Lulus Kuliah Bukan Akhir Segalanya

Dwi Surti Junida

Washilah – Hai sobat sebagai mahasiswa tentu kita memiliki tujuan dari perjuangan kita selama mengenyam pendidikan di kampus. Yah minimalah kita mampu mendapatkan gelar D1, D3, D4 atau pun S1, apalagi jika orangtua berharap banyak pada kita. Pada dasarnya mereka tidak berharap banyak kok cukup anak-anaknya mampu membanggakan orang tua dengan lulus kuliah lalu menjadi sarjana. Sekalipun sebenarnya, bahkan seharusnya sih, orangtua tidak berniat seperti ini, idealnya tiap orang tua menganggap pendidikan adalah bekal penting dalam membentuk karakter untuk menjadi manusia yang lebih baik dimasa mendatang. Menggali banyak hal dalam pendidikan formal di intitusi pendidikan seperti kampus akan menambah banyak ilmu dan pengalaman yang sangat berharga bagi anak-anak demi menghadapi tantangan hidup diluar sana.

Kenyataanya banyak ditemukan orangtua yang menganggap anak mereka harus selesai kuliah dengan nilai yang baik dan tepat waktu. Sehingga sebagian anak-anak mereka mungkin merasa tertekan karena desakan orang tua. Faktor yang utama menurut hemat saya dilatarbelakangi oleh rasa malu orang tua karena anaknya tidak sarjana (apalagi status orangn tua bergelar tinggi seperti karaeng istilah lokal di Makassar) sehingga mengupayakan anak-anaknya untuk kuliah. Selain itu, orang tua berupaya semaksimal mungkin meminjam sejumlah uang.

Soft skill, Perguruan Tinggi dan Orangtua

Soft Skill adalah pengembangan dari konsep yang selama ini dikenal dengan istilah kecerdasan emosional dan kemampuan diluar kemampuan teknis dan akademis yang lebih mengutamakan kemampuan intra dan interpersonal. Hal ini sering dijadikan bahan utama dalam pembahasan parenting dalam dunia anak. Tak terkecuali dalam lembaga formal di perguruan tinggi.

Menurut saya, para lulusan di perguruan tinggi harus dibekali dengan kemampuan skill yang menjadi modal besar untuk menuju dunia yang sesungguhnya yaitu dunia kerja. Skill yang dipegang tidak perlu banyak, saya pernah melihat dan menyaksikan banyak teman yang memiliki pengalaman yang dapat dijadikan contoh setelah mereka kuliah, bahkan mereka sudah mengasah skill mereka sejak mereka mengenyam bangku kuliah seperti berwirausaha.

Perguruan tinggi memegang peran penting dalam membekali seseorang ke jenjang profesional dengan hard skill. Namun bukan hanya itu yang penting. Saat isu “kecerdasan emosional” mengemuka, diketahui bahwa IQ (kecerdasan intelektual) tinggi hanya menyumbang 20% pada kesuksesan kondisi masa depan, 80%-nya ditentukan oleh kecerdasan emosional menurut Kanda Mugniar, seorang alumnus Elektro Unhas 1997 dalam tulisannya yang menarik sekali bagi saya yang telah memenangkan artikel di ultah unhas ke-60 tahun. Perguruan tinggi memegang peran penting dalam membekali seseorang ke jenjang profesional dengan hard skill. Namun bukan hanya itu yang penting. Saat isu “kecerdasan emosional” mengemuka, diketahui bahwa IQ (kecerdasan intelektual) tinggi hanya menyumbang 20% pada kesuksesan kondisi masa depan, 80%-nya ditentukan oleh kecerdasan emosional menurut Kanda Mugniar, seorang alumnus Elektro Unhas 1997 dalam tulisannya yang menarik sekali bagi saya yang telah memenangkan artikel di ultah unhas ke-60 tahun.

Menurutnya kalau perguruan tinggi memberi bekal hard skill maka bekal lain yang harus dipunyai seseorang yang ingin sukses adalah soft skill yang mumpuni. Kecerdasan emosional ini tercakup dalam soft skill. Soft skill lebih banyak dipelajari seseorang di luar bangku kuliah. Contohnya, seperti mahasiswa jurusan Komunikasi mendapatkan mata kuliah Pengantar Ilmu Komunikasi. Namun bagaimana dengan mahasiswa fakultas Teknik, FKM, dan fakultas Kedokteran? Untuk piawai dalam berkomunikasi, mereka harus mempelajarinya di luar bangku kuliah. Siapa pun yang meraih gelar sarjana, lantas mencari pekerjaan, dan berkarier tentunya memimpikan kariernya naik terus. Tidak ada yang selamanya menginginkan menjadi bawahan. Maka, mau tak mau ia harus belajar menjadi pemimpin dengan memiliki kemampuan lebih dalam berkomunikasi!, tegasnya.

So, buat kalian sobat mahasiswa jangan takut kalah sebelum berperang. Lulus kuliah adalah awal bagi kita untuk menuju dunia sesungguhnya. Melalui segudang pengalaman kita saat kuliah mengajarkan kita lebih mawas diri menghadapi dunia kerja. Kita jangan sampai merasa terbebani dengan keinginan orang tua, bukankah kita juga ingin membahagiakan mereka dengan menjadi Sarjana yang produktif. Nah mulai dari sekarang, kalian harus menjadi mahasiswa cerdas, cerdas tidak hanya sekedar berprestasi akademikal saja, melainkan berprestasi secara moral, unggul dalam skill kalian dan mampu bersaing sehat di dunia kerja. Tentu ini juga merupakan peran orang tua dan perguruan tinggi dimana kalian menimbah ilmu. Sekian, semoga bermanfaat.

*Penulis merupakan Dosen Luar Biasa Jurusan Ilmu Aqidah, Fakultas Ushuluddin, Filsafat dan Ilmu Politik, UIN Alauddin Makassar

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*