Catatan Kecil Puisi “Ibu Indonesia”

Prof Ahmad M Sewang

Oleh : Prof Ahmad M Sewang

Washilah – Kepenyairan membutuhkan persyaratan utama, yaitu kecerdasan. Tidak mungkin bisa menghasilkan sebuah puisi yang fresh tanpa diiringi pengetahuan tentang yang akan diekspresikan melalui susunan kata puitik. Dari puisi, seseorang bisa mengenal keluasan pikir dan kedalaman rasa sang penyair. Sang penyair pun dituntut memiliki kemampuan mendeteksi denyut jantung masyarakatnya untuk nanti diekspresikan lewat puisinya. Puisi sesungguhnya sebagai pantulan dari masyarakatnya. Masyarakat kita adalah masyarakat berbhinneka, maka yang diperlukan adalah ekspresi untuk lebih memelihara kohesi kebhinnekaan dan saling menghargai perbedaan. Justru bukan sebaliknya, ekspresi puisi dinilai eksklusif, yang bisa memecah belah persatuan dan menafikan keanekaragaman.

Apakah simbol-simbol agama tidak bisa diketengahkan ke dalam dunia
kepenyairan? Justru sejak awal perkembangan sastra Melayu sebagai asal muasal sastra Indonesia, simbol keagamaan sudah memiliki peran utama. Hamzah Pansuri, Ali Haji, sampai zaman kini Emha Ainun Najib simbol agama ikut memberi pengayaan sastra Indonesia.

Catatan Khusus Puisi “Ibu Indonesia” oleh Sukmawati Sukarno Putri:
Sukmawati berangkat dari ketidaktahuan, yang kemudian dipaksakan untuk diekspresikan, seperti diakuinya sendiri dalam bait pertama yang
dibuatnya, “Aku tak tahu syariat Islam/sari konde ibu Indonesia sangatlah indah/Lebih cantik dari cadar dirimu.

Puisi Sukmawati tidak menggunakan metafora tetapi perbandingan bukan apel to apel, seperti pada bait berikutnya: Aku tak tahu syariat Islam yang kutahu suara kidung Ibu Indonesia, sangatlah elok lebih merdu dari alunan azan mu.

Ketidaktahuan yang dipaksakan menyebabkan timbulnya kontroversi yang tidak perlu di tengah bangsa yang sedang menghadapi persoalan yang semakin berat. Sekali pun demikian pada sisi lain, Sukmawati patut diajukan jempol karena ia berani mengakui kejujurannya bahwa ia tidak tahu syariat Islam. Tetapi, keberanian saja sangat tidak memadai dalam mengekspresikan perasaan di muka umum. Keberanian harus diiringi pengetahuan, tanpa pengetahuan yang dalam, maka yang terjadi adalah kontroversi yang justru bisa merenggangkan kohesi kebangsaan yang bisa menjadi bibit perpecahan.

Konten puisi adalah jiwa seorang penyair jika kita memahami puisi sebagai ekspresi jiwa seorang penyair, sekaligus orang dapat mengatakan, “Itulah jiwa Sukmawati.”

*Penulis Merupakan Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin makassar

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*