Politisi dan Peran Media: Sebuah Harapan yang Akan Teraktualisasi

Aslang Jaya | Dok. Pribadi

Oleh: Aslang Jaya

Kontestasi dan pertarungan politik telah di depan mata, berbagai upaya dan cara telah di lakukan oleh para politisi, mulai dari memanfaatkan momentum yang terjadi dalam masyarakat sebagai upaya untuk meraih simpati dan simpatisan rakyat dari berbagai lini kehidupan berbangsa dan bernegara.

Untuk meraih simpati masyarakat, pastinya para politisi ini tak lupa memanfaatkan apa saja yang memiliki peran penting dalam masyarakat. Contoh kecilnya ialah memanfaatkan media lokal maupun nasional untuk meneguhkan eksistensinya bahwa ia adalah calon pemimpin yang layak untuk masyarakat. Karena peran media disini sebagai representasi apa yang ingin di sampaikan oleh para calon-calon pemimpin atau para politisi tersebut.

Peran media menjelang pesta demokrasi atau pertarungan politik sangatlah penting karena bersinergi mampu mengangkat kehormatan seorang calon pemimpin yang (maaf) boleh di bilang di dukungnya. Media disini mampu berafiliasi sesuai tuntutan situasi dan kondisi ataupun fenomena yang terjadi dalam masyarakat. Peran media pastinya begitu strategis untuk di eksploitasi oleh para politikus, apalagi sekarang kita telah memasuki era millenial, era yang bisa dibilang semua serba praktis. Contohnya ialah mencari informasi cukup dengan memainkan jemari di atas layar ponsel pintar.

Tak tanggung-tanggung pastinya para politikus atau para pendukung dari calon pemimpin ini mampu menyediakan budget yang cukup untuk membayar media agar kehormatan dan eksistensinya di jaga, dan pastinya tak lupa juga mengupayakan agar lawan calon di pertarungan politiknya pun di serang lewat media. Saya teringat pesan salah satu tokoh politik yang mengatakan bahwa memang benar pendapat tergantung berapa pendapatan.

Sungguh ironi jika melihat situasi dan kondisi sekarang, media yang seharusnya memegang teguh independensi untuk menyampaikan informasi-informasi kredibel kepada masyarakat dengan tidak menjatuhkan harkat dan martabat lawan calon politik dengan cara yang halus.

Tetapi inilah realita atau fakta lapangan yang harus di terima jika berhadapan dengan pertarungan politik, mungkin para politisi kita beraliran paham yang di cetuskan oleh Machiavelli atau disebut sebagai “Machiavellisme” yang melakukan berbagai macam cara agar meraih kursi kekuasaan.

Tetapi apakah kita harus larut dan menerimanya begitu saja? Tentunya tidak, sebab yang kita butuhkan dari calon pemimpin kita nanti ialah seorang negarawan yang memiliki pemikiran jangka panjang untuk kemakmuran dan kesejahteraan rakyatnya, bukan seorang politisi yang hanya memikirkan bagaimana cara menarik simpati masyarakat yang berpikir jangka pendek karena hanya menginginkan kursi kekuasaan.

“Pemimpin yang hanya menginginkan kursi kekuasaan, tak jauh beda dengan pemimpin yang menimbun kekayaan dan ujung-ujungnya uang rakyat digilas habis olehnya” mungkin itulah penggalan kalimat yang cocok untuk para calon pemimpin yang berpikiran jangka pendek, yang pasti ujung-ujungnya korup. Apakah kita harus membiarkan periku korupsi sering terjadi di negeri tercinta kita ini? tentunya tidak. Lihatlah betapa media elektronik ataupun cetak sering menampilkan para tokoh-tokoh politik yang terlibat kasus korupsi yang di tangani oleh lembaga KPK, tidak jenuh kah kita melihat itu semua?

Sebuah Harapan

Sebentar lagi kita akan memasuki pesta demokrasi sekaligus dimensi pertarungan politik tahun 2018 dan 2019. Kita akan memilih siapa yang berhak menjadi seorang pemimpin dan kelak akan mensejahterakan dan memakmurkan rakyatnya. Sebab pemimpin ialah representasi dari apa yang di inginkan oleh rakyatnya. Bukan seorang pemimpin yang hanya memikirkan egosentris diri karena hanya menginginkan kursi kekuasaan.

Masyarakat sekarang tentunya telah cerdas secara intelektual bahkan spritual, karena pastinya dapat memilah kemudian memilih siapa yang berhak menjabat dan duduk di kursi kekuasaan atau menjadi pemimpinnya. Dan harapan saya sendiri, peran media disini sebagai penyebar informasi yang kredibel karena berdasar atas fakta di lapangan, dapat menganulir mana yang baik di tampilkan ke publik dan mana yang tidak, serta tak memberikan kesan bahwa media tersebut mendukung satu pihak atau sebutan hukumnya ialah bersifat tendensius.

Marilah kita mengawal proses kontestasi politik di negara demokrasi ini agar yang diinginkan seperti kesejahteraan bersama dapat terpenuhi dan meminimalisir yang namanya pemikiran politik jangka pendek karena pemimpinnya hanya menginginkan kursi kekuasaan sebagai peneguh eksistensi diri. Semoga hal tersebut dapat tercapai. Sebab pemimpin yang layak ialah pemimpin yang memiliki hati nurani kerakyatan dan tahu apa yang diinginkan rakyatnya. Bukan pemimpin yang berpikiran jangka pendek yang memikirkan bagaimana upaya agar dapat menjabat di kursi kekuasaan yang merakyat pada masa kampanye.

*Penulis merupakan Mahasiswa Jurusan Hukum Pidana dan Ketatanegaraan

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*