstra kampus yang coba masuk menjadi organisasi intra kampus dengan cara-cara yang tak lazim? Kenapa? Sebab dengan tanpa sadar atau mungkin atas kesadaran beberapa orang hebat yang punya kepentingan di sana, akan merampas hak-hak lembaga intra yang ada di kampus.

Cukup buruk sepertinya apabila kemudian persoalan ini dibiarkan mengambang. Mulailah move on dari bayang-bayang UIN Alauddin Makassar, tanggalkan logo kampus dari persuratan dan dari seluruh publikasi Forkeis. Kawan-kawan ini hebat, kalian lembaga ekstra kampus yang hebat, kalian akan baik-baik saja tanpanya. Berdikarilah!

Terakhir! Buat kader Forkeis Jalaludin Rumi pernah bilang “tak ada teguran untuk orang asing,” jika kalian menganggap ini kritikan tak apa, tapi jangan mengira ini bentuk ketidakhormatanku. Saya sangat hormat untuk orang yang pandai menghormati. Ini adalah bentuk cintaku pada teman-teman, pada organisasi yang kuharap-harap akan mengembangkan riset dan pengetahuan terutama mengenai ekonomi Islam progresif.

Baca ulanglah, lihatlah tak ada cemoohan di paragraf-paragraf sebelumnya. Lewat sini, kita akan banyak belajar. Tetap istiqomah dalam perjuangan kalian. Siapa yang tahu esok hari kita bertemu di garis yang sama. Tuhan selalu punya cara yang lucu untuk mempertemukan ragam pemikiran, hati dan ideologi.

*Penulis Merupakan Mahasiswa Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) Semester VIII

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*